
Di perjalanan pulang menuju mansion, Ken beberapa kali melewati pasar tradisional. Dan hal itu sukses membuat anak-anaknya berteriak kegirangan. Mereka kompak berdiri dan tak takut jatuh, sebab Ken juga mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Tetty, au ituh. El au ituh." Tunjuk El pada beberapa pedagang yang sedang menjajakan barang dagangannya.
Tak ingin ketinggalan, anak-anaknya yang lain pun ikut berseru kegirangan. "Iya Daddy. Bee juda au ituh. Bee au embut."
"Apa, Sayang? Kalian mau beli jajanan pasar?" tebak Ken, karena ia memang melihat banyak sekali jajanan pasar yang berjajar di sisi jalan. Dia kira anak-anaknya ingin makanan.
"Iya," jawab mereka serempak.
"Tapi jajanannya kurang higenis, Nak. Bagaimana kalau kita ke supermarket?" tawar Ken, sebagai seorang ayah dia hanya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada anak-anaknya.
Namun, kelima bocah kembar itu dengan tegas menolak. Mereka mengetuk-ngetuk kaca mobil meminta turun.
"Ayo, Daddy. Ita beyi embut," oceh Bee lagi sambil menatap buah berwarna merah yang bergelantungan.
"Ya, An au cemangka agih, yang lepih becal."
"De au itan."
"Choco apa yah?" Bocah itu tampak kebingungan. Sementara saudara-saudaranya yang lain sudah menyebutkan keinginan mereka.
"Ayo, Tetty. El au ituh," rengek El lagi sebab Ken masih melanjutkan kendaraannya dengan sangat pelan. Akhirnya Ken mengalah, ia mencari tempat parkir karena mereka semua akan masuk ke dalam pasar.
Semua anak-anaknya berteriak kegirangan. Bahkan mereka turun dengan tidak sabaran saat Ken sudah berhasil memarkirkan mobilnya. Ken turun dengan menggendong El, sementara yang lain diminta berpegangan tangan.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Ken masuk ke dalam pasar tradisional. Indera penciumannya langsung menghirup aroma tak sedap. Sementara kelima anak ulernya malah terlihat sangat bahagia.
"Pegangan yah, jangan sampai ada yang tertinggal. Sini, An pegang tangan Daddy," ucap Ken memperingati keempat putranya. Bee tidak peduli pada badannya yang tersengat matahari pagi, sebab hanya dia yang hanya memakai pampers.
Akhirnya mereka berjalan menjajahi beberapa pedagang. Kehadiran mereka semua menjadi sorotan, bahkan tak sedikit yang merasa gemas, karena kelima bocah itu terlihat sangat lucu. Tubuh mereka gembul, sementara pipinya bulat dan memerah.
"Tetty, El au yam-yam," ucap El sambil menunjuk pedagang ayam. Namun, bukan ayam yang untuk digoreng. Melainkan ayam kecil yang memiliki bulu berwarna-warni.
"El mau memelihara ayam? Untuk apa?"
"Wat temen Kiala, Tetty," jawab El, mengingat kucing kecil yang baru saja dia pelihara dan diberi nama Kiara.
"Daddy, ayo canah! De au itan."
"Iya, Daddy, tepetan! Eyut Bee utah nanas," timpal Bee yang sudah merasakan panas di tubuhnya. Bahkan tak sedikit keringat yang mengucur deras dari kepalanya.
Ketiga anaknya sudah diam, tinggal dua lagi yang masih merengek. Yang satu minta dibelikan ikan, yang satu masih kebingungan.
"Ayo kita ke penjual ikan dulu," ajak Ken, De langsung berantusias karena akan membeli hewan peliharaannya. Saat sampai di tempat ia berjongkok di depan akuarium, dengan bola mata yang tak berhenti berbinar.
"Daddy, inyi itan paus butan?"
"Bukanlah, Sayang. Ikan paus itu besar. Itu namanya ikan cupaang."
"Itan tupang? Api De au itan paus, Daddy."
__ADS_1
Ken meneguk ludahnya, cuaca yang cukup terik juga membuatnya kehausan. Belum lagi meladeni tingkah si kembar yang tidak ada habisnya. Lihat, si brewok kecil malah mau mengamuk, dan Ken tidak bisa membiarkan itu terjadi. "Iya-iya, Daddy salah. Itu namanya ikan paus, sekarang ayo pilih mau ikan yang mana?"
Si penjual hanya senyum-senyum sambil menawarkan ikan yang memiliki corak bagus. Hingga akhirnya De hanya bisa menahan tangisnya di ujung bibir. Ia langsung menunjuk ikan yang diinginkannya.
"Yeh, De puna itan paus," teriak bocah tampan itu sambil menggoyangkan plastik berisi ikan tersebut. Dia tidak tahu kalau ikannya pusing, karena rumahnya malah dikocok-kocok tidak karuan.
Ken hanya garuk-garuk kepala. Sekarang tinggal satu bocah yang belum ia penuhi keinginannya.
"Kalau Choco mau apa?"
Bocah itu tak langsung menjawab sedari tadi dia juga bingung. Sementara Ken sudah tidak dapat mengandeng lengan putranya, karena ia menenteng rambutan dan semangka. Sementara El tidak mau turun sama sekali. Hah ternyata pusing sekali jadi Super Daddy.
Mata Choco bergerak ke sana ke mari, hingga tatapan matanya tertuju pada mainan ular yang bisa bergerak-gerak. "Choco au ituh!" Tunjuknya setelah memutar badan.
Tak hanya Choco, ketiga saudara kembarnya bahkan langsung berlari ke arah pedagang membuat Ken menganga.
"Ulel-ulelan, ita au ulel-ulelan!" teriak mereka kompak.
"Oh astaga. Anak kita, Zoy. Ini benar-benar anak kita."
***
Yam-yam puna El🐥
__ADS_1