Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Beradu


__ADS_3

Suara seorang pembawa acara sudah menggema di seisi ruangan. Tanda acara sakral tersebut akan segera dimulai.


Mempelai pria sudah menunggu dengan wajah yang mulai menegang, melihat semua orang ternyata membuat dia tidak bisa duduk dengan tenang.


Kepercayaan dirinya tiba-tiba menghilang. Bahkan jantungnya senantiasa berdebar kencang.


Apalagi saat sang pembawa acara mengatakan bahwa mempelai wanita akan segera datang.


Sial! Kegugupanku sepertinya tidak bisa dikondisikan.


Ron meremas tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Sementara ludahnya terasa keluar semakin banyak. Ketegangan itu semakin terasa saat suara riuh di belakang sana menyambut kedatangan calon istrinya.


Oh my God, pasti di belakang sudah ada Siska.


Ron terus-menerus bergumam, bahkan cacingnya kini ikut-ikutan menggeliat sembarangan.


Semua mata tertuju pada wanita yang diapit oleh kakaknya menuju sang pengantin pria. Tak hanya Ron yang merasa resah gelisah, tetapi Siska juga ikut merasakannya.


Tak menyangka kalau secepat ini dia akan menikah. Apalagi pria yang akan menjadi suaminya adalah Ron, asisten dari bos tempatnya bekerja.


Dan Ron dibuat terpana, saat seorang wanita yang memakai baju kebaya putih lengkap dengan aksesoris yang melekat di tubuhnya, duduk tepat di sampingnya.


Ah, calon istriku.


Ingin sekali Ron berteriak seperti itu. Ron terus menatap Siska yang terlihat sangat cantik hari ini. Dengan menatap wajah itu, ternyata mampu membuat Ron ingin terus mengulum senyum.


Siska ikut menoleh, karena dia merasa terus dipandang dengan intens oleh pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Sama halnya dengan Ron, jantung Siska pun dibuat berdebar, kala sepasang mata mereka bertemu dalam satu garis lurus, menciptakan geleyar aneh yang membuncang hebat di dada masing-masing.


Semua orang menatap kagum pada kedua calon pengantin ini, dua orang yang terlihat sangat serasi.


"Ehem! Sudah dulu pandang-pandangannya, kalian belum sah!" goda ayah Siska, menyadarkan kedua sejoli itu. Hingga Ron dan Siska tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Sementara yang lain tergelak kencang, memuntahkan tawa yang membahana.


Itulah suasana di ballroom dengan kedua pengantin yang sebentar lagi akan mengesahkan hubungan mereka.


Lain dengan kedua orang yang tengah berada di salah satu kamar hotel, tepatnya di sebelah kamar pengantin. Tubuh ramping Zoya sudah terkungkung oleh tubuh kekar suaminya.


Mereka sudah sama-sama polos dan sebentar lagi hendak mencapai nirwana. Ken menjanjikan Zoya pakaian yang wanita itu suka, asal sebagai gantinya Ken diberi asupan nutrisi yang dapat membuatnya tersenyum sumringah.


"Ah, Hubby. Jangan gigit di situ," ucap Zoya dengan lenguhan, saat merasakan Ken membuat tanda percintaan di lehernya, dan sudah dipastikan tanda itu akan terlihat oleh semua orang.


Ken patuh pada ucapan istrinya. Dengan birahi yang sudah memuncak, bibirnya berlarian dan bermuara di pucuk merah jambu yang tengah menegang hebat itu.


Zoya mencengkram bahu Ken dengan erat. Lenguhan demi lenguhan terus keluar dari bibir mungilnya. Dan Ken semakin beringas kala Zoya memanggil namanya.


"Ken!"


Pria tampan itu mengulum gemas telinga Zoya, menjulurkan lidahnya dan bermain di lubang tersebut, hingga menghasilkan rasa geli yang luar biasa. Bulu-bulu halus dalam tubuh Zoya langsung meremang seketika.


Bahkan lembah lembab di bawah sana sudah kembali basah, dan tanpa aba-aba Ken segera membalik tubuh istrinya.


"Ah, Ken! Kita main cepat yah," pinta Zoya sambil mendesaah. Karena merasakan hentakan Ken dari belakang sana. Rambutnya dijambak, tetapi tidak menyisakan rasa sakit.


Adrenalinnya dalam berhubungan di atas ranjang malah semakin terpacu.


"Iya, Sayang. Kita bermain sambil menunggu bajumu itu datang," jawab Ken tanpa berhenti bergerak, bergoyang maju mundur, dan terkadang naik turun.


Gerakannya semakin mantap, apalagi dia disuguhi tubuh Zoya yang terlihat semakin berisi. Sumpah demi apapun, dari belakang sana istrinya sangat terlihat seksi.


Himpitan yang Zoya buat tak main-main. Ken semakin dibuat mabuk kepayang. Dirinya seolah terbang ke atas awan.


"Zoy, milikmu sangat sempit, Sayang," puji Ken dengan nafas yang tersengal-sengal. Dirinya nyaris meledak, begitu pun dengan Zoya yang sudah tak tahan dengan pelepasan yang sudah ada di depan mata.


"Hubby, faster please! (Sayang, tolong lebih cepat!)" ucap Zoya, mulutnya menganga dengan wajah yang memerah menahan hasrat yang hampir saja membuncah.

__ADS_1


Hingga teriakan AH beradu dengan kata SAH di bawah sana. Ken memeluk erat istrinya, selagi si ular python menyemburkan bisa untuk yang kesekian kalinya.


*


*


*


Ngothor : Muntah mulu lu gunanya๐Ÿ™„


Daddy : Serah gue dong, kan gue sama neng njoyyy udah sah๐Ÿ˜Œ


Ngothor : Abis ini gada lu lagi, gue mau ke neng encis sama cacing Alaska!


Daddy : Lu bener-bener jahat ya, Thor. Giliran python gue udah tobat, gue malah ditinggalin ๐Ÿฅบ


Ngothor : Abis lu ngeselin ๐Ÿ™„


Daddy : Kurang apa gue, Thor? Gue anu-anu kan karena lu yang bikin gue anu.


Ngothor : Salah lu, kagak bolehin gue rasain python.


Daddy : Yailah, lu masih mau?


Ngothor : (Ngangguk imut) Sekali doang nggak apa-apa ๐Ÿ˜Œ Ntar janji deh lu gue kasih job lagi.


Daddy : Ya udah ikut gue yuk!


Ngothor : (Sumringah) Ke mana, Dad?


Daddy : Ke rumah sakit jiwa!


Ngothor : ๐Ÿ˜ค๐Ÿ˜ค๐Ÿ˜ค

__ADS_1


Anak Sholeh gendeng!


__ADS_2