Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Tingkah Anak Uler


__ADS_3

"Hehe, An kila biji cemangka."


Mendengar itu, kelopak mata Zoya melebar dengan sempurna, sementara suara tangis El semakin pecah. "Ituh butan biji cemangka, ituh mata beka!" Seru El menjelaskan pada Aneeq bahwa perkiraan bocah tampan itu salah.


Zoya memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut-denyut, ia merasa pusing akibat serangan anak-anak ularnya, untung saja dia tidak memiliki riwayat darah tinggi, kalau iya mungkin dia sudah mati berdiri.


"Good Boy!" ucap Zoya dengan senyum terpaksa, sementara keempat putranya terkekeh geli melihat biji mata boneka kesayangan El yang berada di tangan Aneeq.


"Huaaaa ... Tetty, Kak An natal. Beka El matana ilang," teriak bocah cantik itu, semakin menggulingkan badannya di lantai.


Zoya kembali berjongkok, ia terus mengusap-usap kepala El yang sudah berkeringat.


"Sayang, El, nanti kita beli lagi dengan Daddy. Sekarang ayo kita mandi terus makan dulu," bujuk Zoya berharap El mau menuruti perintahnya.


Namun, sepertinya peelet yang Ken pakai untuk menjampi-jampi putrinya ini sangat manjur hingga El tetap tak mau bangun.


"Ndak au! El mau cama Tetty. Tetty, beka El ndak ada matana," tolak El mentah-mentah, ia malah semakin sesenggukan dan memanggil-manggil sang ayah. Seolah tengah mengadu pada cinta pertamanya itu.


Zoya menghembuskan nafas kasar. Tidak ada pilihan lagi, ia harus menghubungi Ken untuk membujuk El. Namun, niat wanita itu kembali urung, begitu mendengar suara kakek Abian yang berteriak dari bawah memanggil nama-nama anaknya.


"ABCDE, cicitnya Eyang Kakung yang pinter, turun yuk. Ada Caka nih," panggil pria paruh baya itu dengan suaranya yang cukup serak.

__ADS_1


Pagi-pagi Siska dan Caka sudah singgah di mansion milik keluarga Tan. Karena Siska sedang membawa putranya itu jalan-jalan. Saat melewati bangunan megah ini, tiba-tiba Caka meminta berhenti, ia menunjuk-nunjuk tanda ingin masuk.


Hingga di sinilah kedua orang itu sekarang.


Mendengar nama Caka, El langsung bangun dari lantai, dia sudah seperti melihat setan. Zoya sampai merasa heran dengan tingkah putrinya yang tiba-tiba berlari dan bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Lho kenapa, Nak?" tanya Zoya sambil menghindari El, supaya bocah cantik itu keluar dari persembunyian.


"Mayu, El ndak au nanis ada Caca."


Zoya langsung melongo, hanya karena ada Caka, bocah cilik ini langsung berhenti menangis dengan alasan malu? Benar-benar aneh bin ajaib.


"Ya sudah makanya anak cantik jangan menangis. Sekarang hapus air matanya, kita turun ke bawah yah," ucap Zoya sambil membantu El menghapus jejak basah di mata dan pipinya.


Namun, cobaan Zoya sepertinya belum berakhir, karena ada satu anak ular lagi yang sulit untuk diatur. Aneeq terus menyembunyikan tangannya, karena tidak mau turun dengan Nova. Dia berlari ke sana ke mari dengan pekikan yang menggema.


"Ndak au!" tolaknya.


Melihat itu, bahu Zoya semakin merosot. Yang bisa ia lakukan hanyalah sabar, sabar dan sabar. El sudah bersama dengan Olaf, bocah cantik itu menurut untuk turun ke bawah. Lain dengan Aneeq yang malah lari dan tiba-tiba memeluk lutut Zoya.


"Mommy, An ndak au tulun," adunya pada sang ibu dengan menunjukkan wajah yang memelas.

__ADS_1


"Kenapa? Semua adik-adik An sudah turun, mereka semua sarapan sama-sama. An nggak mau makan juga?"


Aneeq menggeleng cepat dan semakin memperkuat sistem keamanannya dengan memeluk lutut Zoya erat. "Au mimiik acah."


Mulut Zoya menganga, kebiasaan anak satu ini juga anehnya tiada tara. Sudah lebih dari dua tahun, tapi Aneeq masih saja meminum susu langsung dari sumbernya.


"Makan dulu, Nak."


"Mimiik duyu."


"Janji habis itu makan?"


Aneeq mengangguk. "Cama Mommy matannya."


"Oke, ayo ke kamar," ajak Zoya mengalah karena dia hampir kehabisan tenaga dan Aneeq langsung melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sumringah lalu mengikuti langkah Zoya untuk mendapatkan buah kesukaannya.


*


*


*

__ADS_1


Uler-uleran nyusahin😩😩😩



__ADS_2