
Mendengar kabar bahwa Zoya sakit, Raga tak bisa diam saja, dia langsung meminta izin pada sang kakak untuk datang ke mansion. Selagi tidak ada Ken di sana.
Kalaupun nantinya pria itu tahu. Raga bisa beralasan kalau ada perlu dengan Nora, sehingga dia tidak mungkin menimbulkan masalah.
Namun, Nora tak langsung mengiyakan begitu saja. Walaupun ini termasuk ide yang dia rencanakan, dia tetap tidak bisa sembarangan mengundang Raga untuk datang.
"Sore saja yah, pas Kakak pulang. Biar nanti sekalian makan malam," ujar Nora di dalam sambungan teleponnya bersama Raga.
Kini, dia tengah berada di restoran. Karena setelah mengurus Zoya, dia langsung berangkat bekerja, dan menitipkan gadis itu pada Bi Lila.
Nora sengaja memberitahu adiknya bahwa Zoya sakit, karena dia ingin hubungan Raga dan Zoya yang sempat renggang karenanya, berubah membaik, dia ingin menebus kesalahannya malam itu.
"Baik, Kak. Aku ikuti saja apa katamu," balas Raga sambil menghela nafas. Dia pun tidak bisa sendirian menghadapi Zoya, karena gadis itu pasti akan menghindar.
Berharap dengan dibantu oleh Nora, dia dan Zoya bisa dekat kembali seperti dulu, dan dia akan memulai semuanya dari awal, Raga tidak akan memaksa gadis itu untuk menyukainya. Biarkan, cukup dia saja yang menyukai Zoya.
*
*
*
Gurat senja mulai memenuhi langit, sang surya pun sudah condong ke arah barat, menandakan malam hampir saja datang menyapa para penduduk ibu kota.
Nora dan Raga keluar dari mobil masing-masing. Seperti kesepakatan tadi siang, Raga benar-benar ikut ke mansion, dan mengekor pada sang kakak.
Untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat tinggal Zoya dan Nora selama ini. Raga memperhatikan bangunan luas itu dengan seksama, dan tiba-tiba matanya tertuju pada satu arah.
__ADS_1
Dia sedikit mengulas senyum, saat melihat sebuah figura foto Zoya terpajang di salah satu meja.
"Cantik," gumaman yang hanya terdengar oleh telinganya sendiri. Raga terus berdiri di sana hingga mendapat teguran dari Nora.
"Ga, ayo!" ajak Nora, saat melihat adiknya malah mematung.
Seketika Raga tersadar, dia tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas dia kembali melangkah, mengikuti Nora yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
Di sisi lain, pria yang ada di negeri seberang baru saja sampai di kamarnya. Setelah melakukan operasi, Ken banyak diminta untuk tidak melakukan ini dan itu sampai kondisinya benar-benar pulih.
Dia sudah menghubungi Zoya sejak tadi siang, tetapi sampai sekarang belum ada balasan dari gadis cantik itu.
Tiba-tiba hatinya gundah. Dia tahu bagaimana waktu Zoya, dia sudah sangat menghafalnya. Tidak akan mungkin tidak bisa untuk sekedar membalas pesan singkatnya.
"Oh no. Where are you, Baby?" gumam Ken, masih berusaha menghubungi Zoya.
You are can't calling...
Mendengar itu, Ken melemparkan ponselnya ke atas ranjang. "Oh, shittt!"
Pria yang tengah diliputi rasa cemas itu meninju udara di sekitar untuk menguapkan kekesalan, pikirannya mulai tidak bisa diajak untuk tenang. Dia sangat kacau sekarang.
Sumpah demi apapun, kalau keadaannya tidak seperti ini, dia akan segera pulang.
Hingga dering ponselnya terdengar, Ken mengalihkan pandangannya. Dengan gerakan cepat Ken menyambar benda pipih itu, dan membaca nama si penelepon.
My Baby❤️ is calling...
__ADS_1
Ken menghela nafas panjang, dia sedikit merasa lega. Tanpa rasa sabar Ken segera mengangkat ibu jarinya untuk menggeser tombol hijau di layar, tetapi pada saat itu Zoya justru mematikan panggilannya.
Kening pria matang itu mengernyit. Dia mencoba menghubungi Zoya kembali, tetapi nihil, karena tidak terhubung sama sekali.
"Baby, come on. Jangan buat Daddy khawatir, Sayang." Ken menggigit kepalan tangannya. Dan terus membuat sebuah panggilan pada ponsel Zoya.
Hingga akhirnya pada panggilan ke 20 Ken menyerah. Dia mendesah kesal, lalu mencari nama lain yang sekiranya dapat memberikan sebuah informasi padanya.
Ken menghubungi pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Zoya. Tak butuh waktu lama, pada dering kedua seseorang yang ada di ujung sana langsung menerima panggilannya.
"Dimana dia?" tanya Ken tanpa basa-basi, bahkan suaranya terdengar tidak sabaran. Ingin segera tahu apa yang sedang Zoya lakukan.
"Nona Zoya dan Nyonya Nora sedang makan malam, Tuan. Ada seorang pemuda juga di sini, dia datang bersama Nyonya tadi," jelas pengawal tersebut.
Menyampaikan apa yang baru saja dia sampaikan pada asisten Ron. Baru mematikan panggilan pada pria itu, dia malah dihubungi langsung oleh sang tuan.
Mendengar itu, Ken langsung tertegun. Dadanya kembali bergemuruh hebat. Tanpa bicara sepatah katapun, Ken langsung mematikan panggilannya.
"Badjingan cilik!"
*
*
*
Sabar sabar Dad, ntar jaitannya dol luh 🤣🤣🤣
__ADS_1