DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 136 : Ketika Darren Cemburu


__ADS_3

Melihat Karen yang tak berada di rumah, Darren pun bertanya pada Oma Belle dan Kakek Aswono yang sudah berada di meja makan.


"Karen mana?"


"Belum pulang. Lagi di jalan mungkin. Tadi Oma suruh singgah beli kue serabi di tempat langganan, Oma," jawab Oma Belle.


"Terus Chalvin mana? Belum pulang juga, ya, Oma?" tanya Darren lagi sambil memerhatikan kursi makan yang hanya diduduki kakek Aswono, Oma Belle dan Sheila yang juga baru muncul dari kamarnya.


"Chalvin akhir-akhir ini lembur di kantor," jawab Oma Belle lagi. Dalam hatinya, sebenarnya merasa Chalvin sengaja sering lembur sejak tinggal di sini untuk menghindari pembahasan lamaran.


Darren tertegun sebentar, lalu menarik kursi yang akan didudukinya.


Kakek Aswono tiba-tiba bertanya pada Oma Belle, "Kamu, ya, yang nyebarin kabar di kantor kalo Chalvin udah mau nikah?"


"Iya," jawab Oma Belle santai.


"Kamu ini ... emangnya dia udah fix mau nikah? Chalvin aja belum pernah nyinggung itu. Kalo gak jadi kan malu sama orang-orang. Mana beberapa kolega kita udah ngucapin selamat sama tanya tanggalnya."


"Bagus toh, Mas. Biar Chalvin bakalan terdesak buat segera nikahin pacarnya. Biar gak ada juga karyawati yang genit-genit sama dia lagi," ucap Oma Belle. Ya, sengaja mengembuskan kabar pernikahan Chalvin memang bagian dari strategi wanita tua berparas Indonesia-Belanda itu. Sebab, hingga kini Chalvin masih enggan membicarakan soal lamaran.


"Emangnya pacar Chalvin yang sekarang juga udah siap menikah?" tanya kakek sembari menghela napas. Kakek Aswono bukannya tak setuju Chalvin segera menikah, hanya saja ia tak seperti Oma Belle yang kerap memaksa dan mengendalikan kehidupan anak cucunya.


Sheila yang juga ikut makan bersama, lantas menimpali percakapan suami istri itu. "Betul, tuh, Kek. Kan kak Chalvin sama pacarnya yang diperkenalkan itu belum tentu—"


"Hus, diam kamu!" potong Oma Belle cepat, "punya mulut kok keriting banget, suka nyambung-nyambung ucapan orangtua!" ketus Oma.


Sheila refleks merapatkan bibirnya, meski air mukanya terlihat menahan kesal. "Ih, apaan sih, selalu bilang gue anak kecil," batin gadis itu.


Darren memilih tak berkomentar di tengah perbedaan pendapat antara kakek Aswono dan Oma Belle. Otaknya malah sibuk berkelana memikirkan istrinya yang tak ada kabar sejak ditelepon siang tadi. Padahal, biasanya Karen akan memberi kabar jika terlambat pulang ke rumah.


Tak lama setelah mereka selesai menyantap hidangan makan malam, Karen pun pulang bersama Chalvin. Perempuan itu langsung menyerahkan pesanan kue serabi ke oma Belle. Melihat kehadiran mereka, Oma Belle langsung menyuruh ART menyiapkan makan malam untuk keduanya. Namun, Karen langsung segera menolak.


"Gak usah, Oma! Aku sama Chalvin udah makan."


"Oh ... jadi kak Chalvin dan kak Karen lambat pulang karena makan bareng di luar, ya? Kok ngajak-ngajak, sih?" protes Sheila sengaja melayangkan pertanyaan seperti itu untuk membuat Darren terbakar.

__ADS_1


"Emangnya kamu bagian dari tim kerja? Kalo Karen kan Brand Ambassador kami, jadi wajar kalo dia ikut," sergah Chalvin.


Jawaban ketus Chalvin membuat Darren tersenyum tipis sekaligus lega. Ia malah merasa dirinya aneh karena sempat berpikir yang tidak-tidak.


Sheila langsung mendekati Chalvin. "Kalo gitu ajak aku sekali-kali makan di luar dong, Kak? Kita berdua aja. Bosan, nih! Sejak di rumah ini gak boleh keluyuran malam. Kalo sama kak Chalvin, kakek pasti ijinin," bujuk Sheila.


Chalvin malah hanya memandangnya dengan ekspresi datar. Meski begitu, Sheila masih tak menyerah agar Chalvin mau. Apalagi ia telah mengetahui fakta bahwa lelaki itu tidak benar-benar memiliki hubungan dengan gadis yang pernah dibawa ke rumah Bratajaya.


"Kalo jalan sama aku, pasti gak malu-maluin kak Chalvin karena aku tuh cantik, muda, dan berkelas gak kayak cewek yang Kak Chalvin bawa ke sini," ucap Sheila dengan penuh percaya diri. Ya, meski ia masih mengenyam bangku SMA, tetapi penampilannya terlihat lebih dewasa dari seusianya.


Chalvin berjalan satu langkah ke arah Sheila sambil berkata, "Ada kurang lebih tujuh miliar orang di dunia ini. So, enggak usah merasa paling spesial."


Sheila harus menelan kekesalan karena kembali mendapatkan kalimat menohok dari Chalvin.


Menapaki tangga menuju lantai atas kamar mereka, Darren hanya bisa menyimak pembicaraan akrab antara Chalvin dan Karen yang berada di depannya. Kedua orang itu saling bercerita tentang beberapa kru dan tim yang bertingkah konyol selama acara makan bersama. Ini menjadikan Darren yang berjalan di belakang mereka, tak lebih seperti obat nyamuk.


Tak tahan melihat istri dan sepupunya terus bercengkerama sambil berjalan beriringan, Darren langsung masuk menyelip di antara keduanya seolah menjadi tembok pemisah.


"Kar, ada yang mau aku tunjukin ma kamu di kamar, ayo!" Darren menarik tangan Karen dan berjalan cepat menuju kamar mereka.


"Katanya ada yang mau ditunjukin sama aku," tagih Karen kembali dengan raut penasaran. Tentu dia telah berekspektasi kalau suaminya akan memberinya hadiah.


Mata Darren berkeliling, lalu tangannya bergerak cepat mengambil sebuah hasil penelitian. "Ini yang pengen kutunjukkin!"


"Apa ini?" tanya Karen dengan sudut mata mengerut.


"A–ini karya ilmiah aku!"


"Terus?" Karen semakin tak mengerti.


"Ini ... bisa jadi contoh kalo kamu mau ngadain penelitian. Simpan dan pelajari baik-baik, ya!" ucap Darren berlagak layaknya saat menjadi dosen.


"Ih, kirain mau ngasih apa!"


Karen melenguh kelelahan sambil meletakkan tasnya di atas meja. Ia terhenyak ketika Darren tiba-tiba memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Kayaknya kamu sekarang lebih sibuk dari aku," bisik Darren dengan suara lembut. Ia mengecup rambut Karen berkali-kali, lalu mengembuskan napas hangat di leher jenjang istrinya.


Tingkah nakalnya malah mendapat penolakan dari Karen. "Darren, aku mau mandi dulu. Keringatan, nih! Bau asem."


Seakan tak peduli, Darren masih terus memberi kecupan-kecupan ringan di leher Karen hingga ke bahu mulusnya yang seputih kapas.


"Chalvin baik banget, dia bikin acara untuk merayakan kepulihan aku. Semua tim kreatif diundang dan kita karaoke-an bareng." Karen malah menceritakan aktivitasnya seharian dengan riang di saat Darren sedang mencummbuinya.


Mendengar itu, tubuh Darren membeku beberapa saat.


"Baik mana aku sama Chalvin?" tanya Darren pelan.


Karen malah memiringkan kepala, menatap Darren dengan alis yang berkerut. Rasanya lucu melihat Darren tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu. Ditatap istrinya dengan penuh keheranan, membuat Darren sadar jika dia baru saja bertingkah kekanak-kanakan dengan memberi pertanyaan yang membandingkan antara dirinya dan Chalvin. Ia memegang batang lehernya sendiri, mengelus-elus dengan tampilan wajah yang salah tingkah.


Di saat yang sama, Karen malah melepas tangan Darren yang melingkar di pinggangnya. "Aku mau mandi dulu!"


Baru saja selangkah meninggalkan Darren, ia justru terkesiap ketika pria itu mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala tuan putri.


"Kita mandi bareng, yuk!" ajak Darren sambil mengerlingkan sebelah mata.


"Ngajak mandi atau ngajak yang lain, nih?"


"Kalo bisa two in one, kenapa enggak?"


"Ih, dasar mesum!"


Tanpa disadari, Chalvin tengah berdiri di depan kamar mereka dengan posisi tangan yang siap mengetuk pintu. Namun, segera diurungkan ketika mendengar dialog mesra keduanya.


.


.


.


Saya Aotian Yu mengucapkan selamat tahun baru untuk pembaca karya ini. semoga tahun ini kita bisa membuat terobosan baru di dalam kehidupan kita, lebih berempati dan peka terhadap sekitar, tidak menjadi keyboard warrior, dan bisa menularkan positive vibes ke sesama. Jangan lupa selalu membuat afirmasi positif untuk bangkitkan semangat diri!

__ADS_1


Ini tahun keempat saya berkarya di sini. terima kasih atas cinta, dukungan dan kesetiaan kalian terhadap karya-karyaku.


__ADS_2