
Setelah berkeliling kota Jakarta hampir dua jam, karena harus membeli semua makanan yang dipesan oleh ketiga orang yang tengah mengidam. Ron akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Huh...."
Tanpa dia ketahui, ternyata Ken tidak hanya membeli satu atau dua menu. Satu pesan panjang itu mencatat lima menu sekaligus, dengan berbagai macam larangan, tidak pakai ini, tidak pakai itu.
Membuat dia semakin dibuat pusing. Kenapa dia seolah memiliki tiga istri yang tengah mengandung buah hatinya. Untung saja dia tidak ikut mual-mual, bisa kacau perusahaan, karena dia tidak bisa diandalkan.
Ron melihat jam di pergelangan tangannya. Jam makan siang sudah terlewat satu jam yang lalu. Dia sudah berusaha membujuk Siska agar makanan yang wanita itu inginkan dikirim lewat Go-Jlok saja.
Namun, sialnya sang jabang bayi pun tidak mau mengalah. Dengan dalih rindu, katanya ini mau anak kamu. Aduh, belum apa-apa sudah difitnah lagi saja itu si bayi cacing Alaska oleh ibunya.
Dan Ron tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia hanya bisa pasrah dengan garis tangan Tuhan yang sudah dituliskan untuknya. Ron menjalankan kendaraannya menuju rumah.
Dia bisa beralasan pada Ken, kalau menu yang diingkan pria itu harus menunggu lama. Agar sana-sini aman sentosa.
Dalam perjalanan, Siska kembali menelpon. Kini dia sedang bersantai di sofa. Dia tidak sendiri di rumah itu, semenjak Siska hamil, Ron langsung memperkejakan seorang asisten rumah tangga untuk menemani istrinya.
"Hallo, Sayang. Ada apa?" tanya Ron yang sudah memasang earphone di telinganya.
"Kak, kamu jadi pulang sebentar, 'kan? Kenapa sampai sekarang belum datang?" keluh Siska dengan bibir yang mencebik, selama kehamilannya, dia semakin bersikap lebih manja.
"Iya, Sayang. Aku sedang dalam perjalanan. Sabar yah, bilang pada Baby kita aku sebentar lagi sampai," balas Ron dengan senyum mengembang. Dan Siska langsung menganggukkan kepala, seolah Ron tengah melihat dirinya.
"Ya sudah. Aku matikan ya, Kak. Eh tapi pesananku sesuai tidak?" tanya Siska lagi sebelum menutup panggilannya.
"Seblak ceker Mpok Entun level 15 kan, Sayang?"
__ADS_1
Siska tersenyum lebar, bahkan dia langsung meneguk ludahnya, membayangkan makanan tersebut sudah ada di depan mata. "Iya, Kak. Kamu benar, baiklah aku matikan teleponnya. Dah Papi Caska."
Telepon benar-benar dimatikan. Ron tersenyum kecil, mengingat tingkah Siska yang menggemaskan. Ya, walaupun kadang merepotkan, tetap saja dia tidak bisa bohong, kalau dia sangat mencintai Siska yang polos tidak ada duanya.
Tak berapa lama kemudian, mobil Ron sampai di gerbang rumah yang tak jauh dari mansion milik Ken. Sudah ada satu satpam yang berjaga di sana. Dia menepikan mobil, dan tanpa membuang waktu Ron langsung masuk ke dalam rumah.
Mencari keberadaan istrinya.
"Sayang, Papi Caska pulang," teriaknya memanggil sang istri, agar lekas keluar.
Mendengar itu, mata Siska langsung berbinar. Dia langsung turun dari ranjang, dan keluar untuk menemui suaminya. Wajahnya semakin sumringah, saat dia melihat Ron dengan satu kantong plastik berisi seblak ceker pesanannya.
Siska melangkah ke arah Ron, dan dia langsung mendapat hadiah berupa kecupan singkat di puncak kepalanya. "Sayang, aku langsung ke kantor lagi yah. Tuan Ken juga pesan makanan soalnya."
Siska yang biasanya patuh, kini terlihat cemberut dan menggelengkan kepala. "Temani Mami sebentar, Papi." Rengek Siska sambil merayu dengan menggenggam tangan Ron.
"Mau yah, yah... Nanti aku kasih apapun yang kamu inginkan."
Hah, benar-benar skakmat kalau Siska sudah berkedip-kedip lucu seperti itu. Ron akhirnya pasrah. Kini dia menuju ruang tv, duduk di atas karpet memerhatikan Siska yang memakan makanan khas Bandung tersebut.
Namun, yang membuat Ron mengernyit adalah Siska hanya mencari ceker di mangkuk itu, tanpa berniat untuk memakan yang lainnya. Kuah merah dengan campuran kerupuk yang terlihat sangat pedas.
"Sayang, kenapa yang lainnya tidak dimakan?" tanya Ron, pada Siska yang tengah menjilati ceker dengan penuh penghayatan, membuat sesuatu yang ada dalam tubuhnya menggeliat. Ingin menggantikan ceker tersebut.
"Aku mau cekernya saja, Kak. Kalau Kakak mau makanlah," jawab Siska dengan rasa pedas yang mulai menyapa mulutnya.
Ceker satu, ceker dua, ceker tiga sudah habis . Siska mulai megap-megap, karena rasa panas yang menjalar. Dia beberapa kali mengambil minum, tetapi belum menyerah dan hendak memakan ceker keempatnya.
__ADS_1
Namun, gerakan tangannya gagal mengambil apa yang dia inginkan. Karena Ron tak tahan dengan yang Siska lakukan. Seperti ucapan wanita itu yang akan memberikan apapun yang dia inginkan, kini Ron akan menagihnya.
"Ganti ceker itu dengan Cacingku," ucap Ron menjawab tatapan mata Siska yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Belum sempat bicara, dan masih fokus dengan rasa pedas yang ada di lidahnya. Ron sudah menarik tangan Siska untuk masuk ke dalam kamar.
Tanpa ba bi bu, Cacing Alaska sudah berpindah peran, menggantikan ceker seblak yang tadi dinikmati oleh Siska. Ron tidak bisa bermain lama, dia berusaha untuk cepat-cepat karena dia sedang berkejaran dengan waktu.
"Sayang, jangan digigit," ucap Ron sambil mendesaah, dia terus menikmati sensasi luar biasa yang Siska ciptakan.
Ron mengepalkan tangannya kuat, saat satu pelepasan hampir menemui ujungnya. Dia menekan kepala Siska, dan bergerak semakin cepat. Desahaan pria itu memenuhi ruangan, hingga saat gelombang itu datang, Ron mencabut miliknya. Calon anaknya kembali bertaburan di mana-mana.
Setelah merasa pelepasan itu sempurna, Ron segera membenahi pakaiannya. Dia mengecup kening Siska untuk pamit, karena dia sudah terlalu lama.
"Sayang, aku berangkat yah. Jangan lupa bersihkan lantainya," ucap Ron sambil terkekeh.
Siska hanya mendengus dan membiarkan Ron pergi.
Ron yang sudah mendapat suntikan di siang bolong kembali terlihat sumringah. Dia menjalankan kendaraannya. Beberapa saat telah berlalu, dan dia merasakan sesuatu yang aneh pada cacingnya.
"Haish, kenapa Cacingku jadi panas yah?"
*
*
*
__ADS_1
Cacing lu cacabeun Ron🤣🤣🤣