Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Salah Satu Prioritas Utama


__ADS_3

Melihat Aneeq yang sudah nyenyak. Ken berusaha memindahkan anak sulungnya itu ke dalam kamarnya sendiri, bersama keempat saudara kembarnya. Tak lupa juga, dia membawa buah semangka kesukaan bocah tampan itu.


"Sayang, aku akan kembali dengan cepat," ucap Ken sebelum berlalu dari kamar. Dia menatap Zoya yang tengah membenahi bajunya.


"Tidak perlu cepat-cepat, aku ada sesuatu untukmu," jawab Zoya sambil melangkah ke arah Ken. Dia mengulum senyum, sementara Ken sedikit mengernyit heran. Apa yang akan Zoya lakukan?


"Baiklah. Tapi kamu tidak perlu merapihkan bajumu seperti itu, Baby. Karena sebentar lagi, kamu akan habis di tanganku."


Zoya terkekeh kecil sambil mengangguk untuk menanggapi ucapan Ken. Lalu dia sedikit mendorong bahu suaminya agar cepat keluar, sebelum Aneeq kecil kembali terbangun dan membuat mereka tidak tidur semalaman.


Ken akhirnya melangkah ke kamar sebelah. Suasana sudah tampak temaram. Sebagian baby sitter masih terjaga dengan bermain ponsel, sementara yang lain masih ada yang di bawah.


Mereka yang ada di sana kompak menundukkan kepala saat Ken masuk. Awalnya Nova ingin mengambil alih Aneeq, tetapi Ken menahannya. Dia sendiri yang membaringkan sang anak di box tidur bocah tampan itu. Dia juga meninggalkan semangka milik Aneeq di sana, dan Aneeq langsung memeluknya posesif juga memasukan jari jempol ke dalam mulut.


Ken mengulum senyum tipis, dia sedikit mengusap kepala Aneeq dengan gerakan sangat pelan, lalu mengecup putranya itu.

__ADS_1


"Have a nice dream jagoan-jagoan Daddy," ucapnya lalu melihat si bungsu yang tak kalah nyenyak dengan boneka ular di sampingnya.


Tanpa bicara Ken keluar dari sana dan kembali ke kamar dengan mengetuk pintu lebih dulu.


Tok Tok Tok ...


"Sayang, apa aku sudah boleh masuk?" tanya Ken, Zoya yang kala itu sedang berganti baju buru-buru menyahut.


"Sebentar lagi, Hubby."


Mendengar jawaban Zoya entah kenapa Ken merasa bahagia. Sebab ia yakin, bahwa sang istri tengah menyiapkan sesuatu untuknya. Cukup lama Ken menunggu, hingga akhirnya Zoya kembali memberi instruksi agar pria itu membuka pintu.


Persis kamar sebelah, suasana di kamar yang terbilang sangat luas itu pun terlihat temaram. Sebab Zoya sudah mematikan lampu utama, dan memakai lampu tidur saja.


Ken menutup pintu dengan perlahan, dia belum menyadari Zoya yang berada di meja rias. Wanita beranak lima itu tengah memoleskan lipstik merah menyala di bibir tipisnya, warna senada dengan baju dinas yang ia kenakan. Baju kesukaan suaminya.

__ADS_1


"Baby," panggil Ken, saat ia sudah mendekat dan mulai memeluk Zoya dengan posesif. Aroma parfum yang teramat manis memenuhi rongga hidung pria tampan itu. Belum lagi leher jenjang Zoya yang terekspos bebas, sebab wanita itu mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


Zoya mengulum senyum, dia melihat Ken dari pantulan wajah mereka yang ada di cermin. Satu tangan Zoya mengusap kepala Ken yang kini bersandar di bahunya. "Kamu menyukainya?"


Ken mengendus leher Zoya semakin dalam. Rasanya ingin sekali dia menggigit daging putih nan menggiurkan itu. "I Always like you. You are so beautiful, My Baby." Bisik Ken merdu dengan kelopak matanya yang setengah terpejam. Sementara kedua tangan pria itu sudah ramah sekali, hingga tanpa menunggu waktu keduanya sudah naik ke atas puncak gunung Himalaya.


Sama halnya dengan Ken, Zoya pun sudah memejamkan matanya. Menikmati sensasi lain, saat Ken mulai mencumbunya. Di sela-sela kesibukan ia berkuliah dan mengurus anak, dia pun tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri untuk menyenangkan suaminya.


Apalagi dia paham betul, apa yang menjadi kesukaan Ken sejak dulu. Bukan hanya urusan perut yang harus kenyang, tetapi kebutuhan batin pria itu pun menjadi prioritas utama yang Zoya nomor satukan.


Zoya meremass rambut Ken, pria itu kini sudah menyesap dan sesekali menggigit kecil hingga dia melenguh. Tak menampik, dalam keadaan apapun, Ken selalu dapat menyenangkan dirinya. Permainan pria ini tidak pernah berubah, hingga membuat ia selalu merasa tertarik untuk melakukannya lagi dan lagi.


Ken menarik dirinya dari tubuh Zoya, dia membuka kaos rumahan yang melekat dan membuangnya begitu saja. Dengan satu kali putaran, Ken dapat membalik tubuh Zoya dan mengangkat istrinya itu seperti bayi koala.


"Jangan katakan stop malam ini," ucap Ken dengan suara yang mulai memberat. Dia melangkah menuju ranjang, Zoya mengalungkan tangannya di sepanjang leher Ken, dan pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung meraup benda ranum di depannya hingga lipstik yang Zoya kenakan habis tak tersisa.

__ADS_1


Bersama tubuh Zoya yang jatuh di atas tempat peraduan, Ken mengungkungnya dengan bola mata berkelebat hasrat. Mereka saling tatap, hingga ukiran senyum terbit dari bibir masing-masing. Dan tepat pada saat itu, pergulatan panas pun dimulai.


Di antara deru nafas yang mendera, ada pula lenguhan yang bersahutan.


__ADS_2