Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Bagus Yah?


__ADS_3

Tiga hari berlalu, tepat hari ini Ron dan Siska kembali bekerja. Mereka sudah menghuni rumah hadiah dari Ken, bahkan Siska juga memakai mobil pemberian pria itu ke kantor.


Wanita itu berangkat sendiri, sementara Ron menjemput Ken, memulai rutinitasnya seperti biasa. Dengan wajah sumringah Ron sampai di mansion pria tampan itu.


Dia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam untuk menanyakan keberadaan Ken pada Bi Lila. Dan saat dia melipir ke dapur, ternyata pria itu sedang menyuapi istrinya.


"Selamat pagi, Tuan Ken, Tuan Besar, dan Nona Zoya," sapa Ron lengkap dengan senyum mengembang, dia sedikit membungkuk memberi hormat.


Mendengar itu, Ken mengangkat kepalanya, dan semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan mata mereka ke asal suara.


Zoya hampir saja menoleh ke belakang sana, tetapi pipinya langsung ditahan oleh tangan besar Ken. "Tidak usah melihatnya, lihat aku saja." Cetus pria tampan itu, tidak rela Zoya melihat pria lain selain dirinya, sekalipun itu sang asisten.


Apalagi dia mengingat malam itu, saat Ron berani-beraninya mendesaah, tiba-tiba Ken ingin menjadi pria pendendam sekarang. Dia melengos tidak menjawab sapaan Ron, dan yang mengajak pria itu bicara justru kakek Abian.


"Ron, duduk dulu sini. Bosmu sedang melayani istrinya dulu," ucap kakek Abian sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.


Patuh, tanpa bicara Ron langsung duduk di sana. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Ken, hatinya sedang berbunga-bunga, jadi dia tidak mau merusak wajah sumringahnya.


"Sudah sarapan belum kamu, Ron?" tanya kakek Abian basa-basi, setelah dia menyesap teh hijau yang terhidang di atas meja.


"Sudah, Tuan. Pagi-pagi istri saya memasak, jadi saya langsung sarapan," jawab Ron dengan jujur, Siska memang langsung memasak mie instan tadi pagi, karena mereka belum memiliki asisten rumah tangga.


Jadi, wanita itu memasak saja apa yang ada.

__ADS_1


"Cih, mentang-mentang sudah punya istri, pamer terus," sambar Ken yang merasa tersaingi oleh asistennya.


Ken melirik kedua orang itu sekilas, lalu kembali menghadap Zoya yang semakin hari semakin manja padanya. Dia merubah mimik wajahnya dengan mengulum senyum, lalu mengusap pipi Zoya yang terlihat semakin chubby.


"Tidak usah dengar pembicaraan mereka, kamu tidak masak pun tidak apa-apa, aku tidak masalah, yang penting sebelum tidur aku dapat jatah," sindir Ken, sengaja mengeraskan suaranya.


Karena selama ini memang Zoya tidak pernah dia izinkan untuk ke dapur membantu yang lain, cukup layani dia saja.


Zoya yang tengah mengunyah sarapannya mencubit perut Ken lengkap dengan semburat merah. "Hubby, kamu ini kalau bicara selalu saja sembarangan." Tegur Zoya tak berani melihat kedua orang yang ada di seberang meja.


"Aku hanya membicarakan fakta, Sayang. Kamu tidak melakukan apapun aku tetap mencintaimu, aku suami yang baik, 'kan?" tanya Ken ingin mendapat pujian dan pengakuan.


Ingin selalu berada di atas, dan tidak tertandingi oleh Ron. Pokoknya hanya dia dan Zoya yang menjadi pasangan terbaik. Selain itu tidak ada. Egois sekali memang, tetapi python tidak tahu diri ini maunya selalu menang.


"Istrimu sudah berangkat ke kantor?" tanya Kakek Abian lagi, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh ucapan Ken.


"Sudah, Tuan. Siska langsung_"


"Sayang, minum susunya sampai habis, supaya kamu kuat nanti malam," tukas Ken menyambar kembali ucapan Ron yang akan menjawab kakek Abian.


Membuat pria itu gelagapan, Ron dan kakek Abian hanya bisa saling pandang. Hingga waktu sarapan telah selesai, kedua pria itu akhirnya hanya diam.


Dan tak berapa lama kemudian, Ron dan Ken berangkat ke perusahaan setelah mengantar Zoya ke kampus. Baru saja sampai di ruangan, Ken langsung menoleh ke belakang, membuat Ron menabrak pintu karena terkejut.

__ADS_1


Ken mendengus kasar. "Berani-beraninya kamu mendesaah malam itu, gara-gara kamu semuanya jadi kacau!" Tuding pria dengan tatapan tajam itu.


Ron menelan ludahnya yang terasa berat. "Salah saya di mana, Tuan? Kan saya memang sedang malam pertama." Jawab Ron apa adanya. Mencoba bersikap biasa saja.


"Kenapa tidak matikan panggilanku, sialan?"


"Lho saya kan tidak pernah berani mematikan panggilanmu. Jadi, ya sudah saya diamkan."


Ken menggeram, dia mengepalkan tangannya di depan wajah Ron, kesal dengan asistennya. Bisa saja menjawab pertanyaannya. Dan pada saat itu, dia menangkap sesuatu di leher Ron, sesuatu yang tidak asing di kedua matanya.


Ken menarik salah satu sudut bibirnya, sinis. "Dan apa maksudmu tidak menutupi tanda itu? Kamu mau pamer?" Cetusnya dengan nada yang semakin terdengar menekan.


Mendengar itu, seketika Ron meraba lehernya, bukannya merasa malu dia malah cengengesan. "Aku mengikutimu, Tuan. Semua ini Siska yang membuatnya, bagus yah?" Ron membalikkan ucapan Ken kala itu, dan Ken langsung melotot.


"BAGUS MATAMU!"


*


*


*


Nah lho dibalikin kan? 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2