
Karen dan ayah Barack saat ini sedang berada di kafe kopi dekat kantor perusahaan. Keduanya duduk saling berhadapan sambil meneguk kopi yang baru saja tersaji di depan mereka.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Maaf tidak sempat berkunjung setelah kalian pulang dari Kuala Lumpur," ucap ayah Barack mengawali obrolan.
"Baik-baik aja, Yah. Setelah menjalani terapi, semua kayak kembali seperti dulu. Kemarin pas di USG juga udah gak ada apa-apa."
"Baguslah. Bagaimana dengan Sheila? Kalian semua sekarang berkumpul di rumah Oma, kan?" tanya ayah Barack kembali, "Sheila itu ... memang keras kepala dan suka cari masalah. Tapi, dia sebenarnya anak yang baik. Dari kecil, dia hanya banyak berdiam diri di rumah sambil main game. Setelah remaja, sepertinya dia bergaul di lingkungan yang salah makanya jadi seperti itu. Tapi ayah harap kamu bisa bantu bikin dia berubah. Usia kalian tidak beda jauh, 'kan? Ayah ingin Oma berhenti membenci dia dan ibunya," lanjutnya.
Karen hanya bisa mengangguk kecil. Jujur saja, hingga kini dirinya tidak dekat dengan adik tiri suaminya itu. Bahkan hubungan mereka jauh dari kesan harmonis sejak awal berjumpa. Namun, mendengar dari sudut pandang ayah Barack, tampaknya Karen mulai bisa menerima kehadiran Sheila di tengah keluarga suaminya.
"Oh, iya, tadi kamu bilang kamu dah pulih total. Kalau begitu, kamu sama Darren sudah bisa program anak, kan?" Ayah Barack kini mengganti topik.
Karen terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil. "I–iya, aku dan Darren udah bicarain itu," balasnya dengan nada gugup.
"Sewaktu Darren memutuskan untuk tidak bergabung di perusahaan. Walau bagaimanapun, ayah ingin dia ikut berkonstribusi di perusahaan ini seperti Chalvin. Tapi, dia malah lebih memilih mengajar di universitas dan kakek mendukung keputusannya. Sekarang, Sheila juga seperti itu. Padahal, ayah sudah mempersiapkan sekolah bisnis untuk dia, tapi dia malah menggeluti hobi yang tidak wajar dan lagi-lagi kakek mendukung," ucap ayah Barack dengan raut kesal. Ia lalu menatap Karen dengan saksama sambil berkata, "maka dari itu, kalian harus segera punya anak untuk bisa mewarisi setengah dari perusahaan ini. Jika tidak, Chalvin akan menjadi pewaris tunggal perusahaan ini. Apalagi, ayah mendengar kabar kalau Oma akan segera menikahkan dia. Jika nantinya, dia lebih dulu memiliki keturunan, anak kalian tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mewarisi perusahaan ini."
Karen tampak meneguk ludahnya dengan kasar. Terlihat jelas ia kebingungan menanggapi kegusaran ayah Barack. Apalagi, ayah Barack tampak menjadikan Chalvin sebagai pesaing mereka, bukan sebagai keponakannya.
"Apa ... Ayah ... enggak setuju kalau Chalvin menjadi direktur perusahaan menggantikan Ayah nantinya?" tanya Karen dengan nada hati-hati.
"Bukan tidak setuju, tapi ... seharusnya Darren lebih pantas untuk meraih posisi itu. Ayah anak tertua di keluarga. Ayah mengorbankan seluruh waktu dan keluarga untuk mengurus perusahaan. Bahkan saat ibunya Darren sakit parah di Rumah Sakit, ayah tetap memprioritaskan perusahaan. Brand Belleria bisa maju dan bersaing dengan produk luar negeri berkat kerja keras ayah. Seharusnya anak ayah juga punya hak atas perusahaan, kan? Sayang sekali, Darren tidak punya ambisi." Ayah Barack mendenguskan napas kasar lalu kembali meneguk cairan hitam pekat itu.
"Ayah jangan khawatir, anak kami ... masih bisa mewarisi perusahaan keluargaku."
"Apa kamu lupa, keluarga kami memegang 30% saham di perusahaan kalian. Ke depannya, jika Chalvin menggantikan aku sebagai direktur, itu semua menjadi miliknya dan keturunannya. Oleh karena itu, segeralah untuk melahirkan anak yang akan menjadi penerus ayah di perusahaan ini," pinta ayah Barack sambil menatap Karen penuh harap.
"Aku dan Darren pasti bakal berusaha memberikan keturunan untuk keluarga Bratajaya. Tapi Ayah ... maaf sebelumnya. Menurutku, enggak seharusnya anak dilahirkan hanya untuk memenuhi ambisi dan misi orangtua. Anak yang lahir, memiliki kehidupan yang akan dijalani sesuai keinginanku. Kita sebagai orangtua enggak boleh menjadikan anak seperti boneka kayu yang talinya dikendalikan oleh kita sesuka hati." Karen tak sungkan menunjukkan pendapat yang bertentangan dengan ayah mertuanya.
Karen menghela napas panjang setelah berbicara dengan ayah Barack. Berbulan-bulan lalu, Oma Belle terus mendesaknya memiliki anak dan sekarang giliran ayah mertuanya yang menekannya. Meski ia telah mengubah pandangannya tentang kehadiran anak dalam pernikahan, tetapi terus mendapat desakan seperti ini tentu saja membuatnya stres.
Di sisi lain, Oma Belle baru saja tiba di kantor perusahaan. Ya, dia sudah cukup lama tak berkunjung sekaligus memantau kinerja staf terutama di bagian penjualan. Begitu tiba, dia langsung menuju ke ruang kepala Humas yang menjadi mata-matanya di kantor ini. Termasuk mengawasi gerak-gerik tiga pria dewasa yang dalam kungkungan Oma Belle. Siapa lagi kalau bukan kakek Aswono, ayah Barack, dan juga Chalvin.
"Heh, ada gosip baru gak di kantor?" tanya Oma Belle.
"Tentu saja ada, Madam. Madam datang di waktu yang tepat karena gosipnya masih memanas di kalangan karyawan. Bahkan menggemparkan lantai bawah sampai lantai atas," ucap pria berperawakan melambai yang menjabat sebagai kepala Humas sekaligus agen mata-mata Oma Belle.
"Gosip apa lagi, hah? Gosip baik atau buruk," tanya Oma Belle sambil mengipas-ngipas wajahnya.
"Yang namanya gosip, ya, selalu buruklah, Madam. Soalnya kita-kita tuh lebih suka bahas kejelekan dan keburukan orang dibanding kebaikannya. Eits, tapi ada kabar baik juga yang mau saya sampaikan sama Madam. Madam tinggal mau dengar yang mana dulu, kabar baik atau gosip buruk yang lagi beredar?"
__ADS_1
"Kabar baik dulu aja!"
Pria setengah matang itu lalu maju mendekat seraya berbisik. "Kemarin, saya sempat dengar pak Aswono minta rekomendasi wedding organizer terbaik di Jakarta. Denger-denger, pak Aswono berencana adain pesta pernikahan yang megah."
Tarikan napas Oma Belle terdengar nyaring tanda dia sungguh terkejut dengan kabar tersebut. Namun, detik selanjutnya senyumnya malah merekah bahkan deretan giginya pun turut tampil.
"Itu pasti untuk Chalvin. Kita memang berniat untuk segera menikahkan Chalvin," ucapnya dengan raut senang.
Pria melambai itu ikut membenarkan dugaannya. "Saya juga mikirnya ke situ, Madam! Apalagi timing-nya bertepatan dengan gosip yang beredar tentang pak Chalvin."
"Gosip yang kamu serbarkan kalo Chalvin mau nikah, kan?"
"Bu–bukan, Madam. Kali ini lebih sensasional! Aa ... tapi saya enggak enak ngomongnya. Soalnya, takut Madam Belle jadi naik tensi gitcu," ucapnya ragu-ragu.
"Bikin ulah apa lagi dia?" tanya Oma Belle tak sabaran.
"Tenang, Madam. Kali ini pak Chalvin gak bikin ulah, dia cuma berhasil bikin anak, kok."
"Apa? Bikin anak?"
"Iya, Madam. Jadi gosip yang sedang trending di kalangan karyawan, pak Chalvin menghamili salah satu model kita. Bahkan ada bukti foto pak Chalvin sedang duduk di antrian poli kandungan."
Di waktu yang sama, sekretaris Chalvin memasuki ruangan pria itu sambil menginfokan kalau dia telah menyerahkan berkas pada pak Barack. Dia juga memberitahukan kalau Chalvin sudah boleh pergi ke pabrik karena para staf telah menunggunya untuk berangkat bersama. Namun, Chalvin malah meminta waktu untuk menunggu seseorang. Tampaknya, ia tengah menanti kehadiran Nadya yang diharapkan dapat meredam gosip yang terus berkembang.
"Ada Karen gak di sana?" tanya Chalvin sejenak sambil melihat jam tangannya.
"Iya, tadi aku ketemu dia," jawab sekretaris itu sambil mendekat ke arah Chalvin.
Chalvin pun berpikir mungkin Nadya sedang bertemu dengan Karen saat ini.
"Gosip yang beredar itu gak bener, kan?" tanya Brella sambil memperbaiki posisi kerah kameja Chalvin yang terangkat.
"Ya, enggaklah! Kamu tahu sendiri kan aku gak mungkin ceroboh hamili orang. Lagian Karen itu ...." Kalimat Chalvin terpotong saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.
"Chalviiiiiinnn ...." Bak singa lapar, Oma Belle langsung menerobos masuk ke ruangan itu lalu menghampiri Chalvin dan sekretarisnya yang tampak bermesraan.
"Berani-beraninya kamu mencoreng nama baik keluarga yang telah dijaga secara turun temurun!" Oma Belle langsung memukulkan tas jinjingnya ke arah Chalvin. Naas, tas itu malah menampar wajah mulus sang sekretarisnya yang berada di hadapan Chalvin.
Chalvin tentu terkejut melihat amukan Omanya. "Oma ada apa, sih? Datang-datang ngamuk kek orang gak kebagian bansos.
__ADS_1
"Diam kamu!" Oma Belle kembali melayangkan tasnya ke arah Chalvin. Namun, tas itu kalah cepat dari Chalvin yang lebih dulu menunduk. Alhasil, tas itu kembali mengenai kepala Brella.
"Sini kamu! Kamu tuh disuruh nikah, bukan disuruh hamilin anak orang!"
Merasa terganggu dengan keberadaan Brella yang berdiri di antara mereka, Oma Belle lantas mendorongnya ke samping. Sementara Chalvin langsung menghindari Oma Belle. Oma dan cucu itu kini malah kejar-kejaran di ruangan itu.
"Cepet kasih tahu siapa wanita murahan yang mau nampung benih dari kamu tanpa ikatan pernikahan!"
Paham jika Omanya telah mengetahui gosip yang merebak di kantor, Chalvin pun berkata, "Oma bisa tenang dikit gak, sih! Gimana aku mau jelasin kalo Oma kayak gini!"
Oma berhenti sejenak sambil mengambil napas. Kesempatan ini digunakan Chalvin untuk menjelaskan.
"Yang aku temani ke dokter kandungan itu Karen, bukan siapa-siapa kok."
"Apa?! Jadi wanita yang kamu hamili itu adalah Karen?" Di luar nalar, Oma Belle malah semakin naik pitam karena gagal memahami maksud Chalvin.
.
.
.
catatan author ✍️✍️
Kalo baca di novel-novel, lihat di drama-drama atau film kok orang kaya rata-rata cuma punya anak satu? Nah, jadi ini bukan cuma di serial fiktif, ya. Di real life, orang kaya itu emang jarang punya banyak anak. Ya, paling punya anak 1 atau dua. Ya, kalo kebobolan paling 3 gitu. Kalo ada yang punya anak lebih dari 3 itu anomali ya, ada tapi jarang banget.
Kenapa begitu? Pertama, ini tentang waktu. orang kaya itu bukan uangnya yang berharga, tapi waktu. waktu mereka digunakan untuk bekerja, membangun relasi, dll sehingga mereka gak punya kesempatan untuk mempersiapkan kehadiran seorang anak. Apalagi kalau yang istrinya juga wanita karir kaya mami Valen.
kedua, mereka beranggapan banyak anak banyak uang yang harus dikeluarkan. yup, biaya mengurus anak bagi orang kaya itu mahal Gays. bayangkan baru mengandung aja dimasukin asuransi, pas masih kecil udah dimasukin les privat bahasa, les balet, les musik sampai diajarin berkuda dan olahraga elit lainnya, belum lagi biaya jenjang pendidikannya yang enggak murah. semua itu mahal. Sehingga, satu anak pun itu udah memakan biaya yg gak sedikit. Intinya ada tuntutan untuk melahirkan anak yang ber-SDM tinggi. So, jadi anak orang kaya itu juga ga enak ya, karena dituntut harus serba bisa.
ketiga, anak bisa menjadi biang masalah bagi mereka. kenapa gitu? bayangin aja, kalau anaknya salah jalan, nakal, dan susah diatur. pake narkoba misalnya, atau gak sengaja nabrak orang. Itu akan mempengaruhi reputasi mereka dan bisnis mereka.
Oh iya, kategori kaya yang aku maksud di sini itu konglomerat atau crazy rich bukan horank kaya biasa. Kaya itu juga banyak tingkatan. ini cuma sekedar sharing aja ya, karena sebelumnya gua juga penasaran kenapa orang kaya itu anaknya cuma dikit.
Oh iya, mengenai tentang ruang kamar yang gak kedap suara. Ini banyak yg komen, ya. kok orang kaya kamarnya gak kedap suara. Pertama, tembok itu sama aja gays. gak ada istilahnya tembok orang kaya lebih kedap suara dibanding tembok orang miskin misalnya. yang bikin kamar jadi kedap suara itu adanya penambahan elemen seperti dry wall, busa, panel akustik, sampai pintu khusus yang didesain sedemikian rupa. So, ini tergantung tuan rumahnya, masang ini gak di kamar mereka?
hotel aja banyak loh yang gak kedap suara. apalagi rumah. Lagian waktu pindah kan Darren udah kasih peringatan karena Karen tuh berisik banget kalo lagi making love. So, gak semua rumah orang kaya itu ter- ter- canggih. tergantung konsep rumahnya, modern kekinian atau rumah mewah tempo dulu kek rumah kakek Aswono ini.
Sekian celotehanku, sampai jumpa dicelotehan berikutnya. Terima kasih atas dukungannya selama ini.
__ADS_1