Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
I Am Yours Tonight


__ADS_3

Ken sudah memasang peredam suara di dalam kamarnya. Takut akan suara-suara itu sampai ke telinga anak-anak mereka yang ada di sebelah. Apalagi Aneeq yang peka sekali terhadap Zoya. Seolah ikatan batin itu terancang dengan sangat kuat, beberapa kali Ken melakukannya, Aneeq kerap terbangun ataupun mendadak rewel.


Namun, kali ini berharap semoga hal itu tidak akan terjadi. Ken sudah membuang semua yang melekat di tubuhnya. Kini tinggal sang istri yang masih mengenakan gaun tidur kesukaannya, tetapi tidak akan sulit bagi Ken untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Entah sudah berapa kali Ken merobek kain tipis itu. Setiap bulan Zoya selalu membelinya lagi dan lagi, sebab kain tersebut tidak akan pernah awet jika sang suami sudah menyerang tanpa rasa sabar.


"Hubby, bisa tidak pelan-pelan? Kamu bisa membukanya," ucap Zoya memperingati Ken yang sudah berhasil membuang benda yang menghalangi lekuk tubuh Zoya. Kini hanya tersisa penutup kecil di kedua pucuk buah dada wanita itu dan juga benda segitiga di intinya.


Daging tanpa tulang itu tumpah ruah, membuat mata Ken tak berhenti menatap lapar. "Aku tidak memiliki rasa sabar untukmu, Zoy. Kamu tahu, dari dulu sampai sekarang. Apapun yang ada padamu membuatku menggila. Jangan buat aku menunggu lebih lama, benda ini tidak ada apa-apanya dengan waktuku bersamamu. Aku bisa menggantinya seratus kali lipat jika kamu mau."


Mendengar itu Zoya langsung bersemu merah. Semakin bertambah usia, Ken semakin handal untuk menggodanya. Dia berpaling muka, tetapi Ken segera menarik dagu Zoya dan kembali menyatukan bibir mereka.


Ken meraup benda kenyal itu dengan sangat rakus. Seperti menemukan sesuatu yang menyegarkan, Ken menyesap, mencium dan menguluum dengan penuh gairah. Pemanasan masih berlanjut, sebisa mungkin dia memancing Zoya hingga benar-benar basah.


"Kamu selalu membuatku candu, Zoy," bisik Ken saat ia mengitari leher Zoya dan berhenti tepat di daun telinga wanita itu. Zoya membusungkan dada dan memeluk leher Ken di saat pria itu menguluum gemas dan memainkan lidah di daun telinganya.


Gerakan lembut nan basah berhasil membuat Zoya menganga dengan desaah yang terdengar merdu. Alunan itu naik ke udara, bersama dengan kabut hasrat Ken yang membuncang hebat.

__ADS_1


Ken membuka penutup yang terpasang di pucuk buah dada istrinya. Kepala pria itu semakin turun dan kembali memainkan lidahnya di sana.


"Ah, Ken!" panggil Zoya, Ken menengadah, sambil bermain dia juga melihat wajah Zoya yang begitu sensual hingga membuat dia semakin menegang. Ken memegang keduanya hingga pucuk itu semakin menyembul tanpa malu-malu. Zoya menatap Ken tak kalah berhasrat.


"Aku menyukainya, drive me crazy, Hubby."


Ken menyeringai, tanpa segan dia langsung menghisap benda itu dengan kuat hingga membuat Zoya memejamkan matanya kuat-kuat, menahan geli bercampur nikmat disaat bersamaan. Seluruh tubuh wanita itu seperti tersengat, gerakan lidah Ken benar-benar terasa membuainya hingga ke langit ketujuh.


Ken memberikan jejak kepemilikan di sekitar sana, sesuatu yang kembali dia lakukan setelah sekian lama. Biasanya dia membuat itu hanya di leher saja. Dia semakin bersemangat, lidah Ken semakin menjelajah ke bawah hingga berhenti di sekitar bekas jahitan yang ada di perut Zoya.


Setelah sedikit nostalgia, Ken mengecupi bekas jahitan tersebut dan semakin turun. Mulut pria itu bermuara di inti tubuh istrinya yang masih berpenghalang. Ken sedikit melirik Zoya yang sedang mengatur nafasnya dengan kepalan tangan yang mencengangkan sprei.


"Are you ready to play with me, Baby?" tanya Ken masih mempertahankan senyumnya. Zoya melihat ke bawah, dia pun ikut tersenyum lalu menganggukkan kepala.


"I am so ready, Hubby. I am yours tonight."


Tanpa pikir panjang, Ken segera menarik secarik kain itu, dan langsung menyesap inti tubuh Zoya hingga wanita itu bergetar hebat. Perut Zoya kembang kempis, seiring kedutan nikmat yang tengah menjalar ke seluruh urat syarafnya.

__ADS_1


Merasa bahwa Zoya sudah siap untuk dia masuki. Ken segera menancap gas dengan kecepatan tinggi. Zoya terbelalak dengan pekikan yang selalu sama, dan detik itu juga Ken menggerakkan pinggulnya untuk memompa tubuh Zoya.


Wanita itu tak berhenti mendesaah dengan peluh yang sudah membanjiri dahinya. Ken semakin membrutal, dia menghentak tubuh Zoya dengan keras menghasilkan erangan yang tak kalah kencang.


Ken, si pemain handal yang sudah mampu mengendalikan dirinya, ia membuat jeda sebelum gelombang itu datang. Ken menangkap kaki Zoya dan memutarnya hingga kini wanita itu memunggungi Ken.


Dari belakang sana, Ken memegangi kedua paha Zoya dan kembali bergerak sesuai keinginannya. Sementara Zoya hanya menikmati permainan suaminya hingga ia merasakan bahwa sebentar lagi dirinya akan meledak.


"Hubby, harder!"


Ken tersenyum tipis, dia mendekap erat tubuh Zoya, paham kalau sang istri akan mendapatkan pelepasannya. Karena ia pun merasakan gelombang tersebut, Ken berencana untuk melepaskannya bersama.


Sebuah gerakan diiringi alunan yang mengudara. Ken menekan pusat tubuhnya, hingga lahar itu berhasil membuncah di dalam rahim istrinya.


Hah!


Kegiatan mereka kali ini sukses tanpa kendala.

__ADS_1


__ADS_2