DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 157 : Waktu Berdua untuk Karen dan Darren


__ADS_3

"Pokoknya kita pulang hari ini aja gak usah tunggu Minggu depan!" tekan Karen kembali. Setelah tahu Chalvin memiliki perasaan padanya, ia seakan sungkan untuk bertemu lagi dengannya. Namun, tinggal serumah tentunya membuat hal itu sulit dihindari.


"Ya, tapi ... kita kan belom ngomong lagi sama Oma. Kamu tahu sendiri, kan, respon Oma semalam? Tunggu Oma tenang dikit, baru kita kasih pengertian ke dia."


"Masalah Oma ... biar aku yang bujuk. Aku siap diomelin deh yang penting kita malam ini, ya?" pinta Karen.


"Iya, tapi masalahnya rumah kita belum dibersihin loh. Pasti banyak debunya ditinggalin dua bulan. Tadi aku hubungi jasa cleaning service, jadwal mereka untuk lima hari berturut-turut masih padat. Ada juga yang ful dalam seminggu ini.


"Kalau gitu, biar aku yang bersih-bersih siang ini!"


"Emang kamu bisa beres-beres?"


Karen terdiam seketika. Ya, sejak kapan melihat seorang Karen melakukan pekerjaan rumah tangga?


"Maksud aku ... kita berdua!"


Darren menahan tawa. "Ya, udah ... kalau kamu dah selesai kerja, aku jemput. Habis makan siang bareng, kita ke rumah buat bersih-bersih."


Sebenarnya, Darren kebingungan atas desakan Karen yang dianggapnya sedikit aneh. Sebab, baru semalam Karen mengatakan tak perlu buru-buru pulang karena melihat respon Oma yang begitu marah. Kini, malah dia yang tergesa-gesa ingin segera pulang.


***


Makan siang baru saja selesai. Seperti yang sudah disepakati, Karen dan Darren singgah ke supermarket terdekat untuk membeli alat-alat pembersih karena sebelumnya mereka memang hanya menggunakan jasa pembersih rumah yang datang seminggu sekali.


Sambil mendorong troli, tiba-tiba Karen kembali teringat kejadian di kantor pagi tadi. Rasanya seperti sulit dipercaya mengetahui Chalvin diam-diam menyukainya selama ini. Ia pun masih menyangsikan itu meskipun Chalvin sempat mengungkap perasaannya.


Karen menatap Darren yang tengah sibuk memilih jenis-jenis alat pel dengan teknologi mutakhir. "Kira-kira apa reaksi Darren kalo tahu tentang ini?" pikirnya sesaat, "enggak-enggak ... Darren gak boleh tahu! Aku gak mau bikin hubungan mereka jadi renggang!"


Setelah berbelanja, Karen dan Darren pun tiba di kediaman mereka yang berjarak tak jauh dari rumah kakek Aswono. Begitu pintu rumah mereka terbuka, Karen langsung melepas sepatu kemudian berlari dan membanting bokongnya di sofa empuk.


Karen bersandar seraya menengadahkan kepala. "Ah, senyaman-nyamannya tinggal di rumah Oma, ternyata lebih nyaman berada di rumah sendiri! Iya, enggak?"


Darren berdiri di belakang sofa, sedikit membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu di antara kepala Karen. "Tinggal di mana pun oke-oke aja, selama kita gak pisah." ucapnya.

__ADS_1


Karen yang menatap Darren dari bawah, lantas tersenyum seraya mencoba meraih sisi wajah suaminya. Darren menunduk, mendekatkan wajah mereka untuk menggapai bibir Karen yang tampak selalu menggoda di matanya. Satu kecupan mendarat cepat. Terlalu singkat, hingga membuat mereka perlu mengulangnya.


Darren kembali menunduk untuk mempertemukan bibir hangat mereka. Ciuman yang hanya sebatas menempel itu kembali terlepas. Saat kepala pria itu mulai menjauh, ia justru mencengkram kerah kamejanya seolah tak menginginkan Darren mengakhirinya begitu saja. Entah kenapa, belakangan ini ia menjadi sangat bergairah, bahkan hanya dengan mencium aroma keringat suaminya.


Manik mereka beradu. Darren tersenyum tipis saat wajah Karen semakin mendongak ke atas dengan bibir yang sedikit terbuka. Darren kembali menurunkan wajahnya secara perlahan. Saat bibir mereka hampir tak berjarak, pria itu malah membuat gerakan refleks dengan menggigit gemas dagu Karen yang lancip.


"Ayo cepat bangun! Kita ke sini buat beres-beres, bukan ngelakuin hal yang bikin ngeres!" ucap Darren sambil menjauh dari sofa.


Wajah Karen merengut seketika. Padahal ia hanya ingin lebih lama bermesraan dengan suaminya. Paling tidak, mereka harus memanfaatkan waktu lenggang sebelum sama-sama sibuk.


Tiba-tiba bibir perempuan muda itu menyembulkan senyum licik begitu terbesit ide di otaknya.


"Aauu, kaki aku keram banget! Tolong bantuin aku, dong!" teriak Karen dengan kedua tangan terulur ke depan.


Darren berbalik dan segera menghampiri Karen. Ia memegangi kedua tangan Karen, bermaksud membantunya berdiri. Namun, Karen malah sengaja menarik tangannya dengan kuat hingga tubuh pria itu malah ikut tertarik maju dan menubruk tubuhnya yang tengah duduk bersandar.


Karen langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya. "Mumpung posisinya sudah kayak gini, kenapa ... kita ... enggak ... manfaatin ... momen ... aja," ucap Karen putus-putus seraya memandang Darren. Jari-jari lentiknya mulai merayap pelan di dada Darren, seolah hendak membebaskan kameja yang dipakainya itu dari kancing-kancing yang membelenggunya.


Darren mengambil tangan mungil Karen yang bergerak aktif di dadanya, mencekalnya ke sandaran sofa sehingga membuatnya tak bisa bergerak. Sekarang, giliran tangan Darren yang bergerilya, mulai dari ceruk leher istrinya lalu turun secara perlahan ke area dada. Napas Karen tampak tertahan, ketika tangan suaminya menari-nari di perutnya, lalu semakin turun ke bawah hingga menyentuh paha dalamnya. Kini, ia sungguh merasakan keram di kakinya efek dari jari-jarinya meringkuk begitu erat.


"Kamu gak lagi mens, kan?" tanya Darren sesaat.


Sambil menahan napas dan menggigit sudut bibirnya, Karen menggeleng pelan. Tampaknya, ia pun baru menyadari kalau belum datang bulan hingga di penghujung bulan. Ia lantas teringat dengan saran dokter yang memintanya untuk datang kontrol kembali.


Darren berbisik ke telinga Karen. "Kalau begitu, siap-siap kuterkam malam ini!" bisiknya dengan nada suara yang terdengar nakal. Ia lalu kembali berdiri dan langsung mengambil peralatan bersih-bersih.


"Ih, kenapa harus tunggu malam, sih!" gumam Karen menggerutu sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Kamu mau nyapu, ngepel, atau bersihin kaca?" tanya Darren sambil menunjukkan peralatannya.


Karen menunjuk kain lap dengan gaya yang malas.


"Kalo gitu, kamu ngelap kaca, ya!" Darren memberikan kain lap sekaligus cairan pembersih kaca.

__ADS_1


Darren mulai menyapu sementara Karen memilih untuk membersihkan jendela yang berhadapan langsung dengan taman samping. Karena merasa gerakannya terbatas, Karen pun melepas blazernya hingga hanya menyisakan tank top sebagai dalaman.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Karen memanggil suaminya dengan nada manja. "Darren, boleh minta tolong, enggak?"


"Hum, kenapa?" Darren yang masih menyapu ruangan lantas menoleh ke arahnya.


"Aku gak bisa bersihin bagian atasnya. Terlalu tinggi!" tunjuk Karen ke arah kaca atas jendela.


"Tuh, ada tangga kecil." Darren malah mengedikkan dagu ke arah meja bar.


"Ih, masa suruh aku manjat! Gimana kalo aku jatuh!"


"Yaudah, entar aku yang bersihin bagian atasnya."


"Sekarang!" desak Karen.


Darren melepas sapu di tangannya kemudian menghampiri Karen. Ia mengambil kain lap dari tangan istrinya.


"Bisa minggir dulu, enggak?" pinta pria itu.


Karen enggan menyingkir meskipun posisi Darren yang berada di belakangnya, sedikit membuat tubuhnya terhimpit. Keadaan ini juga sontak membuat salah satu tali tank top-nya meluncur ke bawah tepatnya di lengan mulusnya hingga mengekspos sebagian dada tanpa disadarinya.


Gerakan tangan Darren berhenti seketika saat melihat bayangan istrinya yang tampak seksi di kaca tersebut. Tanpa sadar, sebelah tangannya langsung melingkar di pinggang Karen. Hal ini lantas membuat perempuan itu terhenyak. Dengan sedikit membungkuk, bibir Darren mulai menyusuri bahu mulus istrinya. Begitu pelan dan lembut hingga giginya berhasil menjepit tali tank top yang melorot lalu menaikkannya kembali.


Meskipun tali tank top itu telah berhasil dinaikkan ke atas, bibir Darren yang lembab masih terus menjelajahi leher jenjang Karen. Ia bahkan membuat gigitan-gigitan lembut di telinga istrinya. Mencecapinya dengan penuh gelora.


Deru napas Darren, telah mampu membuat Karen meremang. Perempuan itu memejamkan mata dengan tangan yang membentuk sebuah kepalan. Saat kelopak matanya mencoba terbuka, tiba-tiba penglihatannya menjadi berkunang-kunang diikuti tubuh yang sedikit kehilangan keseimbangan.


"Kamu kenapa?" tanya Darren yang langsung menghentikan aktivitas panas mereka begitu tubuh Karen hampir terkulai.


"Gak tahu, tiba-tiba pusing!" ucap Karen sambil memegang pelipisnya. Ia mencoba kembali membuka mata. Penglihatannya masih sama di mana ia merasakan tubuhnya seperti berputar.


"Jangan-jangan kamu anemia!" Darren langsung menuntun istrinya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2