Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Suasana Mansion Yang Gaduh


__ADS_3

Keadaan mansion kembali gaduh dengan anak-anak yang bermain tembak-tembakan. Bahkan kakek Abian ikut serta bermain dengan para cicitnya. Di dalam permainan itu, dia seolah-olah menjadi tawanan.


Hingga ABCD memburunya dengan pistol-pistolan di tangan masing-masing. Keempat bocah tampan itu berlari-lari sambil tertawa. Sementara Caka sibuk menemani El yang bermain motor-motoran mini, gadis cilik itu naik dan Caka yang mendorongnya.


Di wajah mereka sama sekali tak terselip beban, yang ada hanya senyum sumringah yang membuat Zoya dan Siska ikut tersenyum pula.


"Dol, dol, dol!" teriak Bee saat pistolnya terarah pada kakek Abian, dia membuat peluru dengan suaranya. Hingga tiba-tiba kakek Abian terjatuh di karpet, karena pura-pura terkena tembakan.


"Ahhh, Eyang Kakung terluka," ucap pria paruh baya itu membuat semua keempat bocah tampan itu tertawa keras, merasa berhasil melumpuhkan lawan.


"Yes, Bee menyang!" pekikan girang Bee membahana tetapi berubah kecewa saat kakek Abian bangkit lagi dari tidurnya.


"Tapi bo'ong, ternyata peluru Bee melesat," ucapnya dengan terkekeh kecil. Seketika tubuh keempat bocah tampan itu berubah lemas, tetapi kembali bersemangat saat Aneeq membawa bendera kecil, dan menaiki motor vespanya.


"Ayo celang, Iyang Ekung!"


Mereka semua kembali berlari dengan kekehan dan teriakan keras yang membuat suasana tak henti-hentinya terasa gaduh. Berbeda sekali dengan suasana sebelum si kembar lahir.


Setiap hari mansion itu tak pernah sepi, karena kelima bocah ular itu sangat aktif bermain, apalagi kalau sudah berebut susu. Sebelum susu formula itu selesai dibuatkan, mereka pasti akan memanggil baby sitter masing-masing dengan teriakan kencang, kecuali Aneeq yang langsung berpindah ke kamar.


Zoya tak henti-hentinya tersenyum dan merasa bersyukur, sebab semua anaknya tumbuh dengan sehat, bahkan mereka jarang sakit. Sebab kalau sudah ada yang jatuh sakit, yang lain pasti akan ikut-ikutan. Mereka sudah seperti sebuah satu kesatuan yang membutuhkan keselarasan.


"Hati-hati, Nak!" teriak Zoya saat De dan Choco bertabrakan, mereka memegangi kepala karena sedikit merasa sakit akibat benturan itu. De hendak memukul Choco, tetapi segera dipisahkan oleh Rathi.

__ADS_1


"De, tidak boleh begitu, anak baik jangan suka pukul-pukul yah, kan tidak sengaja. Choco juga sakit tuh," ucap Rathi dengan lembut sambil menunjuk Choco yang memberengut.


"Ayo baikan. Kalau saudara harus saling menyayangi, tidak boleh musuhan," sambung Rathi meminta kedua bocah tampan itu bersalaman. Awalnya Choco dan De saling melemparkan tatapan sengit, tetapi akhirnya Rathi mampu membuat keduanya berdamai.


Namun, belum lama setelah itu kegaduhan kembali terjadi, saat Choco mengejar kakek Abian, tetapi El dan Caka yang sedang bermain motor-motoran malah menghalangi.


El yang kala itu tengah menaiki motornya dan mengangkat satu kaki, berakhir terguling di atas lantai akibat Choco mendorong motor-motoran itu dengan cukup kencang.



BUGH!


Suara kepala El menyentuh lantai yang dilapisi karpet tebal, memang tidak terlalu sakit, tetapi namanya anak kecil pasti akan menangis bila terjatuh seperti itu.


"Astaga!" jerit Zoya tak kalah terkejutnya. Wanita itu segera berlari dan menghampiri El, dan Choco malah ikut menangis karena takut disalahkan.


"Mommy ...."


Keadaan mansion kembali ramai akibat suara tangis yang bersahut-sahutan. Zoya memeluk El dan mengusap-usap kepala Barbie kecilnya itu. Sementara Choco menempel di punggung.


"Mommy ...."


"Huaaaa .... Tetty. Kak Choco natal, paya El cakit." Adu gadis cilik itu, walaupun dalam pelukan Zoya tetapi yang dipanggil tetaplah sang ayah.

__ADS_1


Choco dibujuk oleh kakek Abian, tetapi tetap tidak mau. Sementara si sulung yang kelewat tidak mau berbagi Zoya dengan siapapun mendekat dan menarik lengan Zoya agar tidak memeluk El seperti itu.


"Mommy .... " rengek bocah tampan itu dengan wajah yang hampir menangis. "Mommy puna An. Cama An acah!" Pekiknya sambil terus menarik-narik Zoya.


Semua orang pusing. Dan yang lebih pusing di sini adalah Zoya. Karena El juga ikut berteriak, sambil menabok lengan sang kakak. "Mommy El juda. Mommy El cakit, payanya didolong Kak Choco."


Zoya baru saja ingin buka suara. Namun, urung karena kakek Abian yang ikut membujuk El. "Sini, Barbie sama Eyang aja. Kita beli apa itu boneka yang panjang warnanya hijau?"


Kakek Abian mengulurkan tangan, El yang masih menangis dengan derai air mata yang menderas memperhatikan kakek Abian.


"Ayo, kalau menunggu Daddy pasti lama," bujuknya lagi, hingga lama kelamaan El pun mau ikut dengan kakek Abian. Sementara serangan Zoya ada di antara Choco dan Aneeq.


"Mommy puna An," rengeknya dengan keras sambil menarik Zoya agar terlepas dari pelukan Choco yang menempel di punggung.


"Choco! Mommy ... El nya alang-alangin, Choconya cucah."


"Iya-iya, Nak." Zoya mengangkat kepalanya yang kembali berdenyut, dan tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sudah sampai di ambang pintu ruangan tersebut.


"Helo, Zoy dan helo cucu Opa," sapa Reymond bersama dengan Raga di belakang tubuhnya.


Deg!


"OPA!!!" teriak keempat bocah tampan itu dan berlari menghambur ke arah Reymond.

__ADS_1


__ADS_2