Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Mirip?


__ADS_3

Setelah satu hari menginap di rumah sakit, akhirnya Baby Caka dibawa pulang ke rumah. Karena belum memiliki baby sitter, akhirnya Siska ditemani oleh sang ibu untuk mengurus baby Caka.


Sementara ibu Ron memilih bolak-balik ke rumah anaknya tersebut, berbeda dengan sang besan yang menginap untuk menemani cucu mereka.


Malam datang, ibu dan ayah Siska makan di dapur. Sedangkan Ron membawa makanannya ke dalam kamar. Pria itu sama sekali tak mengizinkan Siska untuk banyak bergerak, ia terlalu takut, jahitan yang ada di tubuh Siska akan terbuka, jika wanita itu melakukan aktivitas seperti biasanya.


"Sayang, sini biar kusuapi," ucap Ron seraya mengangkat piring. Di dalam satu tempat makan itu banyak diisi sayur mayur, khas seperti orang yang baru saja melahirkan.


"Memangnya Kakak sudah makan?" tanya Siska.


Ron menggeleng, tetapi dengan uluman senyum. "Belum, kita makan berdua saja."


"Tapi lauknya cuma begitu, Kakak doyan?" Siska bertanya lagi, sambil menunjuk piring dengan kedua bola matanya. Dan pertanyaan itu semakin membuat senyum Ron semakin lebar.


Satu tangan pria itu tiba-tiba mengusap pipi Siska. "Kenapa? Memangnya ada yang salah?"


"Pasti rasanya hambar, itukan makanan supaya ASI-ku keluar," jawab Siska apa adanya. Wanita itu memang tak pandai berbohong, andai Siska memegang sebuah rahasia, sudah dipastikan semua rahasia yang wanita itu pegang akan terbongkar.


"Aku ingin menemanimu memakannya, pasti rasanya jadi enak," ujar Ron yang mampu membuat pipi ibu muda itu bersemu merah.


Siska mencubit perut Ron, pria ini bisa sekali kalau sudah menggombali dirinya. "Dasar tukang gombal!" Cibir wanita itu.

__ADS_1


"Dasar kesayangan!" balas Ron dengan terkekeh.


"Ih, Kakak!" rengek Siska semakin merasa malu, ia memukuli tubuh Ron dengan pukulan manja, dan pria itu hanya bisa terkekeh seraya menikmati wajah Siska yang semakin memerah.


***


Ron memberikan suapan terakhir pada Siska, bersamaan dengan itu Baby Caka menangis di dalam box bayinya. Bayi tampan itu mengerjap, sementara mulutnya terbuka dengan gerakan gelisah.


"Kak, Baby sepertinya lapar. Kakak buat susu gih," ucap Siska menebak penyebab bayi mereka menangis. Namun, Ron tak langsung mengiyakan perintah istrinya.


Pria itu mengusak puncak kepala Siska. "Belum tentu, Sayang. Siapa tahu Caka buang air." Ujar Ron, ia mencuci tangan terlebih dahulu, kemudian mendekati box bayi Baby Caka.


"Wah, anak Papi ternyata buang air yah?" Baby Caka tak peduli pertanyaan Ron, ia malah semakin menangis, karena merasa tak nyaman dengan tubuhnya.


"Laper juga? Iya-iya, habis ganti popok kita Mimik susu yah." Dengan telaten Ron mengurus Baby Caka, hingga membuat Siska mengulum senyum. Wanita itu merasa, bahwa ini semua adalah pemandangan paling indah yang pernah ia lihat.


Namun, senyum itu langsung memudar begitu melihat Ron yang tiba-tiba mundur ke belakang seperti orang kesurupan.


"Astaga!" cetus pria itu karena terkejut dengan wajahnya yang terlihat sedikit basah.


"Kak, ada apa?" tanya Siska, akhirnya ia ikut bangkit dan mendekati suaminya. Siska melihat wajah Ron dengan seksama, pria itu memejamkan matanya sejenak, dan menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Caka buang air di wajahku," ucap Ron yang membuat Siska langsung tertawa cukup keras. Bukannya merasa perihatin, wanita itu malah merasa lucu dengan tingkah putranya.


"Muka kamu mirip itu kali," ucap Siska meledek, dengan tawa yang masih membahana.


"Mirip apa?" kesal Ron, ia menyambar tisu dan segera mengusap wajahnya. Sementara Baby Caka sudah tidak menangis, dia malah anteng dalam box bayinya.


Siska tak menjawab pertanyaan Ron, ia mendekati Baby Caka, lalu mengangkatnya pelan-pelan. "Baby tidak boleh begitu lagi yah. Walaupun kamu lebih tampan, tapi yang buat kamu seperti ini itu Papimu lho. Caka tidak boleh nakal oke? Nanti kalau Papi jahat, baru hajar dia."


"Sayang, aku dengar lho apa yang kamu ucapkan," sahut Ron yang kala itu sudah melipir ke arah wastafel.


Siska terkekeh-kekeh, hingga membuat tubuh Baby Caka juga ikut bergoyang. "Iya maaf, Sayang. Aku hanya bercanda." Ujarnya. "Tapi kalau kamu memang jahat padaku, tidak apa-apa ,'kan, kalau Caka yang membalasnya? Kusuruh dia cari Papi baru, yang itunya lebih besar dari Cacing Alaskamu."


"Sayang ... Jangan begitu!" rengek Ron dengan wajah cemberut.


*


*


*


"Iya-iya tidak begitu, tapi begini."

__ADS_1


__ADS_2