DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 201 : Calon Menantu Kesayangan Oma


__ADS_3

Ada kutipan yang mengatakan jika hati kita sakit ketika melepaskan seseorang, tidak apa-apa. Itu artinya kita memiliki hati yang tulus. Yang perlu disadari, tidak setiap orang yang masuk di kehidupan kita lantas akan menetap dan tidak semua orang membutuhkan cinta dan kasih sayang tulus dari kita. Itulah yang Nadya coba tanamkan dalam dirinya saat ini.


Telah kembali ke meja bartender, ia hanya bisa melihat Chalvin yang perlahan masuk ke mobil dan pergi setelah sempat berbicara dengannya di halaman samping coffee shop-nya. Ia hanya bisa menduga pria itu tengah menuju kediaman Oma Belle seperti yang sempat didengarnya tadi.


Di kediaman Bratajaya, semua telah berkumpul di meja makan dengan menu hidangan yang dimasak oleh Silvia. Oma Belle tampak kalut karena Chalvin belum juga muncul.


"Chalvin kok belum datang-datang, ya?" Oma Belle memandang ke arah ruang tamu dengan resah.


"Sudah ... makan aja dulu. Gak usah nungguin yang gak pasti datang," sahut kakek Aswono memulai lebih dulu.


"Darren, kok makannya dikit banget?" Silvia memerhatikan takaran nasi di piring Darren.


"Tadi sebelum pulang kebetulan udah makan siang sama dosen lainnya," jawab pria itu.


"Kirain lagi diet. Oh, iya, cobain yang ini ...." Silvia menyodorkan sepiring menu ke arah Darren.


Hal ini tentu saja membuat Karen tak senang karena Silvia begitu semangat melayani Darren. Namun, mengingat perkataan Nadya soal pantangan membenci orang saat hamil, membuatnya berusaha mengakrabkan diri dengan wanita itu. Ia lantas ikut menyodorkan piringnya pada Silvia.


"Aku juga mau dong!"


Silvia tersenyum ramah kemudian menuangkan lauk yang sama di piring Karen. Namun, matanya mengarah penuh pada Darren yang mulai mencicipi masakannya.


"Gimana?" Silvia tampak menanti respon Darren.


"Hum ... enak! Chalvin pasti suka. Gak nyangka kamu bisa masak."


"Iya dong. Makanan dan aktivitas makan itu ada asosiasinya dengan achievement. Aku gak mau anak aku nanti lebih dekat ke mboknya yang masakin dia dibanding aku sendiri," tutur Silvia."


"Denger tuh Karen!" Oma Belle malah menyentil Karen.


"Kok Karen Oma?" tandas Darren.


"Ya, istri kamu gak bisa masak, kan? Sampai sekarang pun gak bisa padahal dah mau jadi seorang ibu! Jangan cuma tahunya cuma pegang cermin sama bedak, giliran pegang alat masak gak bisa," ketus Oma Belle.


Celotehan Oma yang mengandung bubuk cabe lantas membuat mental Karen jatuh terhempas. Ya, ia memang sudah terbiasa menghadapi kritikan, omelan bahkan amarah dari nenek suaminya itu. Tapi kata-kata yang baru saja terlontar itu terlalu memojokkan dirinya. Tak peduli seberapa senang Oma Belle pada Silvia, seharusnya tak perlu membandingkan dengan dirinya, kan?


"Gak papa dong. Semua orang punya kelebihan masing-masing, kan? Karen gak bisa masak karena keahliannya itu ada dalam hal berbisnis dan modelling. Bukan berarti selama ini dia juga gak berusaha buat belajar masak. Tapi, yang namanya gak punya bakat masak sama sekali, mau gimana lagi? Jadi, berhenti memberi sterotipe yang diidentikkan dengan gender seolah perempuan itu wajib punya keahlian memasak dan laki-laki harus bisa membetulkan ini itu," bela Darren.

__ADS_1


Kakek Aswono ikut menimpali. "Benar, memasak itu adalah sebuah keahlian karena gak semua orang bisa meracik bumbu dengan pas. Sama halnya seperti keahlian berburu dan lainnya. Maka dari itu, jangan anggap sepele ibu rumah tangga yang kesehariannya memasak untuk keluarganya. Dalam hal rumah tangga, apa pun itu seharusnya jadi kemauan kedua belah pihak untuk saling membantu. Kalo istri gak bisa masak, mungkin suaminya yang bisa. Kalo suaminya udah gak bisa bekerja lagi, maka istrinya yang akan bekerja. Karena rumah tangga itu tanggung jawab bersama bukan masing-masing."


"Oma juga cuma nyaranin, kok. Mumpung masih ada Silvia di sini, belajar masak sama dia. Kan juga supaya kalian berdua jadi makin akrab. Apalagi Silvia bentar lagi bakal jadi bagian dari keluarga Bratajaya," sahut Oma.


Hingga selesai makan, Chalvin tak kunjung datang. Ini tentu membuat Oma Belle murka. Namun, di hadapan Silvia, Oma Belle malah berlagak ketidakhadiran Chalvin siang itu karena sangat sibuk.


"Nak Silvia, Chalvin kayaknya sibuk banget jadi gak sempat ke sini."


"Gak papa kok, Oma. Aku masak buat kalian semua kok."


"Oh, iya, gimana kalo tar malam kita ke apartemennya aja," ajak Oma Belle.


***


Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit, yang artinya setengah jam lagi kafe akan ditutup. Pengunjung masih terlihat menempati beberapa meja. Namun, Nadya dan para karyawan mulai berberes-beres area mereka untuk persiapan tutup.


Seseorang membuka pintu kafe secara mendadak. Salah satu barista menyenggol siku Nadya sembari mengedikkan dagu ke arah pintu masuk. Nadya menoleh pelan, ternyata pengunjung yang baru saja masuk itu adalah Chalvin. Seperti biasa, lelaki itu datang di penghujung waktu penutupan kafe, dan seperti biasa pula ia selalu meminta menu kopi buatan Nadya langsung.


Kopi telah diantarkan langsung ke mejanya. Chalvin menampakkan wajah kecewa saat yang mengantarkan itu bukan Nadya. Ia mencoba mengintip apa yang dilakukan gadis itu. Tiba-tiba otaknya menyembulkan sebuah ide. Ia lalu menelepon supir kantor untuk mengambil mobilnya di kafe itu.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, di mana kafe baru saja ditutup dan Nadya naik ke atas motornya bersiap-siap untuk pulang. Bersamaan dengan itu Chalvin tiba-tiba ikut naik ke motornya. Melihat pria itu tiba-tiba muncul kembali dan duduk di belakangnya, tentu membuat ia tersentak.


"Aku gak bawa mobil, numpang sama kamu boleh?" ucap pria itu dengan santai sambil memasang helm yang entah dari mana berasal.


"Kalo gak bawa mobil, terus ke sini naik apa?"


"Dianterin supir," jawab Chalvin singkat. Kenyataannya, ia malah meminta supir mengambil mobilnya agar bisa pulang dengan gadis itu.


Nadya tersenyum kecut. "Terus kenapa gak suruh jemput lagi?"


"Ini aku dah nungguin dari tadi tapi gak datang-datang. Kamu anterin aku aja, ya!"


Nadya melepas napas kasarnya. Apa boleh buat, ia tak punya pilihan selain mengantar lelaki ini pulang ke apartemennya.


Motor matic itu mulai membelah jalanan ibukota yang lebar dan tak pernah senggang. Nadya yang berada di depan, berusaha fokus meskipun sebenarnya dia gugup. Sebaliknya, Chalvin tampak santai berada di belakang Nadya. Bagi Chalvin, ini pengalaman perdananya menjelajahi jalanan metropolitan dengan motor biasa dan tanpa melewati jalan tol.


"Kok jalannya pelan amat? Sengaja, ya, biar bisa lebih lama bareng aku?" ucap Chalvin sembari menyandarkan dagunya di bahu Nadya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Chalvin yang penuh narsistik, membuat wajah Nadya memerah. Malu dan bercampur kesal. Ia pun terpengaruh untuk menambah laju kecepatan. Chalvin menahan senyum melihat ekspresi Nadya dari kaca spion. Ya, ia memang sengaja memprovokasi dengan kata-kata seperti karena sedari tadi memerhatikan Nadya begitu tegang dan gugup memboncengnya.


"Cemberut mulu mukanya. Yang ikhlas dong anterin orang!" Chalvin mencubit kedua pipi Nadya dengan gemas hingga bibirnya ikut tertarik lebar.


"Kak Chalvin apaan, sih!" protes Nadya.


Tak hanya mencubit pipi, lelaki itu juga sengaja menggelitik pinggang Nadya hingga membuat tubuhnya terangkat.


"Kak Chalvin jangan gitu! Bahaya tahu, kita bisa kecelakaan."


"Kalo gini bahaya, gak?" Chalvin melingkarkan tangannya di pinggang Nadya.


"Lepasin!" pinta Nadya dingin.


"Gak boleh, ya, aku meluk pacar aku sendiri?"


Nadya kembali menampakkan wajah masam. Sementara pandangan Chalvin teralihkan pada jalanan yang mereka lewati. Entah kenapa, jakarta terasa begitu indah malam ini di mana lampu malam yang kerlap-kerlip begitu menawan berpadu dengan pemandangan gedung pencakar langit yang bertebaran sepanjang jalan. Meski harus mendengar bising kendaraan, berdesakan dengan pengendara motor lainnya, hingga mencium polusi udara dari mobil-mobil besar.


Lambat laun, keduanya malah menikmati perjalanan malam ini. Nadya tampak tertawa sesekali ketika pria itu menceritakan pengalaman pertamanya naik bus, kereta hingga angkot semasa muda. Perjalanan kurang lebih empat puluh menit itu akhirnya berakhir. Mereka tiba di depan gedung apartemen mewah yang menjulang ke atas. Chalvin pun turun dari atas motor.


"Bantuin aku buka helm dong!" pinta Chalvin yang tampak kesulitan melepas


Nadya turun dari motornya, lalu berdiri dan berjinjit untuk membantu Chalvin membuka pengait helm. Begitu lepas, Chalvin malah menahan tangan Nadya yang masih berpegangan pada tali helmnya. Ia bahkan menarik tubuh gadis itu, seolah memaksa mendekat ke tubuhnya.


"Kasih kesempatan aku untuk buktikan perasaan aku ke kamu itu memang nyata," ucap pria itu sambil memandang netra Nadya dengan lekat.


Nadya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Chalvin. Namun, itu justru membuat Chalvin semakin kuat menggenggamnya.


"Aku pengen cari pasangan yang bisa jadi tempat bercerita bebas dan lepas, entah dari hal receh sampai ke random, even rahasia tergelap aku sekalipun. Dan aku rasa itu hanya bisa aku temuin di kamu," lanjut Chalvin.


"Chalvin!" Seseorang tiba-tiba memanggil namanya.


Chalvin dan Nadya kompak menoleh. Keduanya tersentak melihat Oma Belle dan Silvia baru saja keluar dari gedung apartemen dan kini menghampiri mereka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2