Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Julukan Papi Caska


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Zoya kembali mengekor pada suaminya. Alasan tidak mau jauh-jauh dari pria tampan itu, membuat Ken tidak bisa menolak keinginan Zoya. Mereka bertiga kembali ke perusahaan, dengan keadaan perut kenyang.


"Sayang, kamu benar-benar ingin menungguku sampai pulang?" tanya Ken saat mereka masih berada dalam perjalanan, dia tidak mau membuat istrinya kelelahan. Apalagi sekarang ada ke lima anak mereka di dalam perut ibu hamil itu.


Zoya mengangguk. "Iya, Hubby. Anak-anakmu tidak mau diajak pulang, dia ingin melihat Daddy-nya bekerja." Jawab Zoya sambil memainkan jari jemarinya di dada Ken, membuat pria tampan itu langsung menghentikan gerakan tangan Zoya.


"Baby, jangan menggodaku di sini. Kamu tahu sendiri bagaimana aku," ucap Ken mengingatkan Zoya, tetapi ibu hamil satu ini tidak mau dengar, dia menepis tangan Ken, dan satu tangannya masuk disela-sela kemeja Ken.


Zoya menggoda Ken dengan sentuhannya.


Membuat gerakan memutar dan sedikit mencubit gemas bulatan kecil yang ada di dada bidang pria tampan itu, hingga Ken mendesis, "Sshhh."


"Aku merindukannya," bisik Zoya yang membuat Ken langsung merinding, bulu-bulu halus dalam tubuhnya meremang hanya karena sebuah bisikan maut, yang jelas dia tahu ke mana arahnya.


Selama Zoya hamil, mereka memang jadi jarang bercinta. Apalagi ditambah Ken yang sering mual-mual, membuat waktu mereka untuk urusan yang satu ini menjadi semakin berkurang.


"Ihhh gemas," ucap Zoya terkekeh sambil memberi tekanan, Ken membelalakkan matanya, mendapati tingkah Zoya yang semakin bertambah berani.


Namun, sayang karena siang ini dia harus bertemu dengan klien penting. Dia tidak bisa meladeni tingkah manja istrinya. "Baby, aku ada meeting siang ini, nanti saja yah."


Mendengar itu, senyum Zoya langsung memudar, lalu mencebik, dia menarik tangannya hingga berhasil keluar. "Hubby berubah, biasanya juga tidak pernah menolak. Apa karena rasanya sudah berbeda?"


Merasa tidak terima, itulah yang dirasakan oleh ibu hamil itu. Sudut matanya mulai berkaca-kaca, membuat Ken menjadi serba salah. Bukan tidak mau, tanpa ditanya sekalipun Ken pasti memintanya.


Akan tetapi keadaannya berbeda. Ken segera menarik tubuh Zoya untuk masuk ke dalam dekapannya, tetapi Zoya menolak.


"Baby, kamu hanya menunggu sebentar saja, habis itu kita melakukannya. Terserah kamu mau apa, kamu mau tari ular yang sering aku tunjukan?" bujuk Ken, pria tampan ini semakin tidak mengerti dengan sikap Zoya yang terus berubah-ubah, kadang diajak tidak mau, tetapi sekarang malah menawarkan dengan senang hati, bahkan sampai marah seperti ini.


"Ini kan masih jam makan siang, memangnya klienmu tidak makan siang apa? Lagi pula yang mau dedeknya, bukan aku!" cetus Zoya bertambah marah, pakai alasan si dedek pula yang meminta, untuk menutupi rasa malunya karena ditolak oleh Ken.

__ADS_1


Ken menghembuskan nafas kasar. Satu yang dia tahu, katanya kalau ibu hamil tidak dituruti kemauannya, bayi mereka akan ileran, ih amit-amit Ken tidak mau itu terjadi pada keturunan python Romawinya.


"Ron, bisakah janji dengan Tuan Daniel dimundurkan?"


Yang ditanya langsung kebingungan, pasalnya pria bernama Daniel itu sudah dalam perjalanan. Ron terlebih dahulu menelan ludahnya, lalu menjawab pertanyaan Ken dengan apa adanya. "Tuan Daniel sudah dalam perjalanan, Tuan."


Mendengar itu, Ken memejamkan matanya, dia harus mencari akal apalagi supaya wanita satu ini mau mengerti. Dia menatap ke samping, di mana Zoya berada, ibu hamil itu semakin memajukan bibirnya.


"Sayang...," panggil Ken.


"Sudahlah, kalau tidak bisa biar asisten Ron saja yang gantikan jenguk dedeknya!"


Mata Ken langsung mendelik, menatap dengan sangar tetapi bukan pada Zoya, melainkan pada asistennya. "Kemudikan mobilnya dengan cepat, kalau Tuan Daniel sampai lebih dulu, ku potong milikmu!"


Glek!


Ron mengikuti apa kemauan Ken, hingga tak berapa lama kemudian akhirnya mobil itu sampai di perusahaan, Ken langsung mengajak Zoya untuk keluar, dan bersamaan dengan itu seorang wanita berteriak kencang, menyambut kedatangan seseorang.


"Papi Caska!!!" teriak Siska dengan senyum mengembang, tidak peduli dengan tatapan orang-orang, yang jelas sorot matanya hanya tertuju pada satu orang yakni suaminya.


Mulut Ron menganga, sepertinya masalah akan semakin bertambah dengan kedatangan Siska, wanita polos yang otaknya sudah tercemar oleh kehebatan cacing Alaskanya.


Ron hanya tersenyum kikuk, sementara Ken dan Zoya berhenti, karena mendengar satu panggilan unik dari Siska untuk Ron.


"Papi Caska?" gumam kedua orang itu kompak.


Mata Ken menyipit, menatap Ron yang terlihat salah tingkah. "Apa itu Papi Caska?" Tanyanya dengan wajah penasaran.


Baru saja Ron ingin menjawab, tetapi istrinya langsung menyerobot. "Artinya Papi Cacing Alaska punyanya Siska." Jawab wanita itu dengan tersenyum sumringah, bahkan terkesan bangga.

__ADS_1


Semua orang yang menyaksikan itu sontak saja menahan tawa, tetapi tidak dengan Ken, dia justru menatap Ron sebal, lalu menarik tangan Zoya tanpa bicara sepatah katapun.


"Hubby, kamu kenapa?" tanya Zoya yang merasa heran dengan sikap Ken yang tiba-tiba berubah. Dia senantiasa mengikuti langkah Ken menuju lift.


Ken tak menghiraukan ucapan Zoya, dia justru menekan tombol lift, lalu mengajak wanita itu untuk masuk bersamanya.


Di dalam ruang sempit itu, Zoya menatap Ken dengan tatapan menyelidik. "Hubby, jawab pertanyaanku!" cetus Zoya dengan nada sedikit meninggi.


Ken menoleh, dan detik selanjutnya. Pria satu ini memang pantas dijuluki Cassanudin yang menolak tua, karena Ken tiba-tiba merengek seperti bocah. "Kamu tidak pernah memberiku julukan seperti itu, Baby. Aku kan juga mau, pokoknya Ron tidak boleh ada di atasku! Ayo cepat buat julukan untukku!"


Zoya melongo, sementara bayi besar di depannya terus merengek tanpa henti. "Baby, ayo dong berpikir!"


Zoya menggelegakkan kepalanya, meski dia merasa aneh dengan suaminya, dia tetap mengajak otaknya untuk bekerja, hingga sebuah ide muncul seketika. "Ah, bagaimana kalau aku memanggilmu Daddy Pythsa?"


"Apa itu Daddy Pythsa?"


Senyum Zoya mengembang.


*


*


*


"Daddy-nya Python Raksasa, kan pythonmu paling besar sedunia."


Ken langsung tersenyum sumringah.


Yang penting Si Cassanudin seneng ya neng njoyyy 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2