Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kedatangan Nora


__ADS_3

Nora segera meletakkan kembali satu lembar yang berisi pil-pil kecil itu ke dalam laci nakas milik Zoya.


Pikirannya semakin dibuat kacau dengan penemuan ini, benarkah benda itu milik Zoya? Benarkah tanda merah di tengkuk gadis itu Ken yang membuatnya?


Netra Nora tak berhenti melebar sempurna, disertai mulut yang menganga. Dia benar-benar sangat frustasi sekarang, apa yang harus dia lakukan?


"Apa aku harus memberitahu Kakek?" tanyanya pada diri sendiri, tetapi dia belum bisa membuktikan itu semua benar adanya, sebelum dia memergoki kedua orang itu.


Dia tidak mau salah sangka, selama ini Zoya juga baik padanya. Kalau sampai dia membuat gadis itu dalam bahaya, maka dia akan menjadi orang yang paling jahat.


Nora menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Lalu cepat-cepat pergi dari sana, untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Dia tidak boleh gegabah, atau semuanya akan kacau. Karena pasti Ken akan semakin membencinya.


Malam pun tiba, seperti biasa setelah makan malam bersama, Zoya segera pamit untuk naik ke atas.


Dia bersiap-siap untuk tidur, kali ini dia hanya menggunakan gaun tidur yang menggantung sebatas paha.


Belum sempat dia merebahkan diri, pintu kamarnya diketuk. Zoya bergeming sesaat, karena tidak biasanya Ken mengetuk pintu jika ingin masuk ke dalam kamarnya.


Namun, kalau bukan Ken, lantas siapa?


Tanpa pikir panjang, Zoya membuka pintu itu. Dan menampilkan Nora yang tengah tersenyum ke arahnya. Membuat Zoya ikut tersenyum pula.


"Zoy, aku boleh masuk?" izinnya pada gadis itu.


Awalnya Zoya sedikit terkejut, tetapi dia menetralkan keterkejutan itu dengan mengangguk. "Boleh dong, Kak."


Akhirnya kedua orang itu duduk berdampingan di sofa panjang yang ada di kamar Zoya.


Nora menatap sekeliling, untuk pertama kalinya dia masuk ke kamar Zoya. Ah tidak, ini yang kedua.


Tapi sekarang ada gadis itu di sampingnya. Zoya hanya bisa bergeming, menunggu Nora bersuara, dia dibuat bingung, kenapa Nora tiba-tiba meminta izin untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Apa Kak Nora memiliki tujuan?


"Kamar kamu bagus ya, Zoy. Aku baru masuk langsung suka, nyesel deh nggak pernah masuk ke sini," ujarnya memecah kesunyian yang sempat menyapa.


Mendengar itu, Zoya mengulum senyum. "Ini semua Mommy yang design. Tapi ya uangnya dari Daddy."


"Wah sepertinya Mommy kamu sayang banget yah sama kamu, walaupun dia begitu," ceplos Nora dengan sengaja, membuat Zoya seketika terdiam.


"Ah, Zoy aku minta maaf. Aku tidak sengaja mengatakannya, aku hanya ingin menasehatimu supaya kamu tidak mengikuti jejak ibumu, meskipun itu untuk kebaikan anakmu," ralat Nora cepat-cepat.


Zoya berusaha tersenyum, meski hatinya terasa sedikit ngilu mendengar ucapan Nora.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti, Mommy memang sangat menyayangiku, tapi cara dia salah."


"Yah... Semoga sifat buruk dia tidak menurun padamu."


Zoya hanya manggut-manggut, dia semakin merasa tersindir. Karena sepertinya Nora mulai tahu sesuatu tentang dirinya.


"Oh ya, ngomong-ngomong apa kamu punya pacar, Zoy?" tanya Nora dengan netra yang menyelidik.


"Soalnya aku pernah melihat tanda merah di tengkukmu."


Deg!


Wajah Zoya mulai pias. Benar, sepertinya Nora tahu sesuatu. Zoya menggigit bibir bawahnya kuat, merasa cemas.


Dan semua itu tak lepas dari pengamatan Nora. Jantungnya kembali berdebar, benarkah raut wajah itu mengartikan bahwa Zoya sedang merasa ketakutan, takut rahasianya terbongkar.


"Kak Nora," panggil Zoya.


Membuyarkan lamunan wanita itu. "Hemmm."


Zoya menelan ludahnya kasar. Dan menundukkan kepalanya. "Aku ingin mengatakan semuanya pada Kak Nora, tapi Kak Nora janji, jangan beritahu siapapun!"

__ADS_1


Deg!


Darah Nora seperti membeku, berhenti dan tak mengalir lagi, sekuat tenaga dia menahan gemetar di tubuhnya, dengan gemuruh yang menggelora.


"Apa yang ingin kamu katakan, Zoy?" tanya Nora menatap lekat Zoya, dengan nafas yang terasa tercekat.


Pelan, Zoya mengangkat kepalanya, dan menatap Nora dengan takut-takut.


"Sebenarnya, aku, aku memang punya pacar, Kak. Tapi Kak Nora jangan beritahu Daddy yah."


Hah!


"Apa?" Nora nampak terkejut, dengan apa yang Zoya katakan. Apa maksudnya?


"Iya, Kak. Sebenarnya selama ini aku pacaran sembunyi-sembunyi di belakang Daddy, aku tidak mau dia tahu, karena Daddy pasti melarangku, dan menyuruhku untuk putus," terang gadis itu dengan wajah yang dibuat sendu.


"Kenapa begitu?"


"Karena itu semua amanat dari Mommy, dan Daddy selalu menepati apa yang diperintahkan Mommy padanya, termasuk mengenai pacarku. Aku tidak boleh pacaran sebelum aku lulus kuliah."


Jadi Zoya sebenarnya punya pacar? Apa bekas kemerahan itu pacar Zoya yang membuatnya, begitu juga pil kontrasepsi itu?


Pikiran Nora semakin dibuat bingung.


"Kak, please! Janji pada Zoya untuk tidak memberitahukan semuanya pada Daddy," ujar Zoya dengan wajah memohon, bahkan dia sampai memegangi kedua tangan Nora.


Hingga akhirnya, wanita dewasa itu mengangguk pasrah. Sepertinya dia sudah salah sangka, meskipun dia belum sepenuhnya percaya.


*


*


*

__ADS_1


Yah dikadalinnnn🤣🤣🤣


__ADS_2