
Siska menahan ludahnya dengan susah payah. Dia mundur-mundur hingga tubuhnya menabrak dinding, seolah sawan dengan apa yang ada di depan matanya.
Ah, dia tidak pernah melihat benda seperti itu, tapi kenapa Ron malah memperlihatkan semuanya sebelum mereka menikah.
Perasaan Siska jadi was-was, dia yang notabene wanita baik-baik, dan tidak terlalu mengenal lawan jenis, membuat situasi ini terasa mendebarkan.
"Kak, kamu mau apa? Itu, itu cacingmu kenapa dikeluarkan seperti itu?" tanya Siska dengan terbata-bata, wajahnya pias dengan lutut yang gemetaran.
Dan Ron mencoba menangkap pergelangan tangan kekasihnya. "Sayang, sebentar lagi kita akan menikah, aku hanya minta sedikit saja sebelum hubungan kita benar-benar sah."
Mendengar itu, kedua netra Siska kembali melebar dengan sempurna. "Menikah?" Beonya, Ron tidak pernah mengajaknya untuk menikah, tetapi kenapa disaat seperti ini, pria itu justru membicarakan tentang pernikahan.
"Iya, Sayang. Bulan depan aku akan melamarmu. Aku akan memintamu pada Mama dan Papa, bagaimana apa kamu setuju?" tanya Ron dengan mimik wajah sungguh-sungguh. Dia sudah memikirkan ini semua dengan matang.
Tidak ada lagi keraguan yang membuatnya ingin mundur. Modal sudah ada, usia sudah sangat maksimal, pasangan juga sudah di depan mata. Apalagi yang dia tunggu?
Sudah saatnya dia membina keluarga bahagia. Dan bersama Siska, dia akan melalui semuanya.
"Tapi, Kak? Apa perlu sekarang aku berkenalan dengan cacingmu? Tidak nanti saja?" tanya Siska dengan raut wajahnya yang tak berubah, sumpah demi apapun, dia sedikit takut dengan cacing Alaska milik kekasihnya. Yang ukurannya, ah dia tidak bisa menjabarkannya.
Ron mengulum senyum tipis, lalu mengangguk. Dia mengantarkan tangan Siska ke arah senjatanya, dan Siska memejamkan matanya. Hingga dia menyentuh sesuatu yang terasa penuh dalam genggamannya.
"Sayang, tidak perlu takut begitu. Aku hanya memintamu membantuku mengeluarkannya, aku tidak akan menusukmu sekarang," ujar Ron melihat wanita yang dicintainya terlihat ketakutan.
Bahkan saking cemasnya, Siska terus menggigit bibir bawahnya.
Dia tidak tahu apa yang ingin dikeluarkan Ron, dia hanya bisa menurut saja semua perkataan pria itu.
__ADS_1
Pelan, Siska membuka matanya, dan mendapati Ron yang tersenyum sangat manis. Pria itu memberanikan diri mengecup kening Siska dengan kecupan yang begitu dalam.
Lalu turun hingga ke bibir yang merah merekah itu, Ron mulai menyesap benda kenyal milik kekasihnya, sebuah sesapan memabukkan yang membuat Siska lagi-lagi memejamkan matanya.
Dan tiba-tiba tangannya dibuat bergerak bersama dengan tangan Ron. Maju mundur begitu teratur, hingga menghasilkan sebuah erangan kecil dari balik bibir pria tampan itu.
Tubuh Siska ikut memanas, apalagi ciuman itu terasa semakin dalam memenuhi sukmanya. Kini, Ron melepaskan genggamannya, dan Siska bergerak sendiri untuk menyenangkan kekasihnya.
Tangan pria itu berganti berselancar, menyentuh apapun yang dia suka. Membuat sesuatu yang ada dalam tubuh Siska tiba-tiba berkedut tak menentu.
Ada yang aneh dalam tubuhnya. Apalagi dia disuguhi wajah sensual Ron lengkap dengan desaahan yang mulai memenuhi ruang di sekitar mereka.
"Terus, Sayang. Jangan berhenti sebelum aku memintamu berhenti," ucap Ron dengan mulut yang terkadang menganga.
Patuh, Siska melakukan apapun yang diperintahkan Ron padanya. Dia terus bergerak pelan, hingga sebuah suara ponsel membuat fokus Ron jadi teralihkan.
Panggilan pertama hingga habis, Ron mengabaikannya, karena dia merasakan sesuatu akan meledak. Gelombang itu hampir saja tiba.
Namun, panggilan itu tak berhenti begitu saja. Ponsel Ron kembali bergetar, dan dia langsung teringat dengan Ken. Dia berdecak pelan, lalu merogoh ponselnya.
Benar saja yang menelpon adalah bos gilanya. Bahkan pria itu sudah memberi sebuah ancaman yang ditulis dalam pesan, karena Ron mengabaikan panggilannya.
Sambil menahan hasratnya, Ron akhirnya mengangkat panggilan itu. Dia menumpu tubuhnya pada dinding kamar mandi, sementara Siska terus melakukan tugasnya, meski tangannya sudah terasa pegal.
"Halo, Tuan?" Sapa Ron, lalu menggigit bibir bawahnya.
"Hei! Kamu ini ke mana saja sih? Aku sengaja menelponmu di jam makan siang supaya aku tidak mengganggu pekerjaanmu, tapi kamu malah_"
__ADS_1
"Iya, Tuan. Saya minta maaf, sekarang apa yang anda butuhkan?" tukas Ron cepat, dia benar-benar sudah ingin meledak, tidak ada waktu untuk meladeni ocehan Ken.
Di seberang sana, kening Ken mengeryit heran. Belum pernah Ron memotong ucapannya seperti ini, bahkan dalam sejarah tercatat, ini kali pertamanya Ron mengabaikan panggilannya.
Namun, karena tak mau membuang waktu, Ken tidak mempermasalahkan itu. Dia menghela nafas. "Aku dan Zoya mau konsultasi, kamu bantu carikan dokter kandungan yang bagus!" Ujar Ken to the point.
Dan yang Ron lakukan adalah mendesaah tertahan. Suara itu terdengar sampai ke telinga Ken. Tapi apa dia tidak salah dengar? Ron seperti sedang mendesis nikmat, sedang apa asistennya itu?
Sebelum bertanya, Ken kembali mendengar keanehan. Yakni sebuah teriakan seorang wanita. "AH, KAK CACINGMU MENGELUARKAN SESUATU!"
Ron mendelik, sementara Siska mundur ke belakang dan langsung membekap mulutnya. Saking terkejutnya dia reflek berteriak seperti itu.
Dan yang Ken lakukan hanyalah melongo.
Cacing? Cacing apa maksudnya?
*
*
*
Cacing temennya si python, lu kira lu doang yang bisa beraksi, Ron juga bisa dong🤪🤪🤪
Nih yang maren tanya Cacing Alaska, gue kasih nyaho lu pada 🤣🤣🤣
__ADS_1