
Malam itu Zoya sudah berdandan cantik untuk menyenangkan suaminya. Tubuh langsing wanita itu dibalut lingerie berwarna merah, sama seperti warna lipstik yang tersemat di bibir tipisnya.
Kini dia tinggal menunggu Ken yang tengah menidurkan putri bungsu mereka.
Zoya tersenyum saat mematut diri di depan kaca. Wajahnya senantiasa dipenuhi oleh rona bahagia, karena dia memang sangat bersyukur bisa menikah dengan pria yang sangat dicintainya.
"Baiklah, mari kita tunggu dia sambil berselancar di dunia maya," gumam Zoya, dia bangkit untuk berpindah tempat. Karena dia ingin menunggu suaminya dengan duduk santai di sofa.
Tangan Zoya membuka ponsel, jemarinya begitu lihai memainkan benda pipih tersebut.
Sementara di kamar si kembar, Ken tengah menepuk-nepuk bokong El, agar putri kecilnya itu segera tertidur. Namun, sampai saat ini kedua bola mata El masih saja terbuka.
"Ini sudah malam, El. Kenapa tidak tidur juga?" tanya Ken dengan suara lembut.
Mendengar suara ayahnya, El langsung mengangkat kepala. "El eyum atuk, Tet."
"Tadi siang kamu tidak tidur lho, Sayang. Dan ingat besok kita akan pergi jalan-jalan bersama Mommy dan Kakak, jadi El harus cepat-cepat tidur," kata Ken dengan sedikit merengek. Karena dia malah merasakan matanya begitu berat.
Besok mereka berencana untuk pergi bersama, karena Zoya sudah izin untuk tidak pergi kuliah.
"Ita pegi anah?" Bukannya segera mengikuti ucapan sang ayah, El malah mengajukan sebuah pertanyaan.
"Ke mall, nanti kita makan ayam, beli es krim dan bermain sepuasnya."
"Ita beyi beka Ojen juda ya, Tet."
"Apa itu, Nak?"
"Ituh beka, nang ada piyem, Tet."
__ADS_1
"Film? Film apa? El mau menonton film?"
Gadis cilik itu langsung mendengus kasar sambil menggelengkan kepala, karena merasa kesal, sang ayah tak paham-paham dengan apa yang dia maksud.
"Beka ojen, temenna Nanny Oyaf!" ketus El dengan alis yang mengerut.
Namun, Ken masih tidak paham ke mana arah pembicaraan El, dia pun garuk-garuk kepala, merasa pusing sendiri menghadapi sang putri. "Yang kayak apa sih? Daddy tidak tahu."
"Ituh piyem nang ada di ape Tetty!"
"Iya kan film yang El tonton banyak, ada Spongebob, Upil-Ipil, Boyo-boyo—"
"Boy-boy-boy!" tukas El. Karena sang ayah salah menyebutkan film-film kesukaannya.
"Iya maksud Daddy itu. Terus film Tom and Jerry, Doramenyon, Frozen—"
"Yaaaa!" El berteriak lagi, hingga membuat Ken menghentikan ucapannya. "Ituh Ojen."
El mengangguk sambil tersenyum sumringah. Karena meskipun hanya boneka ular yang menemani tidurnya. Masih ada beberapa boneka yang lain, yang sering diajaknya bermain.
"Iya, Tet. El au beyi beka Ojen," katanya.
"Ya sudah makanya El cepat tidur, nanti besok kita beli boneka Frozen yang El inginkan," balas Ken seraya mengusap-usap puncak kepala putrinya.
Patuh, El pun kembali memasang dot yang senantiasa menempel di piyama tidurnya. Dia memeluk boneka ular dan mencoba memejamkan mata.
Ken mengecup kening El, lalu kembali menepuk-nepuk bokong gadis cilik itu, agar El lekas tertidur pulas. Sebab setelah ini Ken memiliki pekerjaan lain bersama Zoya.
Namun, butuh waktu lama sampai El benar-benar tertidur. Karena setiap Ken hendak bangkit, El pasti ikut terbangun dan beralih memeluknya.
__ADS_1
"Huh! Akhirnya berhasil juga," gumam Ken setelah membuang nafas. Ini adalah percobaan yang kesekian kalinya.
Dengan langkah yang sangat pelan, Ken berjalan meninggalkan kamar anak-anaknya. Bahkan pria itu menutup pintu nyaris tak menimbulkan suara.
Akan tetapi kesialan yang harus Ken hadapi sekarang adalah melihat sang istri yang tertidur pulas di atas sofa. Sedari tadi wanita cantik itu mondar-mandir, hingga akhirnya ketiduran, karena menunggu Ken terlalu lama.
Tak ingin menyerah, Ken langsung memindahkan Zoya ke atas ranjang. Lalu menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu. "Baby, ayo bangun. Aku sudah siap."
Merasakan sentuhan yang begitu banyak di anggota tubuhnya, Zoya pun sedikit menggeliat.
"Baby, ayo bangun! Katanya mau begadang," ucap Ken, tetapi Zoya malah berpaling.
"Apa sih, Dad? Aku ngantuk!"
"Lho, Sayang. El sudah tidur, katanya kalau—"
"Tidak ada! Kamu terlalu lama. Aku ngantuk berat!" potong Zoya, lalu memiringkan tubuhnya.
"Baby, tapi aku menginginkannya," rengek Ken sambil menggoyangkan bahu Zoya.
"Ya lakukanlah, kan aku tinggal buka kaki saja!" kata Zoya, sementara matanya senantiasa terpejam. Melihat itu, Ken langsung menghela nafas panjang dengan bahu yang merosot.
"Masa begitu, Baby?" rengeknya.
"Mau, mau! Nggak, nggak!"
Haish!
***
__ADS_1
Entah siapa yang salah, ku tak tahu. Ah pucing aku.