Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Pesanan Datang


__ADS_3

Hari ini adalah hari kesialan bagi Ron, sudah disuruh ini itu, sekarang cacingnya malah merasa kepanasan. Dia baru ingat, kalau Siska baru saja menghabiskan seblak ceker level 15, dan dia yakin seyakin-yakinnya, kalau seblak itu adalah penyebabnya.


"Ck, sial! Pasti gara-gara seblak itu Cacingku jadi seperti ini!" Papi Caska mulai marah-marah, karena rasa panas semakin menjalar, di sekitar pangkal pahanya.


Ron menggigit bibir bawahnya, dan dia tidak memiliki pilihan lain, selain mencari toilet umum di pinggiran kota Jakarta untuk mendinginkan cacingnya yang sepertinya sudah membengkak.


Waktu yang dia punya sudah semakin sempit sekarang. Dan sudah dipastikan dia akan terkena makian. Ken pasti akan marah-marah padanya karena dia keluar terlalu lama, tetapi sekarang bukanlah waktunya untuk memikirkan itu semua.


Yang ada di otak Ron hanyalah mencari toilet umum, agar rasa di dalam pusat tubuhnya segera menghilang.


"Oh my God, panas sekali!" keluh Ron sambil menggerak-gerakkan kakinya, karena merasa tidak nyaman. Bahkan wajahnya ikut memerah.


Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya Ron bisa bernafas dengan lega, karena dia berhasil menemukan apa yang dia cari, Ron segera menepikan mobilnya, dan masuk ke sebuah WC umum.


Ron cepat-cepat membuka resleting celananya, dan benar saja sang cacing sudah terlihat gembul serta memerah.


Tak ingin menunggu lebih lama Ron segera merendam cacingnya menggunakan gayung. "Ah, akhirnya." Gumam Ron merasa lega. Dia langsung merasakan sensasi dingin, seperti saat dia menggunakan shampoo dengan bahan dasar menthool. Ces, ah pokoknya.


Namun, baru saja merasakan itu semua, ponsel yang ada di dalam saku jasnya berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Dan dia bisa menebak siapa seseorang yang ada di ujung sana.


"Halo, Tuan." Satu tangannya memegang gayung, yang satunya lagi memegang ponsel. "Maaf, saya terlambat, karena sekarang saya sedang terjebak macet." Ucap Ron buru-buru menjelaskan, agar Ken tidak perlu marah-marah. Apalagi di saat keadaannya yang tengah merana.


"Ya ampun, Ron! Itu tidak masalah. Aku hanya takut kamu sudah ditelan bumi, karena tidak menghubungiku sama sekali. Kalau begitu teleponnya aku matikan yah, kalau ada apa-apa hubungi aku," jawab Ken dengan nada melunak, tidak meraung-raung seperti biasa. Sepertinya energi bayi python tengah masuk ke dalam dirinya.


Belum sempat Ron menjawab, Ken sudah mematikan panggilannya, padahal sang asisten sudah mangap-mangap mirip ikan mujair.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan urusan cacingnya, Ron kembali melandaskan mobil tersebut ke jalan raya. Kini rasa panas itu mulai mereda, karena Ron sempat mampir ke apotek untuk membeli salep kulit multiguna.


"Hah, makin mekar saja makanan Tuan Ken, pasti rasanya sudah sangat aneh," gumam Ron sambil melirik pesanan bosnya. Terlihat sudah tidak menarik, karena terlalu lama dianggurkan.


Dan tak berapa lama kemudian, Ron sampai di perusahaan. Dia segera keluar dari dalam mobil dan melangkah ke ruangan Ken. Kedua tangannya penuh dengan kresek yang berisi makanan dan buah rambutan.


Tok Tok Tok...


"Tuan, ini saya," ucap Ron, memberitahu bahwa dirinya telah datang.


"Masuk!" Ken memberi izin, dan Ron langsung membuka pintu. Ken menatap Ron yang membawa banyak makanan, dia tersenyum lebar persis seperti anak kecil yang baru saja dituruti kemauannya.


"Wah, Ron, apa itu semua pesananku?" tanya Ken dengan antusias, dia bahkan bangkit dari kursinya dan segera menghampiri sang asisten. Mengambil alih plastik kresek yang berisi makanan yang dia minta.


"Iya, Tuan. Itu semua milik anda, dan ini buah rambutan pesanan Nona Zoya," jelas Ron.


Ron mengangguk, lalu meletakkan buah itu di atas meja.


Sementara Ken menaikan kedua alisnya. "Kenapa Zoya suka sekali dengan yang berbulu? Sampai mengidam saja maunya yang seperti itu," gumam Ken yang masih terdengar di telinga Ron.


Ron melirik Ken.


Yah, mungkin Nona Zoya termasuk penyuka segala jenis yang berbulu. Termasuk bulu-bulu yang ada di tubuhmu.


Tak ingin berpikir lebih banyak dan tak memiliki jawaban, Ken memilih tak peduli. Yang penting dia sudah membelikan apa yang Zoya inginkan.

__ADS_1


Kini fokusnya pada makanan yang memenuhi meja. Dia membukanya satu persatu, hingga makanan itu mengeluarkan aromanya. Persis seperti kemauannya, makanan tersebut tidak memiliki aroma bawang putih yang menyengat.


Hah! Ken menghirup dan menghela nafas.


"Ayo, Ron! Habiskan semuanya," ucap Ken dengan tersenyum sumringah. Berbeda sekali dengan waktu terakhir kali Ron melihatnya.


Ron melebarkan kelopak matanya, dia menunjuk dirinya sendiri. "Saya, Tuan? Ini semua untuk saya?" Tanya Ron sedikit terbata.


Ken mengangguk.


"Iya untukmu semua, memangnya aku bilang ingin memakannya? Kan aku cuma pesan dan menyuruhmu beli, sekarang sudah ada ya kamu makan."


Glek!


"Lalu bagaimana dengan anda? Anda juga belum makan, Tuan."


"Siapa bilang? Aku sudah makan soto di depan sebelum kamu datang."


Mendengar itu, lutut Ron langsung terasa lunglai.


Cobaan apalagi ini, Tuhan?


*


*

__ADS_1


*


Ada yang mau bantuin Papi Caska nggak?🤣🤣🤣


__ADS_2