
"Hubby, faster!" ucap Zoya diiringi dengan lenguhan manja, sebab hati seorang ibu tidak bisa dibohongi, Zoya merasa bahwa di luar sana anak kembarnya sudah mulai gaduh memanggil dirinya.
"As you wish, Baby. Apakah ini menyenangkan, Sayang?" jawab Ken sambil mengentak semakin keras. Kedua tangannya memegang pinggul Zoya, sementara dia bergerak maju-mundur, membawa senjatanya tenggelam di inti tubuh istrinya.
"Tentu, Hubby!"
"Kamu sangat menyukainya?"
"Ught, iya, Sayang. Aku sudah tidak bisa menahannya, Ken!" jerit Zoya sambil memanggil nama suaminya. Nafas wanita itu seketika memburu, terbang ke udara bersama erangan Ken yang mulai bergema.
Ken menekan inti tubuhnya, sementara tangannya naik untuk meremass kedua dada Zoya. Keduanya berpelukan erat dengan peluh dan air yang bersatu padu.
Pria tampan itu mendesis, kepalanya bertengger di ceruk leher Zoya hingga nafasnya menampar kulit wanita cantik itu. "Thank you so much, Baby. And i love you." Bisik Ken dengan suaranya yang memberat.
Suara yang membuat Zoya langsung meremang-remang tidak karuan. Bahkan mampu membuat inti tubuhnya berkedut.
Zoya menggelegakkan kepalanya saat tangan Ken kembali memainkan pucuk dadanya. Benda kecil yang kerap dihisap oleh putra sulung mereka.
"Hubby, geli. Nanti ASI-nya keluar," ucap Zoya dengan terengah-engah. Sementara di bawah sana ia masih merasa sangat sesak karena sedikitpun milik Ken tak ingin lepas darinya.
"Selama tidak ada Aneeq, keduanya milikku, Baby!" tegas Ken, sementara bibirnya mulai berlarian untuk mengecupi tiap inci leher Zoya. Hingga wanita itu memejamkan mata. Merasakan sensasi yang begitu luar biasa.
"Tapi aku merasa anak-anak sudah bangun, Sayang. Lebih baik kita percepat mandinya."
"Sebentar lagi, Baby."
Ken yang masih tak puas, tampak tak peduli dengan ucapan istrinya. Dia malah melepas penyatuan, kemudian menghisap dada Zoya secara bergantian, hingga membuat wanita itu kembali bergairah.
"Hubby," rintih Zoya, sebuah suara manja yang mengalun merdu di telinga Ken. Pria itu semakin bersemangat, mulutnya tak berhenti bergerak sama halnya dengan kedua tangan Ken yang sedang meremass-remass bokoong Zoya.
__ADS_1
Dia sudah seperti bayi kelaparan, sebab sedetikpun Ken tidak ingin melepaskan susuannya. Jiwa perkasa itu kembali bergelora.
Pria tampan itu mengangkat tubuh Zoya untuk masuk ke dalam bathtub. Lalu mengisi air, dia memangku Zoya hingga kini wanita itu duduk di atas pahanya.
Kedua tangan Zoya memeluk leher Ken, selagi pria itu masih mengisi tenaganya. Setelah merasa cukup, Ken pun menengadah. "Sekarang giliran kamu yang bergerak, Baby. Kendalikan aku dalam permainanmu, aku akan sangat menyukainya." Ucap Ken sambil membenahi rambut Zoya.
Wanita itu tersenyum tipis, padahal dalam hati dia sudah merasa cemas, tetapi menolak pun rasanya percuma, sebab Ken sudah sangat berhasrat pada tubuhnya. Zoya mengelus lembut wajah Ken, kemudian mengecup kening pria tampan itu.
"Aku akan melakukan pelayanan yang terbaik untukmu, Hubby. Pelayanan yang hanya kamu dapatkan dariku," ucap Zoya, dia mengangkat pinggul sesuai gerakan tangan Ken, hingga detik selanjutnya dia kembali merasa tersentak.
Ken tersenyum tipis, tanpa ba bi bu dia meraup bibir Zoya sementara wanita itu bergerak untuk menyenangkan suaminya. Hingga riak kecil mulai tercipta, menjadi melodi yang syahdu bagi percintaan mereka berdua.
Mereka baru menyelesaikan ritual mulia itu setelah mendengar sayup-sayup suara si kembar menangis bersahut-sahutan.
Karena mereka berpikir bahwa Ken dan Zoya sudah berangkat lebih dulu, dan meninggalkan mereka semua.
"Tetty! Tenapa inggalin El? Atana beyi yam-yam agih, uwat temen Kiala," teriak si bungsu sambil melempar boneka kesayangannya. Dia menangis tersedu-sedu, bersama keempat saudaranya.
"Mommy tama Tetty natal, ucah acak agih, Bee au beyi embut acah tama Nanny!" timpal Bee kesal.
Sementara Choco dan De sudah berguling di lantai. Menyuarakan kekecewaan. Hingga tiba-tiba pintu kamar Ken dan Zoya terbuka, menampilkan wajah sang ibu dengan rambutnya yang basah.
"Hei, anak Mommy kenapa menangis?" tanya Zoya.
"Mommy!?" panggil mereka serentak, padahal sedari tadi mereka sudah dibujuk untuk bersiap-siap, tetapi keras kepala Ken benar-benar menurun pada anaknya.
"Kenapa kalian belum siap-siap? Kan kita mau pergi hari ini. Jangan bilang kalian tidak menurut pada Nanny?"
"Mommy ndak acih nyenyen, matana An ais," jawab si sulung mencari pembelaan. Sementara yang lain hanya manggut-manggut saja, tak ingin kena omel ibu mereka.
__ADS_1
Zoya menghela nafas, "Tadi Mommy sedang mandi, jadi tidak dengar. Sekarang kalian siap-siap yah sama Nanny. Kalau sudah nanti Mommy panggil. Oke?"
Patuh, anak-anak ular itu langsung menganggukkan kepala. Berbeda dengan El yang masih belum tenang sebelum melihat wajah ayahnya.
"Tetty anah, Mom?"
"Daddy juga sedang siap-siap. Jadi sekarang lebih baik El mandi dengan Nanny Olaf," jawab Zoya sambil mengelus rambut Eliana. Bersyukur, gadis kecil itu pun tak banyak bicara, hingga Zoya dapat bernafas dengan lega.
Namun, kehebohan tak berhenti di situ saja. Sebab saat mereka hampir saja berangkat. Ken dibuat terbelalak, saat melihat mobil mewahnya lecet dengan gambar-gambar abstrak.
"Astagaaa, kenapa bisa begini?! Security!" teriak Ken memanggil pihak keamanan. Sebab kemarin kondisi mobilnya masih baik-baik saja.
Namun, baru saja Ken ingin memarahi pria yang sudah ada di hadapannya. Tiba-tiba El maju sambil tersenyum sumringah. "Tetty, ituh gambal El. Tantik 'kan?"
Mendengar itu, tentu membuat Ken semakin terperangah. Tak berbeda jauh dengan reaksi wajah Zoya. Bahkan seperti De Javu dia teringat El yang menyambutnya saat ia pulang kuliah. Jadi, gadis kecil ini baru saja menggambar mobil ayahnya?
"El? Gambar pakai apa?" tanya Ken.
"Ituh!" tunjuknya pada perkakas.
Ken langsung menepuk jidatnya, dengan kekesalan yang tertahan di dada, karena mau marah pun tidak bisa, dia tidak akan mungkin tega memarahi putri kesayangannya.
"Kamu gambar apa di mobil Daddy, Sayang?"
"Itu gambal uyey, Kiala tama yam-yam," jawab El dengan wajah sumringah. Tidak merasa bersalah sedikitpun. Sedangkan Ken melirik mobilnya dengan putus asa, mobil mewah dengan coretan panjang juga bulat-bulat kecil mahakarya putri kecilnya.
Astaga, Eliana!
***
__ADS_1
Sabar ya, Dad🤣🤣🤣