
Begitu sampai kamar, Zoya langsung membanting tubuhnya ke atas ranjang. Dia menelusupkan wajah ke dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya di sana.
Dia tidak percaya, Ken mengkhianatinya. Dia begitu terperangah saat Ken bilang kalau pria itu memiliki wanita lain selain dirinya.
Semua yang dia usahakan sia-sia dan tidak ada artinya. Bahkan hubungan yang mereka jalin, tidak berpengaruh apa-apa.
Semua ucapan Ken bohong, semua janji Ken palsu. Semua kalimat yang keluar dari bibir manis itu tidak ada yang dapat dipercaya. Semuanya hanya kebohongan semata.
"Daddy jahat! Dan bodohnya aku malah percaya padanya, semua yang dia ucapkan hanya omong kosong! Bulshittt, semuanya bulshittt!" maki Zoya sambil sesenggukan.
Dia juga memukul-mukul ranjang sebagai pelampiasannya. Namun, nyatanya semua itu tak dapat membuat dia merasa tenang, dia justru semakin kalut dan kesal.
Andai ada Ken di sini, dia ingin memukul habis pria itu. Agar Ken tahu bagaimana hancur perasaannya.
Dia terus seperti itu, hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya. Namun, dia memilih untuk tidak peduli, dan akhirnya seseorang itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
"Baby, hei... Kamu kenapa? Kenapa menangis seperti ini?" tanya seseorang yang sudah duduk di sisi ranjang Zoya.
Dia sengaja pulang, karena mendapat laporan dari supir yang mengantarkan Zoya, bahwa gadis itu menangis sepanjang jalan.
Dan hal itu membuat Ken merasa tak tega. Dia yakin, kalau Zoya tidak dibujuk, nanti malam gadis itu pasti tidak mau ikut dengannya.
Mendengar itu, Zoya langsung menghentikan tangisnya. Suara familiar ini berhasil membuat jantungnya kembali berdebar, organ tubuh itu memompa semakin kuat, tetapi karena tertutup oleh rasa kecewa, Zoya diam saja.
"Sayang, kemari, biar aku jelaskan. Aku sudah bilang jangan menangis, tetapi kenapa kamu cengeng sekali?" ledek Ken, sambil meraih satu tangan Zoya.
Namun, gadis itu tidak mau melihat Ken. Dia menepis tangan kekar itu, agar menjauh dari tubuhnya. Lagi pula, apa Ken tidak berpikir, pakai ditanya segala kenapa dia menangis? Kalau bukan karena rasa cintanya, lalu apa?
"Sayang, aku hanya bercanda. Aku ada meeting tadi di luar, jadi aku tidak bisa menjemputmu," jelas Ken, masih berusaha untuk membuat Zoya bangkit, dan menatap ke arahnya.
__ADS_1
Dan setelah bersusah-payah, akhirnya Ken berhasil, Ken segera memeluk tubuh ramping itu, agar tidak kembali ke posisi awal. "Hei, Baby. Kamu yang memulai, kenapa kamu juga yang marah?"
Mendengar itu, Zoya berhenti meronta, sementara air matanya masih merembes. "Aku kan hanya bercanda, kenapa Daddy malah bicara seperti itu?" tanyanya dengan bibir yang bergetar.
Ken mengulum senyum, dengan Zoya menangis seperti ini, dia tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya. Zoya memang benar-benar tulus mencintainya.
"Maafkan aku, Sayang. Habis kamu bilang bosan duluan, aku kan jadi ingin menggodamu juga."
"Bohong! Kamu pasti punya wanita lain!"
"Zoy, kamu ini bicara apa? Daddy tidak mungkin melakukan itu, cukup kamu."
"Aku tidak percaya, kali ini aku tidak percaya ucapan Daddy. Daddy jahat!"
Ken menghela nafas, mungkin bercandanya keterlaluan hingga membuat Zoya seperti ini, pria matang itu mengecupi tengkuk Zoya. "Maaf, Sayang. Apa perlu Daddy membuktikannya?"
"Tentu saja. Buktikan kalau Daddy memang hanya setia padaku, aku sudah muak mendengar omong kosong!" ketus Zoya, sepertinya gadis ini mulai berani pada Ken.
Ken semakin terdesak, dia meregangkan pelukannya dan meminta Zoya untuk duduk di pangkuannya. Awalnya Zoya menolak, tetapi Ken terus menepuk pahanya.
Hingga akhirnya gadis itu menurut, dia duduk di pangkuan sang pria. Wajah yang semula hanya menunduk Ken angkat, agar dua pasang netra itu saling menatap.
"Kamu tidak percaya lagi dengan ucapan Daddy?" tanya Ken sambil menahan dagu Zoya, agar gadis itu senantiasa menatap wajahnya.
"Hem..." Balas Zoya singkat.
Ken semakin merapatkan tubuh keduanya, hingga kedua inti berpenghalang itu saling bertemu. Zoya selalu bisa merasakan benda itu mengeras saat Ken berdekatan dengannya.
"Kalau begitu, Daddy akan membuktikannya nanti malam. Kamu akan tahu, bagaimana Daddy sangat mencintaimu, Zoya."
__ADS_1
Ken menatap dalam manik kecoklatan itu, menguncinya hingga Zoya hanyut dalam sorot mata teduh milik Ken, tidak ada lagi jarak di antara keduanya.
Ken jatuh di atas ranjang itu, dengan Zoya yang berada di atas tubuhnya. Debaran jantung mereka sama-sama menggila.
Dan dalam sekejap mata, pakaian mereka sudah berserakan di lantai, sementara pemiliknya mulai asyik bergulat, membuat penyatuan dan saling serang menyerang.
"Baby, ah! Jangan terlalu cepat, Sayang."
"Seperti ini?" Zoya menggerakkan pinggulnya dengan pengurangan tempo, membuat mulut Ken menganga.
"Ouhh, Zoya. Ya, seperti itu, Sayang." Ken meremat kedua bulatan indah milik Zoya, dan gadis itu terus memacu tubuhnya.
"Daddy, suka?"
"Yeah, i like it. Aku sangat menyukainya, Baby."
Dunia seolah kembali mereka raih, peluh yang mengucur deras seolah menjadi bukti. Betapa hebat rasa membuncah itu, hingga mereka ingin terus mengulanginya lagi, dan lagi.
Bahkan Ken sampai lupa, kalau di bawah sana, Ron tengah menunggunya. Kata sebentar itu, entah patokannya di mana, karena hampir menunggu sampai setengah jam, Ken tidak memunculkan batang hidungnya.
"Sialan, aku pasti dibohongi oleh si Gila itu!" umpat Ron, sambil memukul setir.
*
*
*
Maap gue hilap liat kebonan🤣🤣🤣 banyak yang nyirem kembang, jadi gue anu, duh anu😩😩😩
__ADS_1