
Yang di ujung sana sedang beradu desaah, sementara di lain tempat sepertinya sebentar lagi akan terjadi adu mulut antara Ken dan Zoya.
Begitu kedua orang itu dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita dari balik ponsel milik Ken, Zoya langsung berusaha merebut benda pipih itu dari tangan suaminya.
Kesadaran Ken pulih begitu ponsel itu sudah berada di tangan Zoya, dan Zoya langsung membelalakkan matanya saat membaca siapa seseorang yang sebenarnya Ken hubungi.
Bukan kantor polisi melainkan sang asisten, yang baru saja menikah dan pastinya tengah menikmati malam pertama. Dan dugaan itu diperkuat saat Zoya dan Ken mendengar dengan jelas desahaan kedua orang di ujung sana.
Glek!
Kedua orang itu kompak menelan ludah.
Zoya memicingkan matanya, menatap Ken dengan tatapan tajam, setelah dia buru-buru memutus panggilan itu.
Sementara si ular python sedikit memberi reaksi apalagi kini Zoya berada di atas tubuhnya.
"Jadi kamu membohongiku? Untuk apa kamu menghubungi asisten Ron?" cetus Zoya dengan wajah garangnya, bahkan dia bangkit setengah berdiri di atas tubuh Ken dengan bertolak pinggang.
Membuat sang singa yang gagah perkasa, menciut kembali menjadi kucing kecil yang manis, di depan si kelinci yang berubah menjadi rubah berekor sembilan.
"Aku kan hanya bercanda, Sayang. Supaya kamu percaya," ucap Ken dengan suara pelan, dan wajah yang memelas. Memohon pengampunan pada sang pawang.
"Tapi kenapa harus asisten Ron? Kamu pasti mau mengerjainya yah? Pakai pura-pura mau memenjarakanku segala!" tukas Zoya dengan matanya yang melotot, seperti ingin melahap tubuh Ken hidup-hidup.
Sumpah demi apapun, kalau istrinya sudah seperti ini Ken tidak akan berani lagi untuk membantah ucapan Zoya. Atau kesejahteraan pythonnya akan terancam, dan tidak dapat masuk ke dalam sarang.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Aku hanya menelpon dengan asal," ucap Ken lengkap dengan bibir yang mengerucut, supaya Zoya percaya kalau dia menyesali perbuatannya.
Meminta maaf adalah jurus terakhirnya, dia bangkit dan hendak memeluk tubuh Zoya. Namun, kedua tangan itu segera ditepis. "Tidak ada acara peluk-peluk malam ini, Hubby tidur di sofa!" Ketus Zoya yang membuat Ken membulatkan kedua matanya.
Makin tidak bisa digambarkan saja kondisi wajahnya sekarang, yang jelas Ken terlihat sangat merana.
"Sayang, masa begitu? Aku kan sudah minta maaf. Lagi pula Ron baik-baik saja, buktinya dia malah mendesaah dan tidak peduli dengan kita. Harusnya yang disalahkan itu Ron!"
Sring!
Hawa dingin tiba-tiba menusuk, Zoya semakin memelototkan matanya. Dan hal itu sukses membuat Ken berhenti bicara dan menelan salivanya dengan susah payah.
Kalau sudah seperti ini, Zoya benar-benar terlihat sangat seram, saking seramnya bisa mengalahkan kuntilanak yang sedang gelayutan.
Hih! Ken bergidik ngeri sendiri, tetapi demi kesejahteraan dirinya. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Semoga saja malam ini dewa mesum masih berpihak padanya.
Berharap Zoya berbaik hati dan tidak menelantarkan pythonnya. Karena sumpah demi apapun, atau demi film bokeeep yang sering ditontonnya, Ken tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk tubuh Zoya.
Mendengar tawaran Ken, seketika Zoya tersenyum tipis. Otaknya berputar-putar dengan ide briliannya yang sangat nakal. Dia mendengus kasar, pura-pura menerima tawaran Ken dengan terpaksa.
"Baiklah, kamu tidak jadi tidur di sofa. Tapi ingat! Tidak ada drama apa-apa, kita langsung tidur!" pungkas Zoya dengan wajah tak main-main.
Mendengar itu, raut wajah Ken langsung berubah sumringah. Dia mengangguk cepat. Tidak masalah mereka tidak melakukan apa-apa, toh tadi siang mereka sudah menghabiskan waktu untuk bercinta.
"Terimakasih, Sayang," ucap Ken dengan bola mata yang berbinar, dia mengulum senyum senang. Lalu mengajak Zoya untuk kembali berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
Zoya menurut saat Ken menarik tubuhnya untuk merapat, Zoya menjatuhkan kepalanya di dada Ken. Sementara tanpa diduga tangan wanita itu sudah turun ke bawah sana.
Dan dalam hitungan detik, kelima jari lentik itu sudah berhasil menggapai sesuatu yang dia tuju. "Benar yah aku boleh mencabut bulu pythonmu, kamu jangan marah-marah, kan kamu sudah janji, Hubby." Ucap Zoya dengan senyum yang lebih sumringah dari milik suaminya.
Glek!
Ken menelan ludahnya yang terasa berat. Dan malam itu, menjadi malam yang penuh penyiksaan bagi dirinya.
Karena Zoya terus-terusan melakukan aksinya. Bahkan hingga Zoya terlelap, tangan wanita itu masih setia pada tempatnya.
"Oh my God, boleh tidak sih kalau aku memperkosaanya?"
*
*
*
Ngothor : Ngapa lu, Dad? (Cekikikan kek kuntilanak)
Daddy : Nggak usah ngledek, ini pasti kerjaan lu kan? Lu yang udah cuci otak bini gue!
Ngothor : Idih, nggak ada kerjaan banget gue nyuci otaknya neng joyaa, rinzooo gue abis nanti. Lu tahu nggak? itu tuh karma namanya.
Daddy : Karma apaan? Kurma kali ah ah ah.
__ADS_1
Ngothor : Wong edan! 🤣🤣🤣
Dahlah gue capek🤣