
Sudah seminggu Ron makan dengan menu tauge, meski dibuat dengan beraneka ragam masakan tetap saja rasanya sama, sama-sama tauge!
Pria tampan itu hanya bisa merutuk dalam hati, tak sedikitpun membantah keinginan istrinya, baru mangap sedikit, Siska langsung berkaca-kaca, bagaimana dia bisa menolak kalau begitu ceritanya.
Dan entah siksaan apalagi yang dia dapat, hingga tengah malam dia harus bangun, dengan kantuk yang masih melanda. Ron hanya bisa mengeratkan gigi geraham dan berusaha tersenyum saat sang istri merengek minta dibelikan jambu kristal.
"Sayang, malam-malam mana ada yang jual jambu kristal," ucap Ron, membujuk ibu hamil itu agar tidak meminta yang aneh-aneh.
"Kan belum dicari, Kak. Kamu usaha dong, jangan buatnya doang yang semangat," ujar Siska yang masih kekeuh dengan keinginannya. Dia melipat tangan di depan dada dengan wajah tertekuk, karena Ron belum mau menyetujui permintaannya.
"Bisa tidak ngidamnya ditunda dulu, minimal besok pagi gitu?"
Siska mendengus. "Mana mungkin ngidam ditunda-tunda, aku maunya sekarang, kalau besok ya ngidamnya beda lagi!" Cetus wanita itu, semakin memperlihatkan kegarangannya, bagai induk ayam yang ingin mematuk siapa saja yang menyakiti anaknya.
Ron menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan. Dia mengusap wajah Siska dengan lembut dan menatap manik mata itu dengan tatapan memohon. "Sayang .... "
"Nggak mau tahu, pokoknya aku mau makan jambu kristal malam ini, aku nggak bakal tidur sebelum makan itu!"
__ADS_1
Mendengar itu, Ron mencoba menahan emosinya. Sabar, sabar. Itulah yang terus dikatakan oleh batin pria tampan itu agar tidak menyakiti hati istrinya.
Dan tiba-tiba pandangan matanya teralihkan pada ponsel yang menyala di atas nakas, dengan nada panggilan yang dia buat berbeda. Tanda sang tuan menghubunginya.
Ron melipat kening, ada apalagi pikirnya, Ken sampai menghubungi dia tengah malam, bahkan di saat Siska uring-uringan seperti ini?
Siska masih dalam posisi yang sama, Ron meliriknya sekilas lalu menyambar ponsel dan segera menerima panggilan itu. "Halo, Tuan."
"Hei, Ron! Cepat bangun dan bantu aku!" ucap pria di seberang sana dengan suara berbisik tetapi penuh dengan tekanan.
"Bantu apa, Tuan? Saya sudah bangun dari tadi."
Mendengar itu, Ron langsung tersenyum sumringah, akhirnya ada orang yang mau diajak susah. Dengan semangat dia segera bangkit dari ranjang. "Siap, Tuan. Saya akan ada di sana dalam sepuluh menit."
Dan setelah itu, Ron langsung menyambar kunci mobil, tidak peduli lagi pada penampilannya yang hanya menggunakan celana kolor dan juga kaos rumahan yang menonjolkan dada bidangnya.
Cup!
__ADS_1
"Sayang, aku cari dulu jambu kristalnya yah. Jangan marah-marah terus, kasihan dedeknya," pamit Ron setelah mengecup pipi Siska, sementara tangannya mengelus perut wanita itu.
Senyum Siska mengembang, lalu dia mengangguk. "Iya, Sayang. Semangat ya, Papi Caska!"
Ron mengedipkan sebelah matanya, lalu keluar dari kamar mereka. Mengambil mobil dan melandaskan kendaraan roda empat itu untuk menjemput Ken. Seperti ucapannya, dalam sepuluh menit, Ron sudah berada di tempat mereka janjian.
Sama halnya dengan Ron, calon ayah satu itu juga memakai pakaian seadanya, tak peduli bulu kakinya yang sudah seperti stoking, Ken hanya memakai celana kolor tanpa memakai benda segitiga yang kerap membungkus pythonnya. Enak juga seperti ini, menggantung sambil sriwing-sriwing kena angin.
"Hah, kita cari ke mana dulu ya, Ron? Jam segini memangnya ada yah tukang jambu kristal?" Ken pusing sebenarnya, ada-ada saja keinginan ibu hamil itu, tapi apa mau dikata, di dalam perut Zoya ada kelima anaknya.
Yang ditanya ikutan bingung juga, hingga akhirnya menjalankan mesin mobil adalah pilihan Ron. "Kita coba keliling saja dulu ya, Tuan. Anda coba lihat di sebelah kiri, saya sebelah kanan."
Mendengar instruksi asistennya, Ken hanya bisa patuh, demi mendapatkan jambu kristal yang istrinya inginkan. Dia tidak tahu saja, kalau Ron juga sebenarnya ingin membeli buah tersebut untuk Siska.
*
*
__ADS_1
*
Sengsara bareng ya, Ron🤣🤣🤣