
Setelah mendapat rekomendasi dokter kandungan dari Ron, Ken segera mengajak istrinya untuk pergi ke rumah sakit untuk melakukan konsultasi.
Karena mereka sudah bersiap-siap, jadi Ken tidak perlu lagi menunggu Zoya untuk berdandan. Keduanya turun dari lantai dua, sepanjang langkahnya Ken selalu menggenggam tangan Zoya.
Wanita yang kini masih terlihat cukup kelelahan, karena meladeni Ken. Begadang sampai pagi, sudah pagi digempur lagi. Kalau saja tulang Zoya dapat dilihat, mungkin sekarang sudah patah-patah karena kelakuan suaminya.
Ken tidak membawa supir, dia sendiri yang mengendarai mobil tersebut. Pria itu membukakan pintu untuk Zoya, dan Zoya lekas masuk ke dalam sana.
Ken menyusul, dia segera duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin. Siap membawa kendaraan roda empat itu melandas ke jalan raya.
"Baby, kamu terlihat tidak bersemangat? What's wrong with you? (Ada apa denganmu?)" tanya Ken, sambil fokus pada jalanan. Dia sedikit melirik Zoya yang sedari tadi diam.
"Aku hanya merasa lelah, Hubby. Memangnya kamu tidak lelah apa?" jawab Zoya, sekaligus bertanya pula pada Ken yang terlihat masih segar bugar.
Tidak tampak seperti seseorang yang telah melakukan aktivitas melelahkan. Berbeda sekali dengan dirinya. Tenaga pria ini benar-benar tidak bisa diragukan, sebenarnya Ken makan apa sih, sampai sebegitu kuatnya dan tidak pernah tumbang?
Mendengar itu, Ken mengusak puncak kepala Zoya sekilas. "Maaf membuatmu kelelahan. Kamu kan tahu sendiri, Baby, pythonku sudah tidak makan hampir sebulan. Makanya melihatmu seperti semalam, rasa lelahku langsung hilang."
"Ya, tapi apa kamu sadar? Kamu sudah seperti orang kesetanan. You are a maniac! (Kamu adalah seorang maniak!)" cibir Zoya, dia melipat tangannya di dada dengan bibir yang mencebik.
Sementara Ken terkekeh keras, entah kenapa dia selalu merasa senang kalau Zoya membahas tentang kekuatan bercintanya. Sebuah kebanggaan bagi seorang pria, bisa melumpuhkan wanitanya.
"Aku senang mendengar pujianmu, Baby," ujar Ken dengan menggigit bibir bawahnya, dan Zoya semakin dibuat mendelik.
Dia ini sedang mencela Ken, tetapi pria itu malah merasa bahagia, dan menganggap semua itu pujian. Memangnya semua pria seperti ini yah kalau sudah membahas tentang ranjang?
"Ish, Hubby, menyebalkan!" cetus Zoya.
__ADS_1
Ken menghentikan mobilnya, karena di depan sedang ada lampu merah. Dia menatap ke arah Zoya dan memberikan kecupan singkat di bibir merah merekah itu. Bibir yang tengah maju, karena sebal dengan tingkahnya.
"Aku jadi ingat dulu, kamu kalau marah padaku pasti selalu seperti ini." Ken menunjuk bibir Zoya dengan jarinya. "Bibirmu mengerucut seperti bebek, dan kamu tahu, Zoy? Dulu aku benar-benar ingin menciummu. Sangat ingin menggigit bibirmu ini." Jujur Ken apa adanya.
Mengingat kilas balik dirinya dan Zoya beberapa bulan yang lalu. Di saat status mereka masih menjadi ayah dan anak. Di mana Ken mati-matian menahan hasratnya, dan kesempatan justru memudahkan dia mendapatkan Zoya.
Zoya menatap Ken, entah kenapa mengingat itu semua dia merasa lucu sendiri, hingga tanpa sadar wanita itu menarik satu sudut bibirnya ke atas.
Tidak pernah terpikirkan olehnya bisa bersatu dengan pria seperti Ken. Pria yang hampir setiap hari membuatnya geram setengah mati. Mungkinkah rasa geramnya dulu salah satu bentuk cemburu?
Cih, dia mencemburui pria ini lebih dulu?
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu, Baby?" tanya Ken dengan kening yang mengeryit. "Kamu memikirkan apa?"
Mendengar itu, Zoya tersadar. Dia mengangkat kepala dan netranya kembali bersitatap dengan kedua netra milik Ken. Tiba-tiba tangannya terulur untuk mengusap satu sisi wajah pria itu.
"Aku hanya merasa, sepertinya aku juga sudah jatuh cinta padamu dari dulu," ungkap Zoya dengan uluman senyum yang merekat sempurna, dan ungkapan itu langsung membuat Ken menegakan tubuhnya.
"Tentu saja bisa, Hubby tahu? Setiap kali melihatmu bercinta dengan wanita lain, rasanya aku ingin menghajarmu dan wanita itu!" cetus Zoya dengan mimik wajah serius, Zoya benar-benar geram bila mengingat itu semua.
Ken membulatkan matanya, sementara dadanya mulai bergemuruh, merasakan cinta yang begitu banyak dari Zoya. "Termasuk saat aku melakukannya dengan Maurin?"
"Yeah, i hate to see it! (Ya, aku benci melihatnya!) Aku benar-benar ingin menghajarmu sampai babak belur!"
Zoya menunjukkan wajah masam, sementara Ken terlihat sangat sumringah. Dia suka, sangat suka dengan kejujuran Zoya. Hingga saking senangnya Ken langsung memeluk tubuh wanita itu.
"Oh my, aku mencintaimu, Sayang. Kenapa kamu tidak hajar aku? Dari dulu aku ingin dihajar olehmu," cerocos Ken manja, dia memeluk erat Zoya dan menggerakkannya ke sana ke mari, gemas dengan istrinya.
__ADS_1
Awalnya Zoya juga senang karena Ken memeluknya, tetapi lama kelamaan dia mulai merasa sesak nafas, karena dekapan Ken terasa semakin menghimpit dadanya.
"Hubby, aku...."
Ken tidak peduli, dia masih ingin memeluk Zoya.
Hingga tak berapa lama kemudian, suara klakson dari beberapa mobil di belakang mereka berhasil menghentikan semuanya. Saking senangnya, Ken sampai tidak melihat kalau lampu lalu lintas sudah berhenti merah.
Dan hal itu sukses membuat Zoya bernafas dengan lega. Dia segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Hubby, bisa-bisanya kamu ingin membunuhku!"
*
*
*
Ngothor : Gue juga suka sama python lu dari dulu, Dad🥺 Cium gue dong 😌
Daddy : Idih ogah! Mau dari dulu kek, sekarang kek, buat lu no way 🤪
Ngothor : Fiks, gue pindah haluan ke cacing Alaska sama neng encis😤
Daddy : Ya udah Sono, yang penting gue udah Ama neng joyaaa🙃
Ngothor : Dih bener-bener lu ya! Belum aja gue bikin mabok🙄
__ADS_1
Daddy : Gue tunggu mabok-mabokkannya.
Ngothor : Astaghfirullah... Ini bapack-bapack, rasanya pengen gue tarik pythonnya😤