DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 68 : Ketika Darren Jujur


__ADS_3

Siapa yang tak mengenal Feril? Meskipun kerap berpenampilan seperti berandalan dan sering bergabung dengan para MAHDI, tapi ia terbantu dengan tampangnya yang good looking sehingga masuk dalam jajaran senior yang diidolakan para junior kampus.


Amukan Feril yang bagaikan petir di siang bolong, sedikit membantu Karen dari prasangka teman sekelasnya. Mereka malah mengira Karen sedang berpacaran dengan cowok yang gemar memakai headband di kepalanya itu.


Teman-teman Feril yang mengintip dari luar kelas, lantas hanya bisa ternganga melihat reaksi tak biasa dari pria itu.


"Eh, tuh, si Feril kesambet apa? Kok tiba-tiba berubah jadi kesatria wajah hitam gitu?" tanya si rambut gimbal dengan wajah melongo.


"Gak tahu, tuh! Kebanyakan makan jajanan yang ada mi cin dan mas Ako kali!" balas temannya yang lain.


Sayangnya, aksi keren Feril yang membungkam mulut-mulut tajam orang-orang, sama sekali tak memancing respon apa pun dari Karen. Ia masih kesal dengan apa yang dilakukan Farel terhadap Nadya sehingga berimbas pula ke Feril.


Karen memilih keluar kelas untuk menghindari segala kegaduhan. Melihat Karen yang pergi, Feril pun hendak menyusulnya. Sementara, kawan-kawan Feril yang tadinya tengah mengintip di balik pintu, langsung berpura-pura mengobrol santai seperti mahasiswa lainnya.


"Semangat, ya, Kar! Gak usah ladeni orang-orang nyinyir. Tenang aja, bakal gua usut tuh orang yang dah nyebar gosip ini. Kalau kata orang bijak, masalah bisa mendewasakanmu. Makanya gua sering bikin masalah, biar makin dewasa," ucap Feril sambil menyengir tak jelas.


"Iya, Kak. Makasih support-nya. Karen pergi dulu, ya!"


"Kar—" Lagi-lagi, Feril harus menerima pahitnya terabaikan begitu saja. Berbalik dengan tampang lemas bak orang kalah judi, momen patah hatinya kali ini diiringi soundtrack lagu dangdut berjudul "Jatuh bangun aku mengejarmu" yang dinyanyikan dengan penuh hikmat oleh kawan-kawannya.


Di ruang dosen, para mahasiswa bimbingan Darren berkumpul di mejanya untuk berkonsultasi tentang judul skripsi.

__ADS_1


"Kalau mau pilih judul skripsi, lihat dulu ... masalahnya ada, enggak? Terus, datanya mudah didapat enggak? Kalau ternyata gak ada masalahnya terus datanya susah dicari, ya ganti judul. Jangan bikin tutorial cara mempersulit diri. Pokoknya kalian sekarang ke perpustakaan. Cari banyak sumber rujukan yang berkualitas!" perintah pria itu.


"Pak, kenapa sih kita gak diterima konsul di rumah Bapak? Kan kita juga pengen tahu tempat tinggal Bapak," celoteh salah satu mahasiswi.


"Rumah tuh tempat istirahat saya, jadi saya enggak terima konsultasi di luar kampus."


"Ren, Ren, boleh bantuin aku, enggak?" Marsha tiba-tiba memanggilnya.


Darren mengakhiri bimbingannya, lalu menghampiri meja kerja Marsha yang berhadapan dengan meja kerjanya.


"Hmm ... kamu masih seceroboh dulu!" ucap Darren sambil mengambil alih mouse yang dipegang Marsha.


"Ya, upload ulang!"


Di waktu yang sama, pak Budi Luhur lewat dan melihat kedekatan mantan pasangan kekasih itu.


"Wah, saya baru sadar pak Darren dan Bu Marsha ini sama-sama lajang, ya! Kenapa gak jadian aja terus nikah, biar kita-kita di sini bisa buat seragam khusus buat pesta kalian," ujar pak Budi Luhur diikuti sahutan setuju dari beberapa dosen yang ada di ruangan itu, "cocok banget kan mereka? Bisa dibayangkan kalau punya anak nanti pasti secerdas dan sekeren saya!" lanjut pak Budi Luhur dengan rasa percaya dirinya yang sudah stadium akut.


Darren dan Marsha saling melirik dalam suasana canggung. Ucapan pak Budi bukan hanya mendapat respon dosen-dosen lainnya, tapi juga mahasiswa bimbingan Darren yang ternyata belum beranjak dari situ.


"Kalau sama Bu Marsha kita setuju, Pak!" seru mahasiswa itu sebelum keluar dari ruangan dosen.

__ADS_1


"Nah, kan, banyak yang sependapat sama saya. Mata saya ini emang gak pernah salah menjodohkan orang. Tuh pak Danu sama Bu Ella yang di FKIP bisa nikah berkat saya sering dekatkan. Benar, kan, Pak Danu?" Pak Budi Luhur malah mempromosikan keahliannya sebagai 'pak comblang'.


"Maaf, nih, Pak, saya dan Bu Marsha sudah punya pasangan masing-masing."


Pernyataan Darren, membuat pak Budi terkejut. "Beneran?"


"Iya, Pak." Tiba-tiba Darren berpikir, ini adalah waktu saatnya untuk mengungkap status pernikahannya dengan Karen yang notabene adalah mahasiswa mereka juga.


Darren menarik napas sejenak. "Begini, sebenarnya ...." Kalimat itu terputus karena pak Budi yang kembali berbicara.


"Saya hampir lupa kalau pak Darren ini ganteng kayak saya masih muda. Jadi gak susah buat cari jodoh."


Darren tersenyum simpul, lalu kembali berkata. "Sebenarnya ...."


"Saya doakan pak Darren sama pasangannya yang sekarang bisa langgeng sampai ke jenjang pernikahan." Lagi-lagi pak Budi mendahului Darren.


Dengan sedikit tak sabaran, Darren mencoba meluruskan, "Tapi, sebenarnya saya ...."


"Ah, iya-iya ... saya ngerti. Kamu belum kepikiran buat nikah, kan?" potong pak Budi untuk ke sekian kalinya, "Gak papa, sih. Jangan lupa, kalau mau nikah nanti pilih istri jangan yang dari kalangan mahasiswa! Gak level sama status kamu! Seorang profesor sekurang-kurangnya dapat yang bergelar doktor atau magister kayak Bu Marsha," tandas pak Budi.


Ucapan terakhir dosen killer yang paling ditakuti mahasiswa itu, tentu saja membuat Darren seolah mendapat skakmat. Masha tertawa geli melihat air muka Darren yang berubah seketika. Perkataan pak Budi Luhur seolah mewakili reaksinya saat pertama kali tahu mantan pacarnya itu menikahi seorang mahasiswa.

__ADS_1


__ADS_2