
Ada yang bilang, setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Mudah menyerah misalnya. Jelang ujian akhir semester, ada-ada saja tradisi yang dilakukan para mahasiswa. Mulai dari menyelesaikan tugas-tugas dengan menggunakan metode sistem kebut semalam, hingga membekali ponsel pintar dengan paket data berkuota besar tanpa batas agar memudahkan mereka mengerjakan soal dengan mencari jawaban di internet.
Bagi yang tak mampu, mereka memilih membuka kembali materi yang diberikan dosen. Bukan untuk dipelajari atau dihafal mati-matian, melainkan dengan me-screen shoot materi yang berkemungkinan keluar di ujian nanti. Para dosen mendadak menjadi selebritis yang dikejar-kejar mahasiswa untuk pengumpulan tugas.
Hal ini berlaku juga pada Feril dan pasukannya. Jika biasanya mereka kerap berkumpul, kali ini semuanya berpencar untuk mencari dosen-dosen di mata kuliah mereka yang bermasalah.
Dimulai dari Feril yang tengah mengejar-ngejar dosen mata kuliah statistika untuk pengumpulan tugas-tugasnya selama satu semester penuh.
"Pak, Pak, tolong terima tugas saya, Pak!" Feril memasang wajah memelas di hadapan dosen yang rambutnya mirip gulungan ombak di pantai.
"Kamu baru mau ngumpul tugas?" tanya bapak itu dengan suara yang melengking.
Feril mengangguk-angguk sambil tersenyum bodoh. "Soalnya saya baru aja berduka, Pak. Eyang Elisabeth meninggal dunia, Pak."
"Emangnya kamu apanya ratu Elisabeth? Turunannya aja bukan!" Dosen itu menggeleng-geleng kepala.
Feril menyengir. "Emang bukan turunan, sih, Pak. Cuma tanjakan aja."
Jawaban Feril membuat dosen itu berdecak kesal dan langsung beranjak.
"Pak, gimana dengan tugas saya?"
"Terlambat sudah kau datang padaku!" ketus dosen itu mengambil petikan lirik sebuah lagu lawas.
Dosen itu masuk ke mobilnya. Feril berusaha menahannya dengan berpegangan pada pintu mobil.
"Pak, Bapak mau ke mana? Terima dulu tugas saya. Gak papa kalau diperiksanya kapan-kapan. Gak diperiksa-periksa juga gak papa, Pak." Feril malah kembali memelas bin maksa.
"Enak aja main perintah saya! Minggir, saya mau ke pesta dulu!"
Feril terdorong ke samping. Tak menyerah, ia malah mengetuk-ngetuk jendela mobil. Sayangnya, ia tetap diabaikan hingga mobil itu meninggalkannya
"Semoga Bapak makan daging pesta yang potongannya lengkuas semua!" teriak Feril dengan kesal.
Setali tiga uang dengan Feril, si gimbal pun turut berjuang agar tugas-tugasnya bisa diterima dosen yang bersangkutan. Menunggu di depan ruang dosen selama berjam-jam, akhirnya dosen yang hendak ditemuinya pun muncul. Ia langsung menghadang dosen tersebut dengan wajah semringah tanpa dosa. Tanpa basa-basi, ia langsung menyerahkan setumpuk tugas pada dosen tersebut. Tak ayal, omelan pun langsung keluar dari mulut sang dosen bagaikan naga yang menyemburkan api.
"Saya kasih kesempatan berbulan-bulan, kamu ngapain aja? Ngapain?"
"A ... a ... sibuk lurusin rambut, Pak!" jawab gimbal tersenyum lebar, memamerkan gigi depannya yang bolong di tengah.
"Tapi rambut kamu gak lurus-lurus, tuh!"
"Makanya saya sibuk terus, Pak!"
__ADS_1
"Saya sarankan sebelum lurusin rambut, kamu lurusin dulu otak kamu yang miring!"
Berbeda dengan Feril dan si gimbal, kawan mereka yang bertampang Jamet malah nekat mendatangi rumah dosen hanya untuk menyetor tugas. Apesnya, dia malah disuruh berbelanja di pasar sekaligus menjemput anak sang dosen di sekolahnya.
"Terima kasih, ya!" ucap dosen perempuan itu begitu si Jamet selesai berbelanja dan menjemput anaknya, "oh, iya, uang kamu yang terpakai berapa, ya?" tanya dosen itu sembari membuka dompetnya.
"Gak usah ganti, Bu," tolak si Jamet.
"Beneran, nih?"
"Iya, Bu. Gak papa."
"Ya, sudah ... terima kasih, ya!"
"Terus, Bu, gimana dengan tugas saya? Ibu masih mau terima, kan?" ucap Jamet dengan mata berbinar cerah.
"Hah? Kamu baru mau ngumpulin tugas pas tenggat waktunya dah berakhir sebulan lalu?"
Alih-alih tugasnya segera diterima, si Jamet malah dapat ceramah gratis dari sang dosen yang menjadi kaprodi mereka.
Dari semua usaha yang Feril dan kawan-kawan lakukan, tak ada satu pun yang berhasil. Mereka kembali nongkrong di tempat biasa sambil berbagi kisah ngenes mereka.
"Kesel gua. Dah disuruh belanja ke pasar sama jemput anaknya masih juga tugas gak diterima. Dikirain kita bolak balik ke rumah dia pakai sapu terbang apa?" keluh Jamet.
"Emang lu berdua bikin kesalahan apa sama Mr. ribet? Bukannya kita gak pernah bolos di jam mata kuliahnya?" tanya Feril.
"Iya. Masalahnya dia ingat kita udah sering gak taati peraturan pakai kameja putih."
"Hah? Cuma gitu doang terus dia gak kasih lu berdua masuk ujian?" Mata Feril melotot tak percaya. Pasalnya, dengan tak mengikuti UAS, maka kedua temannya itu terancam tak lulus di mata kuliah tersebut. Ini karena jumlah presentase penilaian tertinggi terletak di UAS.
"Yoi. Katanya kita gak pernah taati peraturan yang dia buat. Ada-ada aja, kan?"
"Tapi gua dah ngadu sama dosen PA kita! Gak tahu mau dibantuin atau gak!" sambung teman satunya sambil mengangkat bahu.
"Emang siapa dosen PA lu berdua?" tanya mereka.
"Pak Darren."
"Hah, pak Darren?" Feril terkejut, lalu tertawa remeh, "mana berani dosen kemarin sore ngelawan Mr. Ribet! Udah tamat dah riwayat kalian," cibirnya.
Di tengah perbincangan itu, datanglah seseorang dari spesies yang sama, tapi bukan bagian dari kelompok mereka. "Broskie, lu kenapa? By the way, udah mau akhir semester, nih! Lu gak lupa kan sama taruhan kita? Or ... jangan-jangan ... lu dah nyerah karena ditolak mulu sama Karen."
Senyum penuh cibiran terlihat terang-terangan dari mulut pria itu. Rupanya dia adalah lawan taruhan Feril.
__ADS_1
"Tenang aja, gua masih pedekate sama doi," ucap Feril yang tampak malas meladeninya.
"Wuih, lama amat pedekate-nya! Don't forget, ya, Broskie, batas taruhan kita sampai akhir semester ini. Kalau lu kalah, siap-siap ngasih duit ke gua!" Pria itu menepuk punggung Feril, kemudian pergi.
(Broskie: sinonim bestie, tapi khusus sapaan cowok)
"Udah, nyerah aja, Ril." Si gimbal menyarankan.
"Gak bisa! Enak aja dia dapat duit dari gua!" Feril mulai memutar otak mencari cara agar bisa menjadikan Karen sebagai kekasihnya dalam waktu dekat.
Feril memasuki gedung fakultas mereka untuk mencari keberadaan Karen. Teman-temannya masih setia mengekor bagai anak ayam yang tak bisa lepas dari induknya. Saat memasuki kelas yang baru saja ditempati anak semester 3, dia malah tak menemukan keberadaan Karen di sana.
Ketika tengah mencari Karen, ia dan kawan-kawannya malah tak sengaja melihat Darren dan pak Budi Luhur tengah berdebat. Rupanya, pria lulusan London itu sedang membicarakan dua kawan Feril yang tak diizinkan masuk mengikuti UAS mata kuliah yang diajarkan pak Budi Luhur hanya karena tak memakai kameja putih.
"Eh, eh, itu Pak Darren sama Mr. Ribet, kan?" Feril dan kawan-kawannya langsung bersembunyi sambil mengintip dan menguping pembicaraan.
"Mereka ini mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi, bukan level anak sekolahan lagi. Tolong biarkan mereka tetap mengikuti UAS di mata kuliah, Bapak." Darren membujuk pak Budi Luhur.
"Ini aturan yang saya buat untuk kelas saya terkait kedisiplinan dan keseragaman supaya tidak ada kesenjangan sosial di kelas saya. Pak Darren pasti juga punya aturan di kelas Bapak, kan?" tegas Pak Budi luhur yang tetap pada pendiriannya.
"Setiap aturan yang dibuat pasti ada kebijakan yang mengikutinya. Pelanggaran yang mereka buat masih bisa ditolerir dengan kebijakan Bapak. Lagi pula, aturan yang Bapak buat di kelas terlalu kaku untuk level mahasiswa jaman sekarang."
"Maksud kamu aturan saya cocok diterapkan di jaman Purba?" Pak Budi Luhur tampak tersinggung dengan balasan Darren.
Darren menggeleng kaku. "Itu bukan kalimat saya. Tapi, aturan yang mengharuskan mahasiswa memakai kameja putih di kelas Bapak, menurut saya kurang masuk untuk fakultas kita. Kenapa masyarakat di negara kita sulit menerima keanekaragaman? Karena sejak bangku sekolah, mereka hanya diperkenalkan tentang keseragaman. Dari TK sampai SMA sudah mengikuti aturan yang mewajibkan mereka memakai pakaian dan sepatu dengan warna yang sama. Jadi biarlah mereka berekspresi di jenjang universitas selama tidak melanggar batas norma."
Pembelaan Darren, membuat Feril dan kawan-kawannya tertegun.
"Gak nyangka pak Darren segitunya ngebujuk Mr. Ribet buat kita, Cuy! Padahal kita aja sering bolos di mata kuliahnya," ucap teman Feril yang bermasalah dengan mata kuliah pak Budi Luhur.
Sementara itu, Karen ternyata sedang berada di perpustakaan. Berada di tempat yang biasa diduduki Darren, perempuan itu tampak serius belajar sebagai bekal ujian akhir yang semakin mendekati hilal.
Kalau aku dapat nilai tinggi di semua mata kuliah, pasti Darren akan senang dan bangga sama aku.
Tak lama kemudian, Darren masuk ke perpustakaan dengan mata yang langsung tertuju pada pojok favorit mereka. Ia tersenyum simpul saat melihat istrinya begitu tekun belajar. Baru saja hendak menghampiri Karen, langkahnya tertahan seketika saat Feril lebih dulu menyerobot lalu mendekati Karen dengan duduk di sampingnya.
Darren lantas terbelalak kaget. Pasalnya ia mengingat jelas wajah Feril sebagai sosok mahasiswa yang kala itu berapi-api menyatakan menyukai istrinya.
.
.
.
__ADS_1