
Kebahagiaan rumah tangga tercipta dimulai saat kita memilih pasangan. Hidup hanya sekali, sementara menikah untuk jangka panjang. Bertahan dengan orang yang salah seumur hidup itu terlalu lama untuk dijalani. Sebab, terkadang berumah tangga membuat kita mengadopsi kebiasaan yang dilakukan pasangan.
Setelah menikah, tanpa sadar Karen telah mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan Darren, seperti bangun lebih awal dan mulai menjalani aktivitas di pagi buta. Di awal kehamilannya, belum terlalu banyak drama yang dihadapinya selain perubahan Darren dan Oma Belle yang mendadak sangat protektif padanya.
Waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi. Di pekarangan samping rumah, Karen mendatangi Oma Belle yang sedang sibuk menyiram koleksi tanaman hiasnya. Rupanya perempuan yang tengah mengandung itu hendak berpamitan pergi ke kampus. Oma Belle malah fokus ke wajah Karen yang pucat tanpa polesan makeup seperti biasa.
"Tumben wajah kamu kusam kek gini? Walaupun lagi hamil, ya ... jangan juga jadi malas dandan dan perawatan. Lelaki itu butuh dipuaskan mata mereka biar gak jelalatan di luar. Apalagi suami kamu itu seharian ada di kampus, ketemu sama cewek-cewek muda. Lihat, sudah setua ini Oma masih selalu tampil fresh dan cantik. Makanya rumah tangga Oma dan kakek bisa langgeng kayak gini." Oma Belle malah memuji dirinya sendiri.
"Bukannya Rumah Tangga Oma langgeng, karena kakek sabar banget, ya, hadapi Oma?" kilah Karen. Sayangnya, kalimat ini hanya berani diucapkan dalam hati.
"Oma, justru mas Darren kok yang larang aku makeup-an sama skincare-an selama masa kehamilan. Katanya beberapa kosmetik dan skincare rata-rata mengandung bahan aktif yang membahayakan perkembangan janin seperti Paraben, retinoid, hidrokuinon, salicylid acid dan lain lain. Aku sih cuma nurutin dia aja."
"Loh, emang produk kosmetik buatan kita punya kandungan kayak gitu juga, ya?"
"Ya, iyalah, Oma. Beberapa produk Belleria punya kandungan retinoid dan bahan aktif lainnya yang sebenarnya aman-aman aja, tapi untuk orang hamil dan menyusui kan gak disaranin," jelas Karen yang kemudian menyalimi tangan Oma Belle sebelum pergi ke kampus.
Setelah Karen pergi, Oma Belle bergegas masuk ke dalam rumah dan buru-buru menghampiri kakek Aswono.
"Mas ... Mas ... aku punya ide untuk produk terbaru kita!"
"Apa itu?" tanya kakek sambil menyeruput kopi dengan tenang.
"Kita buat skincare dan kosmetik khusus ibu hamil dan menyusui."
"Loh bedanya apa sama yang kita keluarin?"
"Kalo untuk ibu hamil dan menyusui harus memakai bahan yang alami dan aman. Ini juga biar cucu mantu kita bisa pakai juga."
"Ya, sudah, nanti tinggal kasih tahu Chalvin!"
__ADS_1
Di kampus, Karen dan Vera yang baru saja keluar kelas, berjalan menuju ruang dosen untuk mengantar tugas pada salah satu dosen. Mereka baru saja berpisah dengan Nadya yang langsung menuju coffee shop-nya. Begitu memasuki ruang dosen, tatapan Karen langsung tertuju ke meja kerja suaminya. Sayangnya, meja itu dikerumuni mahasiswa bimbingan yang tengah melakukan konsultasi skripsi sehingga ia tak dapat melihat wajah suaminya. Padahal, niat utama datang ke sini hanya untuk melihat pria itu. Namun kini, ia harus melihat dengan jelas betapa para seniornya itu berebut perhatian Darren.
Baru saja hendak keluar dari ruang dosen, tiba-tiba suara Darren menghentikan langkahnya.
"Karen!"
Karen terkesiap karena ini pertama kalinya suaminya memanggilnya di tempat umum dalam suasana yang ramai pula.
"Ya, Pak!" sahut Karen berusaha bersikap formal.
"Bisa minta tolong bawain ini ke ruang penelitian saya, enggak!"
"Saya saja, Pak!" tawar salah satu mahasiswa bimbingannya sambil hendak mengambil buku-buku itu.
"Enggak usah, Karen saja!" tolak Darren seraya menyerahkan buku-buku itu pada Karen, "ini kunci ruangannya, habis itu kunci lagi, ya!"
"Kalian berdua pasangan aneh, tahu enggak! Kok bisa tahan jalani hubungan diam-diam kek gini? Kadang-kadang, aku masih gak percaya kalo kamu beneran istrinya pak Darren," cetus Vera tak habis pikir setelah melihat komunikasi Karen dan Darren yang begitu formal.
Karen hanya bisa tertawa masam mendengar komentar Vera yang begitu gemas dengan pernikahannya. Di waktu yang sama, Feril dan kawan-kawannya datang menghampirinya. Seperti biasa, raut wajah Karen sontak berubah karena kehadiran pria itu.
"Ren, lo pergi aja cepet sana! Biar nih rombongan pria nolep gua yang urus!" bisik Vera sambil mendorong Karen pergi.
"Kar, mau ke mana?" Feril yang hendak menyusul Karen, langsung dihadang oleh Vera. "Woi, bisa minggir gak lo?"
"Gak bisa!" jawab Vera yang terus menghalangi jalan pria itu. "Lagian kenapa sih lo getol banget ngejar-ngejar Karen?"
"Ya, waras dong kalo gua ngejar Karen, itu artinya gua masih normal. Yang salah itu kalo gua ngejar elo, berarti gua perlu periksa mata," sambar Feril kesal.
"Sapa juga yang mau dikejar lo!" balas Vera.
__ADS_1
"Eh, gini-gini gua mirip Taeyang!" ketus Feril.
"Taeyang listrik maksud lo!" sergah Vera.
"Jangan gitu. Gitu-gitu dia sering bolak-balik Indonesia-Korea via google maps tapi," bela Gimbal.
"Gua kasih tahu sama kalian, ya! Cewek-cewek yang dekat sama lu ... lu pada, auto religius," kata Vera lagi.
"Bagus, dong!" ucap kawan-kawan Feril.
"Iya, karena bakalan sering nyebut lihat kelakuan kalian yang absurd!" ketus Vera dengan kata-kata menohok seperti biasa.
"Lo kira kita-kita sebangsa setan dedemit apa?" Kawan-kawan Feril tak terima dengan ucapan Vera.
"Emang! Baru nyadar!" Dengan santai, Vera berlenggang meninggalkan mereka.
Sambil memandang Vera yang langsung pergi, Feril lantas berkata, "Itu mulut apa pisau, tajam bener!"
"Gak usah heran, Ril. Kaum hawa emang senjatanya ada di mulut mereka. Makanya kita gak pernah menang debat lawan mereka," sahut kawan-kawannya.
"Intinya Ngab, jadi cowok itu harus punya wibawa. Contoh simpelnya nih, ya, wi ... bawa mobil, wi ... bawa duit banyak. Wi ... bawa black card! Pokoknya wibawa versi cewek-cewek jaman now!" cerocos Jamet dengan gaya bijaknya.
"Valid sih ini!" Kawan lainnya malah turut membenarkan.
Di tengah perdebatan Vera dan Feril tadi, Karen malah sudah sampai di ruang penelitian suaminya. Ia membuka pintu dengan sebelah tangan yang membawa setumpuk buku. Begitu terbuka, ia masuk dan langsung meletakkan buku-buku itu di meja kerja suaminya. Saat hendak beranjak, pandangannya tertuju pada paket makanan rumahan komplit yang diletakkan di atas meja. Di atas kotak makanan tersebut, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan suaminya.
"Ini paket makan siang sehat dari bahan-bahan organik yang aku pesankan khusus buat kamu. Ini diracik langsung sama ahli gizi. Kalo kamu suka, entar aku bakal langganan tiap hari. Selamat makan, Bumilku sayang."
Membaca tulisan Darren di kertas kecil itu membuat Karen tersenyum haru. Ternyata tujuan suaminya menyuruhnya ke ruangan ini, karena telah menyiapkan hidangan makan siang khusus untuknya.
__ADS_1