
Masih berada dalam mobil, Nadya lantas merespon permintaan maaf dari Chalvin. "Apanya yang perlu dimaafin, bukannya kemarin udah aku bilang gak perlu dibahas lagi."
"Enggak. Kamu gak perlu berkelit menutupi emosi kamu. Aku minta maaf untuk segala yang aku lakukan ke kamu. Baik itu perkataan yang gak pantas, maupun ciuman yang gak seharusnya terjadi." Chalvin masih mengunci tatapannya.
Disinggung soal ciuman, Nadya pun mencoba mengelak dari pandangan pria itu. Ia mengulum bibirnya sendiri sembari menggulung kecil ujung bajunya.
"Kan udah aku bilang, gak perlu dibahas lagi," balas Nadya dengan suara serak.
Sungguh, ia membenci momen seperti ini! Padahal selama beberapa hari ini ia berusaha melupakan ciuman yang diberikan oleh pria itu. Sialnya, Chalvin malah membuatnya teringat. Mungkin bagi pria yang memiliki kehidupan bebas seperti Chalvin, itu hanyalah sepele. Namun, tidak bagi dirinya yang memiliki perasaan pada pria itu.
"Enggak, sampai kamu benar-benar maafin aku!"
"Terus, maunya Kak Chalvin aku harus gimana?" tanya Nadya dengan sepasang alis yang menurun.
"Entahlah! Aku merasa hubungan kita jadi gak kayak dulu lagi! Udah gak asyik, tahu enggak!" Chalvin tertawa hambar.
"Bukannya dari dulu kita emang kayak gini, ya?" Sudut bibir Nadya mencibir. "Emang apa istilah yang cocok untuk kita berdua? Pacaran bukan, temanan juga bukan, aku cuma kebetulan diminta tolong sama Kak Chalvin buat jadi pacar bohongan dan itupun udah selesai. Jadi ... Kak Chalvin gak perlu berlebihan kayak gini untuk orang yang cuma jadi kenalan Kak Chalvin," tekannya sinis.
Pada saat ini, Chalvin mendadak terdiam. Tangannya yang menggenggam Nadya pun perlahan terlepas. Sambil tetap memandang Nadya dengan lekat, tubuh Chalvin malah maju perlahan, terus bergerak dan semakin mendekat ke arah gadis itu. Hal ini membuat Nadya sedikit panik hingga kakinya berjinjit. Bahkan tubuhnya kian tersudut di pojok pintu mobil. Dengan matanya yang tajam, Chalvin seolah tak membiarkan Nadya memandang objek lain selain dirinya. Detik berikutnya, mata gadis itu melebar kala tangan Chalvin bergerak cepat menekan tombol bukaan pintu di sebelah tempat duduknya.
"Hati-hati di jalan," ucap pria itu.
Nadya lantas buru-buru keluar dari mobilnya. Ia sempat terpaku beberapa saat sembari mengembuskan napas.
"Kak Chalvin, aku mohon ... don't pull me back!" gumamnya dengan raut sendu.
(Don't pull me back: jangan tarik aku lagi)
Ia pun menunggangi motornya dan berlalu lebih dulu meninggalkan Chalvin yang mematung dalam mobil. Apa yang dikatakan Nadya benar, hubungan mereka tak memiliki istilah atau nama yang mengikat. Bahkan kedekatan mereka sebelumnya diawali dengan simbiosis mutualisme. Rasanya sungguh lucu jika dia terus mengusik gadis itu untuk alasan yang tidak jelas.
Setelah punggung gadis itu menghilang dari pandangannya, Chalvin pun memutuskan untuk balik ke apartemennya. Saat hendak menginjak pedal gas, ponselnya berdering secara mendadak. Ia menerima panggilan tersebut tanpa melihat nama kontak pemanggil terlebih dahulu. Hanya berselang beberapa detik setelah mengangkat telepon, mata pria itu terbelalak kaget. Tampaknya sesuatu telah terjadi sehingga membuatnya langsung meluncur ke jalan yang berbeda dari arah apartemennya.
Mobil pria itu masuk ke area Rumah Sakit besar yang terdapat di Jakarta Selatan. Ia buru-buru masuk ke ruang IGD dan memendarkan pandangan ke segala ruangan. Matanya tertuju pada sosok yang duduk di sisi ranjang dengan kepala yang terlilit perban. Rupanya yang meneleponnya tadi adalah Darren.
__ADS_1
"Lo kenapa, Bro?" tanya Chalvin terkesiap.
"Aku diserang di parkiran kampus."
"Hah? Gimana ceritanya?"
"Gak tahu, tiba-tiba ada motor yang nyerempet terus mukulin aku dari belakang." Darren memundurkan ingatannya beberapa saat yang lalu, tepatnya ketika ia mendapat serangan dari dua pria yang berboncengan motor.
"Terus, gimana?" tanya Chalvin sambil memerhatikan luka sepupunya itu.
"Ya, katanya agak sobek dikit. Nih, udah dijahit."
"Kok bisa ada yang nyerang lu di lingkungan kampus? Lu lihat yang mukulin, gak?
Darren terdiam. Meski tak mengenali orang yang menyerangnya. Namun, ia sudah bisa menebaknya dari jaket yang dipakai salah satu pria itu.
"Jangan-jangan ... mahasiswa lu, ya? Pasti lu terlalu killer sampai ada yang dendam kek gini!" ledek Chalvin.
"Terus Karen tahu enggak?"
"Enggaklah, makanya aku hubungi kamu tadi. Jangan kasih tahu dia tentang masalah ini, ya?"
"Lah, gimana ceritanya? Sampai rumah juga lu pasti bakal direntet pertanyaan begitu lihat perban!"
Napas kasar Darren berembus berat. "Aku gak pulang ke rumah Oma malam ini. Aku dah chat dia dan ngasih alasan bermalam di rumah ayah aku."
Chalvin malah mengernyit bingung karena Darren memilih tak pulang setelah terluka.
"Aku cuma gak mau bikin Karen khawatir. Pernikahan kami baru aja terekspos di kelasnya. Dia pasti bakal mikir yang terjadi sama aku hari ini akibat dari hubungan kami yang terbongkar. Yang ada entar dia malah nyalahin dirinya sendiri. Dia lagi hamil muda, aku gak mau bikin dia kepikiran hal kecil kek gini," jelas Darren.
"Gak ngerti gua!" Chalvin menggeleng-geleng kepala.
"Entar juga bakal ngerti kalo kamu dah punya pasangan!" tandas Darren dengan ujung bibir yang tertarik kecil.
__ADS_1
"Bukannya kita seneng dapat perhatian pasangan?"
"Itu untuk level pacaran. Kalo dah berumah tangga beda lagi, hampir semua pria gak mau melihat pasangannya cemas dan khawatir tentang situasi yang sebenarnya. Baik itu masalah kesehatan, pekerjaan, atau pun keuangan."
Chalvin tersenyum ringkih. Berbicara soal Karen, tampak ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Hatinya mulai biasa saja mendengar nama perempuan itu. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah "Move-on", yakni ketika hati dan perasaan tak bereaksi apa pun saat membahas seseorang yang pernah kita sukai. Bukankah ia memang tak pernah benar-benar serius mencintai seorang wanita? Entahlah ....
Selang sejam kemudian, Darren memutuskan pulang setelah mengurus administrasi. Namun, bukan untuk pulang ke kediaman Bratajaya. Pria itu malah berencana bermalam di rumah ayah Barack paling tidak hingga perbannya bisa terbuka. Dia mengeluh kesakitan ketika mencoba berdiri. Ternyata punggungnya pun sempat merasakan pukulan keras.
"Lu ngehindari Karen biar dia gak tahu soal luka lu, tapi gimana dengan besok pas kalian di kampus?" tanya Chalvin yang berjalan beriringan dengan Darren keluar dari gedung Rumah Sakit.
"Jadwal kuliahnya pagi sampai siang. Kebetulan aku ngisi kelas sore sampai malam selama dua harian," jawab Darren santai.
"Mending lo pulang ke apartemen gua aja. Ini udah tengah malam, loh. Lo yakin mau ke rumah paman Barack?" tawar Chalvin.
"Eh, bener juga, ya?" Darren lantas menyetujui ajakan Chalvin untuk bermalam di apartemennya.
Sementara itu, geng Mahdi tengah berkumpul di kelab malam yang menjadi pusat tongkrongan para mahasiswa. Perkumpulan anak muda yang juga mendapat julukan GBK ini, rupanya sedari tadi hanya duduk sembari memerhatikan Feril yang menyendiri di pojok meja paling ujung seolah tak peduli dengan hiruk pikuk suasana kelab.
(GBK: Geng Beban Keluarga)
"Feril bener-bener mengkhawatirkan!" kata salah satu di antara mereka.
"Move on tanpa sempat memiliki, emang ngenes, sih!" sambung lainnya.
"Mending gua disuruh jaga lilin, daripada jagain istri orang!" tandas Jamet.
"Sejauh ini, ini yang paling jauh sih!" imbuh gimbal, "Met, kasihin dia ibuprofen, gih, kali aja nyeri hatinya pulih!"
Jamet mendekati Feril sambil menyodorkan segelas bir. "Udahlah Sob, mending mundur buat nabrak lebih kencang!"
"Tenang aja, Ril, kita dah bikin perhitungan sama tuh dosen. Dia bikin elu sakit hati, kita balas dengan masukin dia ke rumah sakit."
Ucapan dua kawan mereka yang baru datang, lantas membuat Feril terperanjat.
__ADS_1