Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kesetanan


__ADS_3

Nafas Ken memburu, tiba-tiba dadanya terasa sesak dengan ludah yang tercekak. Bahu itu naik turun, seiring emosi yang meluap seketika, naik hingga ke atas puncak ubun-ubun.


Dengan menggeram kesal, Ken melempar ponselnya ke depan.


Brak!!!


Benda pipih itu jatuh ke bawah kaki Ron, yang kala itu sedang mengemudi, karena sekarang mereka tengah berada di dalam mobil, dan berniat untuk makan siang di luar.


Namun, siapa sangka. Ken justru mendapat pesan yang begitu memancing amarahnya. Kini, Zoya tengah asyik berduaan dengan pria lain, bahkan gadis itu terlihat disuapi, dan menerima semua perlakuan manis itu.


"Aarggghhhh!!! Sialan, badjingan, bangsattt!" umpat Ken tak habis-habis menguapkan kekesalan yang menggumpal di dada.


Sementara Ron yang tidak tahu apa-apa hanya mampu bergeming, dan menyaksikan amukan sang tuan. Dari mulai umpatan kasar dan juga pukulan yang terasa di kursi kemudinya.


"Cepat kirim pesan pada Zoya, bilang padanya aku menunggu di depan kampus!" cetus Ken menggebu, masih dengan raut wajah yang sama, mata menyalak tajam dan memerah.


Rahang mengeras pun dengan gigi gerahamnya yang saling bertautan.


Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi, dia ingin segera bertemu dengan gadis itu, dan ingin Zoya menjelaskan semuanya.


Kenapa bisa Zoya berbohong padanya?


Dia tidak suka Zoya disentuh oleh orang lain, hanya dia yang boleh melakukannya. Hanya dia pria satu-satunya dalam hidup Zoya, tidak boleh ada lagi. Katakan Ken egois, tapi sungguh itu yang dia yakini.


"Sudah, Tuan," ucap Ron, setelah dia mengetik sambil menyetir. Merepotkan memang, tapi dari pada Ken tambah mengamuk, maka akan dia lakukan meskipun menyusahkan.

__ADS_1


Ken bergeming, dia mengatur nafasnya. Menarik dan menghembuskannya secara perlahan, dia tak peduli pada keadaan ponselnya, mau rusak atau tidak. Masa bodo lah.


Yang hanya ada di pikirannya sekarang hanya Zoya, Zoya dan Zoya. Ken sampai menyugar rambutnya frustasi, tak dapat membayangkan apa yang sedang Zoya lakukan bersama pria itu.


"Benar-benar sialan!!!! Kenapa bisa dia pergi tanpa memberitahuku? Bahkan mereka hanya pergi berdua! Ah, damn it! Setannn! Aku benar-benar akan memberi pelajaran pada pria badjingan itu!"


Ken meninju udara di sekitarnya. Dia benar-benar ingin mengamuk sekarang, melampiaskan semua amarahnya, dengan merusak apapun.


Atau mungkin kalau otaknya sudah tak bisa dikendalikan, Ken bisa memakan orang. Dia benar-benar kesetanan.


Sementara di depan sana, Ron terus menelan salivanya dengan kasar.


Mendengar rancauan Ken, Ron mulai bisa mengerti sekarang. Sepertinya sang tuan tengah memiliki masalah dengan anak gadisnya.


Dia yang di maksud pasti Zoya.


Karena selama dia mengikuti pria yang masih mengamuk di kursi belakang, dia selalu melihat, Ken yang hampir setiap hari bergonta-ganti pasangan.


Seperti tak kehabisan stok teman ranjang.


Tapi lihat sekarang, pria matang yang hampir masuk kepala empat itu justru uring-uringan.


Apa Tuan mulai jatuh cinta pada Nona Zoya?


Ron mengedikan bahu, menjawab pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


"Tuan, sebaiknya anda tenang," ucap Ron takut-takut. Dia sedikit melirik ke arah Ken, dalam sekejap wajah pria itu sudah berantakan.


Ken mengangkat kepalanya, menatap Ron dengan nyalang. "Apa maksudmu menyuruhku tenang? Hah? Apa maksudmu Ron?" bentak pria itu.


Bahkan dia kembali memukul kursi yang ditumpangi oleh sang asisten.


Membuat jantung Ron seperti ingin lepas, karena bentakan itu terasa tepat di telinga kirinya.


"Saya, saya tidak bermaksud apa-apa, apa-apa, Tuan," balas Ron mendadak terbata. Wajahnya mulai pias sekarang.


Niat hati ingin membantu Ken agar tidak terlalu emosi, malah dia yang seperti ingin dicekik hingga mati.


"Kalau begitu diamlah, kamu tidak tahu apa masalahnya! Tutup rapat mulutmu, agar tidak berbicara sembarangan, sialan!"


Glek!


"Ba, baik, Tuan."


Setelah percakapan itu selesai, Ron benar-benar tak bersuara. Bahkan dia sampai mengatur nafasnya agar tidak terdengar di telinga Ken.


Haish, marahnya orang ini benar-benar menyiksa!


*


*

__ADS_1


*


Sabar ya Bang Ron, orang sabar pytonnya besar🤣🤣🤣🤣


__ADS_2