
Setelah hari itu, Reymond benar-benar menikahi Imelda, dan tidak pulang lagi ke rumah. Pria itu hanya senantiasa memberikan pesan-pesan singkat di setiap harinya. Entahlah, mungkin Reymond tidak diizinkan untuk datang melihatnya, oleh wanita medusa itu.
Tidak ada lagi sebutan baik, bagi wanita yang merebut suami orang. Apalagi dia tahu, statusnya yang tengah hamil besar. Apapun alasannya, dia tidak memiliki sebuah pembenaran.
Sekali salah, tetap saja salah!
Elina menjalani hari-harinya bersama sang buah hati yang masih ada dalam perutnya. Sebisa mungkin dia tidak lagi ingin memikirkan hubungannya dengan Reymond, dia harus terhindar dari stress agar bayi yang ada dalam kandungannya baik-baik saja.
Hingga tiba di malam itu, perut Elina terasa melilit, dari jam 9 malam dia sudah merasakan itu semua, tetapi masih dia anggap biasa.
Perkiraan dokter, Elina akan melahirkan seminggu lagi, tetapi sungguh rasa yang menghujam di perut dan punggungnya membuat dia tak bisa bertahan lebih lama.
Pukul 12 malam, dia menghubungi Reymond, ingin meminta pertolongan. Namun, hingga beberapa kali dia mencoba menelepon, panggilannya selalu ditolak.
Di ujung sana, Imelda berdecak keras, karena tidurnya terasa terganggu oleh suara bising yang berasal dari ponsel Reymond. Akhirnya dia mematikan daya ponsel tersebut, setelah menghapus catatan panggilan dari Elina.
Lantas, dia kembali melanjutkan tidurnya, dengan memeluk pria yang sangat dicintainya. Menelusupkan wajah di dada pria itu, dan kembali mengukir senyum bahagia.
"Kenapa kamu susah sekali untuk dihubungi, Rey? Aku hanya ingin meminta bantuanmu," gumam Elina sambil meringis, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menerima serangan kontraksi yang datang dan pergi secara mendadak.
Dia tidak memiliki siapapun lagi di kota ini, seluruh keluarganya tinggal di Bandung. Setelah menikah, dia mengikuti Reymond yang bekerja di Jakarta.
Namun, kisahnya sungguh nahas, dia harus menerima pukulan keras pada pernikahannya yang baru berjalan dua tahun. Dia dikhianati oleh sang suami, hanya karena wanita itu terlihat jauh lebih sempurna dari dirinya.
Dengan terpaksa, Elina pergi sendirian, dia meraih tas besar yang sudah dia siapkan tempo hari untuk dibawa ke rumah sakit, tempatnya melakukan persalinan.
"Sabar ya, Nak. Tunggu Mama sampai di sana. Don't naughty, okey? (Jangan nakal, yah?)" Elina melangkah dengan susah payah, keluar dari rumah kontrakannya menuju jalan besar.
Suasana malam itu tampak lenggang, para tetangganya tidak ada yang bisa diminta pertolongan. Elina benar-benar nekat pergi sendirian, membawa rasa sakit yang menghantam tubuhnya, dengan penuh pengorbanan.
Sementara di tempat lain, seorang wanita cantik keluar dari kamar. Kamar yang dia gunakan untuk bekerja, mengais uang dari para pria yang membutuhkan pelayanannya.
Dia adalah Maurin. Wanita cantik dengan tubuh sempurna, bagaimana tidak? Tubuh bagian atas dan bawahnya memiliki ukuran yang sangat pas, membuat mata pria selalu buas menatapnya. Termasuk Ken kala itu.
Wanita itu menyalakan sebatang rokok, lalu melangkah keluar setelah pamit pada teman-temannya untuk pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Say, balik duluan yah," ucap Maurin, dan langsung mendapatkan anggukan dari semua orang.
"Hati-hati, Say."
Maurin mengangkat jempolnya sambil berkedip, lalu keluar dari tempat itu, melangkah menuju jalan raya, mencari tukang ojek untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Namun, langkah wanita yang kerap disebut kupu-kupu malam itu terhenti, tatkala mendengar samar-samar seseorang meringis kesakitan.
Maurin mencari sumber suara. Dan dia mendapati seorang ibu hamil yang berdiri di sisi jalan raya, dia terlihat kebingungan, karena tidak ada kendaraan yang melintas saat itu.
Maurin membuang puntung rokoknya, dia memilih tidak peduli dan merogoh ponselnya untuk mencari ojek online. Namun, suara ringisan itu terdengar pilu di indera pendengarannya.
"Ya Tuhan... Kenapa rasanya sakit sekali? Nak, sabar dong. Taksinya belum datang, kamu jangan nakal, sebentar lagi, Sayang. Sabar yah," ucapnya sambil memegang pinggul, karena tak sanggup berdiri, akhirnya Elina memilih untuk duduk di trotoar.
Melihat itu, entah kenapa ada yang berdesir di dalam tubuh Maurin. Hingga tanpa sadar, kakinya melangkah begitu saja mendekati Elina.
"Mbak, Mbak kenapa?" tanya Maurin membuat Elina seketika mendongak. Melihat seorang wanita cantik dengan gaun malam tengah bertanya padanya.
"Aku sepertinya mau melahirkan, perutku sakit sekali," balas Elina dengan jujur. Dia sedikit memekik, wanita itu mengeluh dengan air mata yang tiba-tiba mengalir, dan hal itu berhasil membuat Maurin tergerak untuk membantu Elina.
Tanpa banyak kata, Elina segera mengiyakan ajakan Maurin. Rasa sakit yang mengikat tubuhnya membuat dia tak berdaya. Maurin segera meminjam mobil milik temannya, dan meminta untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Di sepanjang jalan, Elina masih mengalami serangan kontraksi yang datang dan pergi. Dia menatap wanita yang duduk di sampingnya. Pun dengan Maurin yang menatap Elina pula.
"Suami Mbak memangnya ke mana?" cetus Maurin tiba-tiba, sedari tadi dia begitu penasaran, kenapa bisa ibu hamil yang hendak melahirkan ini tidak didampingi oleh suaminya.
Mendengar itu, air mata Elina meleleh begitu saja. Dia sedikit terisak, tetapi cepat-cepat dia hapus air mata itu, dia menatap Maurin, orang baik yang mau menolongnya.
Dan pada saat itu, dia mulai buka suara, bercerita tentang rumah tangganya yang telah kandas oleh orang ketiga.
Mendengar itu, Maurin sedikit tertegun. Bagaimana pun, pekerjaannya ini ada sangkut pautnya dengan cerita yang Elina paparkan. Seorang wanita malam? Bukankah dia juga termasuk wanita yang suka merusak rumah tangga orang?
Akhirnya tak berapa lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Elina langsung mendapatkan penanganan. Dan setelah dicek pada pukul 2 dini hari, ternyata Elina sudah masuk pembukaan sepuluh.
Seorang dokter langsung menyiapkan persalinan. Dan entah kenapa, Maurin justru menunggunya. Berharap semuanya baik-baik saja. Dia membiarkan temannya pergi, dan menunggui Elina sendiri.
__ADS_1
Dalam hitungan menit, tangis bayi tiba-tiba pecah. Maurin yang kala itu ikut cemas, mendadak merasa lega mendengarnya. Tiba-tiba dia meraba perutnya sendiri, diiringi rasa yang menyelimuti hatinya.
Menjadi seorang ibu? Begitu besar perjuangannya.
Dokter keluar dari ruang persalinan tersebut, dan memanggil keluarga pasien.
"Saya, Dok," jawab Maurin langsung angkat tangan.
Wanita dengan jubah putih itu mengulum senyum tipis. "Bayi Nyonya Elina lahir dengan selamat. Tapi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini diluar kehendak kami, Nyonya. Nyonya Elina meninggal dunia seusai melahirkan putrinya," jelas dokter tersebut dengan wajah yang ikut berduka.
Seketika hantaman keras mengenai dada Maurin. Dia tersentak kaget dengan berita yang didengarnya. Meninggal? Maurin menggelengkan kepala, dia segera menyingkir dari hadapan sang dokter lalu masuk ke dalam sana.
Di mana jasad Elina sudah terbujur kaku, dengan ukiran senyum yang menghiasi bibir tipisnya.
Lalu mata Maurin berpindah haluan pada bayi mungil yang masih menangis dalam dekapan suster. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Maurin mendadak gamang.
Suster tersebut menyerahkan bayi kecil Elina pada Maurin. Awalnya Maurin enggan, tetapi melihat netra jernih bayi cantik itu, hatinya tiba-tiba menghangat. Bayi itu menggeliat lucu dalam gendongan Maurin, dan hal itu sukses membuat Maurin mengukir senyum.
"Hai, Zoya. Aku kasih nama kamu Zoya yah. Zoya Putri."
*
*
*
Itulah kisahnya bersama Mommy Maurin, jelas nggak jelas nggak? Jelas lah yah...ððð
Eh tunggu, Thor, kenapa bisa mati emaknya?
Semuanya kehendak author ðĪŠ
Sekali lagi, ngothor ingatkan, hari ini hari Senin, ayo bantu vote neng joyaaa ððð
__ADS_1