Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Apa Benar Dia?


__ADS_3

Pagi itu.


Tubuh Zoya kembali tersentak, tetapi dalam detik selanjutnya dia kembali mendesaah karena basah. Bukan hanya tubuhnya, tetapi organ yang tengah dihujam oleh ular python milik Ken pun sama.


Pagi-pagi buta mereka sudah berendam di dalam bathtub, tetapi takkan mungkin hanya sekedar berendam, jika hal itu dilakukan bersama pria matang ini. Selalu ada kegiatan yang menyenangkan sekaligus menegangkan.


Air yang semula terasa hangat, kini justru memanas karena ulah keduanya.


Zoya memegang erat pinggiran bathtub, sedangkan Ken terus menggoyangkan pinggulnya, hingga menyebabkan air didalam bathtub itu bergerak kencang mengikuti laju hentakan yang Ken buat dengan brutal.


"Baby, calling my name, (Sayang, panggil namaku,)" ucap Ken, dia menekan pinggul Zoya, agar hentakan itu terasa semakin dalam.


Dan Zoya selalu patuh pada perintah Ken, bibir mungilnya terus menyebut nama pria itu disela-sela desahaannya. "Ah, Ken! Shh...."


Suara desaahan keduanya bersahut-sahutan di kamar mandi, dan Ken bergerak semakin menggila membuat Zoya merasakan kenikmatan tak habis-habis.


Hingga tanpa tahu malu, Zoya meminta Ken untuk menggigit pucuknya yang terombang-ambing. "Gigit aku, Hubby!"


Mendengar itu, Ken tersenyum lebar, dia suka, sangat suka Zoyanya yang nakal, tanpa sungkan ia melahap gundukkan itu tanpa ampun, membuat si empunya melenguh merdu. "Ken, Sayang, faster!"


Ken menekan miliknya lebih dalam. Namun, sebelum puncak itu datang, dia memeluk tubuh Zoya dan mengangkatnya. Pria matang itu menggiring tubuh ramping Zoya merapat ke tembok dan memulai kembali aksinya.


Kedua tangan Zoya dikunci dia atas kepala. Sementara kaki jenjangnya melingkar penuh di pinggang Ken.


Pria gagah itu menghentak tubuh Zoya dengan sedikit kasar, tetapi perlakuan itu justru membuat Zoya merasa senang. Apalagi milik Ken yang teramat panjang dan besar. Itu semua benar-benar memberinya surga kenikmatan.


"Zoy, katakan kamu mencintaiku. Aku ingin mendengarnya," ucap Ken di antara erangannya, dia sedikit memelan, ingin Zoya mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu sebelum mereka mendapat pelepasan.


Mendengar keinginan Ken, Zoya membuka matanya yang semula tertutup. "Yeah, Ken. I love you, aku mencintaimu, Hubby."


Ken mengulum senyum, kening keduanya menyatu, dan selagi Ken merampas bibir yang baru saja mengucapakan kalimat termanis itu, dia kembali menggerakkan tubuhnya di bawah sana.

__ADS_1


Kalimat itu senantiasa terngiang-ngiang, membuatnya semakin bersemangat untuk menyentak kuat, hingga akhirnya Zoya lebih dulu mendapatkan pelepasannya.


Dan tak berapa lama kemudian, Ken menyusul kekasihnya, dia menjerit nikmat seraya menekan ular python agar melesak lebih dalam. "Love you more, Baby." Lirih Ken sambil melepaskan bisanya.


*


*


*


Setelah melewati pagi yang panas. Ken memesan makanan untuk mengisi perut mereka yang kelaparan. Semalam mereka begadang, pagi pun harus bangun lebih awal.


Rasanya mereka membutuhkan asupan lebih hari ini, untuk mengisi tenaga yang hilang.


Sambil menunggu, Ken membantu Zoya mengeringkan rambutnya. Seolah tak memiliki pakaian, keduanya hanya menggunakan handuk kimono, dan sepertinya akan terus seperti itu.


Setelah selesai membantu gadisnya, Ken memeluk tubuh Zoya dari belakang, dan menatap pantulan wajah mereka di balik cermin yang ada di depan sana.


"Sudah bermain sebanyak ini, tapi aku masih belum puas juga," ucap Ken sambil meletakkan wajahnya di bahu Zoya.


Dan yang Zoya lakukan adalah mencubit lengan kekar pria matang itu. "Harusnya aku sadar dari dulu, Hubby adalah satu-satunya orang yang tidak memiliki rasa lelah."


Mendengar itu, Ken terkekeh dan semakin gencar menciumi wajah Zoya. "Hanya denganmu, Sayang. Aku tidak akan pernah merasa lelah. Karena kamu sumber tenagaku."


Zoya hanya menjulurkan lidahnya kecil, untuk meledek Ken. Dan pria itu tak tinggal diam, dia malah merampas bibir Zoya, menarik lidah gadis itu dan disesapnya.


Namun, Ken tidak meneruskan kelakuannya, melihat wajah Zoya yang sudah kelelahan sedikit membuatnya tak tega. Dia takut Zoya malah akan sakit nantinya.


Dan tak berapa lama kemudian, makanan yang Ken pesan telah datang. Dia mendekat ke arah Zoya yang kini tengah berbaring di atas ranjang.


"Baby, ayo kita makan dulu. Habis itu istirahat lagi," ajak Ken sambil membantu Zoya untuk bangun. Gadis itu terlihat lesu dengan bibir yang sedikit pucat.

__ADS_1


Patuh, Zoya segera mendudukkan dirinya. Ken mengambil satu sandwich dan menyerahkannya pada Zoya. Dengan senang hati gadis itu menerima makanan itu, dan langsung melahapnya.


"Selamat makan, Sayang," ucap Ken sambil mengecup pipi Zoya.


Namun, dalam kunyahan pertama Zoya merasa ada yang aneh. Perutnya mendadak bergejolak, apalagi saat dia mencium aroma saus tomat. Dia segera menyerahkan sandwich tersebut kepada Ken, sementara kakinya langsung berlari ke arah kamar mandi.


"Baby, ada apa?" tanya Ken khawatir, dan Zoya tidak menggubris pertanyaan itu, fokusnya sekarang hanyalah apa yang ada di dalam mulutnya.


Dia ingin segera memuntahkannya. "Huwek!" Zoya langsung mengeluarkan sandwich yang sempat dia gigit, sementara rasa mual itu semakin menyerang.


"Huwek!"


"Astaga, Baby. Ada apa denganmu?" Ken yang teramat khawatir langsung ikut memijit tengkuk Zoya, hingga gadis itu sedikit merasa lega. Dia segera membasuh mulutnya.


"Baby, are you okey? (Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ken dengan raut cemas.


Pelan, Zoya mengangguk. Tetapi tiba-tiba dia meraba perutnya yang rata, dia baru ingat kalau dia sudah telat datang bulan setelah dia menghabiskan malam panjang bersama Ken, dan semenjak itu pula, dia sudah tidak meminum pil kecil itu.


Lantas sekarang dia malah mual-mual seperti ini.


Deg!


Apa benar dia?


*


*


*


Hayo lho😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2