
Saat mereka keluar dari lift, Ken menahan lengan Zoya yang sudah ingin melangkah. Hingga membuat gadis cantik itu menoleh ke arah Ken. "Ada apa, Daddy?" Tanyanya.
Bukannya menjawab, Ken malah menengadahkan tangan ke arah Siska meminta sesuatu, dan wanita itu langsung memberikan penutup mata yang Ken minta.
"Pakai ini dulu, supaya kamu terkejut dengan sempurna," ujar Ken dengan tersenyum sumringah.
"Okey." Zoya menurut, dia langsung membalikkan tubuhnya, dan membiarkan Ken menutup kedua matanya dengan secarik kain berwarna hitam itu.
Seketika pandangan matanya menjadi gelap, Zoya tidak bisa melihat apa-apa, Zoya meraba-raba ruang di sampingnya mencari keberadaan Ken, hingga sebuah tangan terulur dan dia langsung menangkapnya.
Dia begitu yakin, tangan yang dia genggam adalah tangan sang pria.
Dan semua itu terbukti, dengan sebuah suara yang berbisik di telinganya. "Let's go my Queen."
Ken mulai menuntun Zoya untuk menyusuri lorong hotel tersebut. Sementara ketiga orang di belakang mereka senantiasa mengekor, Ken menyuruh fotografer terus mengarahkan kameranya ke arah Zoya, karena dia tak ingin melewatkan momen manis ini sedikitpun.
Hingga mereka berdiri di sebuah kamar, Ken langsung membukanya dan Zoya bisa mendengar decitan itu.
Senyumnya semakin merekah, dia mulai tidak sabar dengan semua yang telah Ken siapkan. Jantungnya sedari tadi berdendang ria, ikut memompa tak kalah cepatnya.
"Are you ready, Baby?" tanya Ken, lalu mengecup punggung tangan Zoya yang sedari tadi ada dalam genggamannya.
Ditanya seperti itu, Zoya semakin gugup. Dadanya semakin berdebar dengan kencang, bahkan keringat dingin kini mulai bermunculan. Sebenarnya apa sih yang Ken siapkan?
"Daddy bisakah dipercepat? Jantung Zoya bisa lepas jika Daddy terus seperti ini." Bukannya menjawab iya, Zoya justru memprotes pertanyaan Ken.
Membuat pria matang itu terkekeh. "Baiklah, Daddy akan membuka penutup matamu. Siap-siap yah."
Zoya membuang nafasnya kasar, Ken melepas pegangan tangannya dan beralih ke belakang tubuh Zoya untuk membuka secarik kain itu. "Dalam hitungan ketiga, kamu boleh membuka mata, Baby."
"One."
"Two."
__ADS_1
"Three."
Deg!
Mulut Zoya terbuka lebar, dengan mata yang membulat sempurna dengan pemandangan di depan matanya. Sebuah kamar yang sudah didekor dengan sangat indah, dipenuhi kelopak bunga dan balon berwarna merah.
Tak lupa ucapan 'Selamat Ulang Tahun' menggantung di atas sana.
Di sudut ruangan ada sebuah meja yang dipenuhi berbagai macam hadiah, setiap sudut ruangan ini benar-benar di isi dengan sesuatu yang memanjakan matanya.
Ken menyiapkan semua ini untuknya?
Gadis cantik itu menoleh ke samping, di mana Ken berada. Ken tersenyum lebar, karena berhasil membuat Zoya terkejut dengan pesta yang dia siapkan. "Happy birthday, Baby." Ucapnya sambil mencuri kecupan di pipi Zoya.
Wajah Zoya merona, dan detik selanjutnya dia langsung memeluk tubuh Ken erat. "Thank you so much. Terima kasih sudah mengingat ulang tahun Zoya." Ucap gadis itu sambil menangis haru, merasa bahagia.
"You're welcome, Baby. Kamu pantas mendapatkannya." Ken terus mengecupi kepala Zoya, dan memeluk gadis itu tak kalah erat.
Kebahagiaan itu sangat jelas terlihat, Siska dan Ron bisa merasakannya, bagaimana Ken mencintai gadis bernama Zoya. Semenjak berhubungan dengan gadis itu, Ken lebih banyak berubah.
Setiap ke kantor pria itu terlihat lebih ceria, dan jarang sekali marah-marah.
Setelah puas berpelukan, Ken mengajak Zoya untuk masuk ke dalam, melihat seisi ruangan yang ditaburi kelopak bunga mawar merah.
Aroma harum serta memanjakan pun menguar dengan begitu menyengat di indera penciuman mereka.
Langkah Ken dan Zoya berhenti tepat di depan meja yang berisi hadiah dan kue ulang tahun yang sudah tersedia. Ken mengangkat kue tersebut dan menyalakan lilin, lalu berdiri di depan Zoya. "Make a wish, dan setelah itu kamu boleh tiup lilinnya."
__ADS_1
Zoya mengangguk sambil mengulum senyum, dia memejamkan matanya. "Zoya ingin takdir baik setelah ini." Satu kalimat itu terucap dengan lantang dari mulut Zoya.
Lantas dia membuka mata dan langsung meniup lilin-lilin yang menyala tersebut. Ken kembali menarik kepala Zoya dan menghadiahkan kecupan dalam di sana. "Sekali lagi happy birthday, Baby."
Ken meletakkan kue dan mengambil pisau, mereka makan dengan saling menyuapi bahkan terkadang mencium satu sama lain. Tidak peduli pada ketiga orang yang tengah menonton mereka, Zoya dan Ken malah semakin asyik bercengkrama.
"Dad, apa ini hadiahku?" tanya Zoya sambil memeluk boneka Teddy bear yang sangat besar itu.
Ken mengangguk. "Iya, Sayang. Tapi ada satu hadiah lagi yang ingin Daddy berikan." Ujarnya membuat Zoya langsung memiringkan kepalanya.
"Apa?"
"Follow me."
Ken menarik lengan Zoya.
*
*
*
Ngothor : Apa tuh, Dad?
Daddy : Apa aja juga boleh, kepo lu Thor kek si Nora.
Ngothor : Dih mulai bisa ngelawan lu yah? Awas aja, python lu gue gembok, terus gue telen kuncinya.
Daddy : Yeh beraninya ngancem🙄
Ngothor : Kalo nggak gitu mereka nggak pada kasih lu kembang sama kopi, Dad.
Daddy : Yaudin, ntar gue rayu dengan tari python gue yang ulalala.
__ADS_1
Ngothor : Hooh, narinya yang bener, itu biar emak-emak pada trepeling dengan sempurna. Lemes, lemes dah tuh (Tertawa sinis)
Daddy : Itumah gue jagonyaaa...🐍🤪