
Pergantian hari begitu cepat terjadi, tak terasa pagi telah menyambut lembaran baru. Oma Belle terperanjat melihat Silvia yang sudah sibuk di dapur saat pagi buta. Ya, perempuan itu tengah mempersiapkan sarapan pagi keluarga Bratajaya.
"Duh, Nak Silvia kenapa harus repot-repot seperti ini."
"Gak papa kok, Oma. Aku dah terbiasa biasa masak sendiri."
"Nah, itu baru namanya perempuan yang siap bangun rumah tangga," puji Oma takjub.
Silvia tersenyum, lalu berkata, "Oh, iya, Oma, sekalian aku mau nganterin makanan ke apartemen Chalvin boleh, enggak? Ini kan weekend, dia pasti enggak ke mana-mana, kan?"
"Ide yang bagus! Kalo gitu Oma juga bakal ikut sama kamu."
Tampaknya Silvia mulai fokus untuk menarik perhatian Chalvin setelah orangtuanya mendesak agar pernikahan itu segera terlaksana. Ia hanya mencoba bersikap realistis dengan memilih mengejar Chalvin yang masih singgel meskipun hatinya bertaut pada Darren. Tak peduli Chalvin menolak perjodohan ini, selama mendapat dukungan penuh dari Oma Belle, maka ia akan terus maju.
Oma Belle mendekati suaminya seraya berkata, "Tuh, lihat Silvia, pagi-pagi buta udah masakin sarapan untuk kita semua. Perempuan sebaik dan seperhatian itu masih juga ditolak sama Chalvin."
"Biasanya yang terlalu baik emang sering ditolak dengan alasan 'kamu terlalu baik untuk aku'," kata kakek Aswono sambil tergelitik.
"Kenapa Chalvin gak bisa nurut kayak Darren, ya? Perasaan Darren dulu dijodohkan gak sesusah ini!" omel Oma Belle.
"Setiap anak terlahir sebagai pribadi. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda meskipun dididik oleh orangtua yang sama," balas kakek.
Wacana pernikahan Chalvin selalu saja mengundang perdebatan panas antara Oma Belle dan kakek Aswono layaknya debat capres. Apa yang dikatakan Oma Belle sama seperti rata-rata pemikiran orang Indonesia pada umumnya yang mematok pernikahan hanya karena faktor umur. Sementara kakek Aswono yang lebih demokratis justru memiliki pendapat tersendiri.
"Usia Chalvin itu udah kepala tiga. Mau nikah umur berapa dia? Mau nunggu sampai empat puluh tahun, gitu? Entar yang ada udah tua dan renta tapi anaknya masih kecil-kecil. Kalo udah renta, mana bisa temani anak dia sampai dewasa." Oma Belle malah berpikir jauh ke depan.
"Dek, di luar sana juga banyak orang yang punya anak usia muda, tapi meninggal tiba-tiba dan ninggalin anaknya yang masih kecil. Sementara ada juga yang bisa hidup bugar bersama anak cucunya sampai usia sembilan puluh tahun. Artinya apa? Menikah dan punya anak itu seharusnya bukan karena terdesak umur. Ada yang siap menikah di usia muda, ada yang udah matang tapi belum siap untuk menikah."
"Lah ... iya, kalo kayak Chalvin gitu, apa yang bikin dia belum siap? Finansial oke, pekerjaan oke, rumah, mobil, sampai warisan punya. Apanya yang belum siap?"
"Dia belum siap menjalani. Terus kita mau paksa gimana? Darren dulu waktu kamu atur perjodohannya kan dia memang sudah siap, karena sebelumnya dia berencana nikah sama mantannya. Pernikahan itu durasinya gak seringkas resepsinya. Sudahlah maksa-maksa dia lagi! Kalo dia nemu perempuan yang pas di hatinya, pasti keinginan menikah itu akan datang dengan sendirinya."
"Ngomong sama kamu ini bukannya bantu atasi masalah, malah bikin kepalaku mumet," ketus Oma kesal.
__ADS_1
"Ya, sudah, mending kamu ke pegadaian aja yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah. Jangan ke aku!" gurau kakek Aswono sambil terkikik.
Beberapa jam kemudian, Silvia mulai mengatur aneka sajian menu di atas meja. Oma Belle memerintahkan ART memanggil Darren dan Karen untuk sarapan bersama. Sementara kakek Aswono masih sibuk memberi makan burung dan ikan peliharaannya. Di waktu yang sama, Sheila yang berseragam sekolah tiba-tiba datang ke rumah itu.
"Halo, Oma," sapanya dengan riang.
"Sheila, tumben kamu ke sini!" Oma Belle malah mengendus tubuh Sheila.
"Oma ngapain sih?" tanya Sheila mengernyit.
"Mau nyium aroma kedatangan kamu. Kali aja bawa aroma pinjem duit!"
"Yee ... Oma, ngapain pinjem duit sama Oma. Nih, ayah suruh aku bawa oleh-oleh ini buat kakek sama Oma," balas Sheila seraya menyerahkan paper bag besar pada Oma Belle.
"Oh, ayah Barack dah pulang, ya?" Oma Belle tampak gembira mendapat oleh-oleh dari anak sulungnya.
Perhatian Sheila beralih pada Silvia. "Siapa tuh, Oma?" tanyanya.
"Oh, dia calon istrinya Chalvin."
"Emang kenapa?"
"Kak Chalvin kan sukanya cewek kayak kak Karen yang masih muda, cantik, dan imut. Yakin kak Chalvin mau sama dia? Apalagi kak Chalvin itu masih baby face loh masa disandingkan sama yang kek bude-bude gitu!" cetus Sheila dengan gaya yang ceplas-ceplos.
"Hus! Mulutmu itu dari dulu ga berubah, mengandung bara api neraka! Silvia cantik gitu kamu bilang kayak bude! Lagian, Chalvin itu seleranya wanita dewasa yang berkelas," bela Oma Belle dengan suara setengah berbisik agar tak didengar Silvia.
"Ini kan sesuai yang Sheila perhatiin selama tinggal di sini. Oma lupa, ya, bukannya dulu Sheila pernah kasih tahu kalo Sheila dengar sendiri kak Chalvin suka sama kak Karen. Sayangnya kak Karen dah jadi istrinya kak Darren. Jadi paling enggak, cariin yang muda seperti kak Karen dong! Kalo mau nunggu Sheila tamat sekolah juga boleh, kok!" Sheila mengedipkan mata berkali-kali seraya menarik senyum dengan lebar.
"Mana mau Chalvin sama cewek yang mulut lavender kayak kamu."
"Loh, kenapa Oma? Lavender harum dong!"
"Pikirin aja, lavender itu harum tapi bikin nyamuk mati! Ngomong ceplas ceplos gak pake rem gitu!"
__ADS_1
"Ya ... kali aja tuh cewek beneran nyamuk di rumah ini. Uppss ...." Sheila menutup mulutnya. Ia masih saja seperti dulu, membuat Oma Belle kesal.
Ucapan Sheila yang terlalu blak-blakan rupanya menembus telinga Silvia. Apalagi Sheila juga mengatakan perihal Chalvin yang sempat menyukai Karen. Ya, memang Silvia bukanlah gadis muda seperti Karen. Dia adalah wanita dewasa yang berada di usia siap menikah.
Mengetahui Chalvin sempat memiliki perasaan pada Karen tentu membuatnya terkejut. Pasalnya Chalvin adalah pria yang sulit ditaklukkan, sedangkan Darren merupakan pria yang sukar digapai perempuan biasa. Ini membuatnya bertanya-tanya, hal apa yang membuat dua pria itu bisa menyukai Karen yang menurutnya tak seperti dirinya yang bisa melakukan apa pun.
***
Di sebuah ruangan yang diisi interior modern, ada sepasang kekasih yang tengah tertidur pulas tanpa tahu datangnya pagi. Kelopak mata Nadya bergerak, membuka dengan perlahan. Mengerjap pelan untuk membiasakan cahaya yang masuk. Saat kesadarannya penuh, ia terkesiap sesaat. Ternyata ia masih berada di apartemen Chalvin dan masih berada di sofa dalam balutan selimut. Dengan kata lain, ia tertidur semalaman.
Pandangannya pun terarah pada Chalvin yang masih tidur dalam posisi terduduk di bawah sofa. Pria itu merebahkan kepala di samping kaki Nadya dengan kedua tangan yang melipat di bawahnya karena digunakan sebagai bantalan. Sejenak, ingatannya kembali berpulang pada kejadian semalam. Jalan-jalan sore, kehujanan bersama, hingga ciuman panjang kembali terngiang di benaknya.
Nadya mencoba beranjak dengan menggeser duduknya sedikit demi sedikit. Namun, itu malah membangunkan Chalvin.
"Kamu dah bangun?" tanya Chalvin sambil mengangkat kepala dan menatap Nadya yang tampak ketakutan, "kamu ketiduran semalam. Aku gak tega bangunin. Mau pindahin kamu ke kamar juga takut kamu kebangun. Udah gitu, hujan gak berhenti sampai tengah malam," jelasnya.
Nadya menghindar saat tangan Chalvin mencoba membelai rambutnya. Ia bahkan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.
Chalvin tersenyum tipis. "Tenang aja! Gak ada yang terjadi di luar sepengetahuan kamu!" Ia lalu berdiri, "Aku buatin sarapan dulu, ya!"
"Aku mau pulang sekarang!" ucap Nadya cepat sembari ikut berdiri.
Saat melangkah, ia terkesiap karena Chalvin mendekapnya dari belakang. "Maaf, kalo tindakan refleks aku semalam bikin kamu harus mengingat hal yang tak nyaman untuk diingat," bisiknya lembut.
Nadya menggeleng pelan. "Justru aku jadi sadar kalo Kak Chalvin bisa dapat cewek yang lebih baik dari aku. Aku gak pantas untuk Kakak," ucapnya pelan dengan intonasi yang rendah dan hampir tak terdengar.
Chalvin memutar badan Nadya, sengaja membuat tubuh mereka berhadap-hadapan. "Setiap orang layak dicintai dengan benar dan bermartabat, terlepas apa pun masa lalu orang tersebut. Aku juga bukan pria sempurna. Jadi stop berpikir kamu gak pantas untuk mendapatkan cinta dari siapapun. Jangan biarkan diri kita terkunci di masa lalu," ucapnya sambil memandang lekat netra gadis itu.
Nadya mengangguk pelan. Chalvin menarik tubuh mungil itu untuk masuk dalam dekapannya. Jari-jari tangan Nadya bergerak perlahan, membalas pelukan hangat pria itu.
Nadya memilih untuk segera pulang setelah berganti busana dengan memakai pakaiannya yang sudah kering. Ia berdiri di pintu lift seraya menekan tombol panggilan. Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka. Namun, ekspresi terkejut menggantung di wajah Nadya saat melihat Oma Belle dan Silvia ada di dalam lift tersebut.
.
__ADS_1
..
.