Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Menunggumu, Merindumu


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, sudah dua minggu Zoya pergi dari mansion, dan sampai saat ini Zoya belum mau bertemu dengan Ken. Kini, dia tinggal di sebuah kontrakan kecil, tempat yang disediakan oleh asisten Ron kala itu.


Beberapa kali Ken sudah mengunjungi gadis cantik itu, tetapi Zoya masih tetap kukuh. Dia tidak mau bertemu dengan pria yang sudah ikut membohonginya itu.


Dia ingin sendiri, menenangkan hatinya yang hancur berkeping-keping dengan semua kenyataan yang tiba-tiba terbongkar begitu saja. Bahkan di saat dia dan Ken ada dalam masalah.


Tentang dia yang bukan anak kandung Maurin. Pun dengan kedatangan Reymond yang tiba-tiba mengatakan bahwa dia adalah ayah kandungnya.


Semuanya seperti mimpi di siang bolong, yang tak dapat dia percaya begitu saja.


"Mommy, kenapa hidup Zoya seperti ini? Zoya rindu Mommy," lirih gadis itu di antara isak tangisnya, dia memeluk guling yang senantiasa menjadi teman tidurnya.


Setiap malam matanya seolah tak bisa terpejam dengan tenang. Ada saja bulir air mata yang mengalir deras menyebrangi pipi mulusnya.


Hingga malam itu, dia kembali mendengar deru suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah kontrakannya. Dan dia bisa menebak siapa itu.


Ya, Ken kembali datang, di luar sana pria matang itu menatap rumah yang senantiasa tertutup itu.


Ken baru saja pulang dari perusahaan, dan dia menyempatkan diri membelah jalan raya dengan segudang kemacetan ibu kota menuju tempat gadis yang dicintainya.


Besok adalah hari minggu, dan dia berencana untuk kembali tidur di dalam mobil menunggu Zoya sampai pagi.


Hal yang sudah dia lakukan setiap akhir pekan, dalam dua minggu ini, berharap Zoya berbaik hati dan mau mendengarkan penjelasannya.


"Baby, i miss you. Aku merindukanmu, Sayang. Aku ingin melihat wajahmu, aku ingin menciummu, aku juga ingin memelukmu seperti dulu," gumam Ken sambil menatap foto Zoya yang ada di layar ponselnya.


Mata pria itu senantiasa berkaca-kaca, bila sudah menyangkut tentang gadisnya. Entahlah, hati rapuh itu datangnya dari mana, yang jelas saat bersama Zoya, dia mampu memperlihatkan sisi yang lainnya.


Ken memberanikan diri mengetik pesan untuk Zoya. Memberitahu gadis cantik itu kalau dia ada di luar.

__ADS_1


Me : [Baby, aku merindukanmu, aku di luar. Aku menunggumu, Sayang. Kita perlu bicara.]


Setelah satu pesan itu terkirim, Ken kembali menatap pintu rumah itu, berharap ada keajaiban yang terjadi, Zoya membukanya dan membiarkan dia masuk.


Sekarang, dia harus ekstra sabar dalam menghadapi gadis itu, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya seperti dulu. Atau Zoya akan semakin menjauh darinya.


Karena kini bukan hanya tubuh gadis itu yang Ken inginkan, tetapi juga hatinya. Ken mencintai Zoya, dan akan terus seperti itu.


Zoya mendengar bunyi ponsel itu. Dia yakin kalau itu adalah pesan dari Ken, tak dipungkiri hatinya pun berdenyut, dia juga merindukan pria itu.


Dia merindukan aroma tubuh Ken yang selalu memanjakan indera penciumannya.


Suara berat pria itu yang terdengar merdu di telinganya, pun dengan dekapannya yang selalu menghangatkan hati dan tubuhnya. Dia rindu itu semua.


Bohong kalau Zoya membenci Ken, karena sebesar apapun rasa kecewanya. Dia tetap ingin pria itu yang selalu berdiri di sampingnya.


Dia senang, dia bahagia karena merasa diperjuangkan.


Air mata gadis itu semakin mengalir, hatinya mulai gentar, dia seperti tersengat, hingga menganggu kinerja jantungnya, saat ponselnya kembali menyala, dan menampilkan nama kontak Ken di sana.


Hubby🐍 : [Baby, aku akan menunggumu seperti kemarin. Aku akan tetap di sini sampai pagi. Jangan tidur terlalu malam, aku mencintaimu. I love you so much, Baby. My Queen.]


Zoya menelan ludahnya susah payah. Dan nafasnya terasa tercekat. Mengapa pesan itu terasa begitu mesra? Membuat aliran darahnya berdesir tak normal.


Lantas pada detik selanjutnya, akhirnya Zoya mengaku kalah. Dia yang memilih untuk tidak menemui Ken malah membuat hatinya semakin resah dan gelisah. Tidak ada kelegaan apapun di sana.


Tubuhnya tergerak untuk bangkit dari atas ranjang. Padahal awalnya dia ingin kembali mengacuhkan Ken. Dia ingin memilih tidak peduli, pria itu mau melakukan apa, tidur di mana.


Namun, nyatanya dia tidak bisa. Luka itu seolah mengajaknya untuk berdamai, entah sebab apa.

__ADS_1


Ceklek!


Pelan, benda persegi panjang itu terbuka. Membuat Ken yang hampir saja menutup matanya terurung seketika. Dia menoleh ke samping, tepat ke arah pintu yang menampilkan seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari sana.


Jantungnya langsung berdebar kencang, sampai dia pun bisa mendengar jelas suara detak itu. Organ yang terpompa lebih cepat, saat dia hanya bersama dengan Zoya.


Ya, hanya gadis itu yang mampu membuatnya seperti ini. Tanpa ba bi bu, Ken segera membuka pintu mobilnya.


Dan ketika dia sukses keluar dari mobil, kedua netra mereka bertemu, meski gelapnya malam sedikit menghalangi pandangan itu.


Dua jantung itu sama-sama menggila. Debarannya masih sama seperti kemarin, saat mereka belum dilimpahi masalah yang bertubi-tubi.


Dan hal itu semakin membuat keduanya yakin, bahwa dua raga mereka tak dapat dipisahkan satu sama lain.


"Hubby."


"Baby."


*


*


*


Yang kangen python, yang kangen, yang kangen 😌😌😌😌


Yang kangen othor nya ada nggak?


__ADS_1


__ADS_2