
Sekuat tenaga Ken menahan emosinya agar tidak meledak. Di terus menepis pikiran-pikiran buruknya. Tidak! Tidak mungkin Zoya sedang macam-macam dengan badjingan cilik itu.
Zoya hanya mencintainya. Ya, Zoya hanya mencintainya dan setia padanya. Itu yang harus dia percaya.
Ken menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Pelan-pelan dia mencoba untuk tenang. Dan akhirnya ponsel yang dia genggam kembali bergetar, menampilkan nama sang asisten.
Tanpa berpikir panjang, Ken langsung menerima panggilan itu. Mulutnya mulai gatal, siap untuk memaki pria yang ada di seberang sana.
"Hal_"
"Brengsekkk! Ke mana saja kamu, Ron? Kamu tidak melaporkan apapun tentang keadaan Zoya. Sebenarnya apa yang kamu kerjakan seharian ini, hah? Setan cilik itu bahkan datang ke mansion dan menemui gadisku. Kamu malah tidak bicara apa-apa, seandainya aku tidak bertanya pada pengawal itu, aku mungkin tidak tahu! Sialan!"
Ken mulai memaki sang asisten yang dianggapnya tidak becus. Ah, bukan tidak becus sebenarnya. Ron hanya berpikir bagaimana resikonya jika dia mengatakan keadaan Zoya yang sesungguhnya.
Ron menghela nafas, menerima semua makian yang keluar dari mulut Ken. Dia sudah terlalu kebal untuk itu, sehingga dia tidak menganggapnya benar-benar serius.
Saat ini, Ken sedang emosi.
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Pengawal tadi juga baru melaporkannya pada saya, dan saya berniat menelpon anda. Tapi anda ternyata sedang menghubungi pengawal itu," jelas Ron pelan-pelan.
Kalau dia ikut marah-marah, sudah dipastikan tidak akan ada titik temu di antara keduanya. Sebagai bawahan yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada Ken, Ron mengerti bagaimana sifat pria ini.
Ken mendengus kasar. "Ceritakan semua yang terjadi hari ini. Semuanya, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi!" cetus pria itu.
__ADS_1
Bukannya lekas bercerita, Ron justru bertanya. "Bagaimana dengan operasi anda? Apa berjalan dengan lancar?"
Dan hal itu membuat Ken mengepalkan tangannya, dengan mata yang menungkik tajam. "Bicara yang benar! Ada apa dengan Zoya hari ini? Kalau tidak, ku cekik lehermu nanti!"
Ken menekan setiap kalimatnya. Memberitahu pada Ron bahwa dia tidak sedang main-main. Bahkan urat di dahinya sangat kentara, menandakan dia benar-benar butuh jawaban secepatnya.
Di ujung sana, Ron kembali menelan ludahnya kasar. Dia harus siap untuk mendapatkan makian yang lebih banyak dari tuannya. Tapi tidak apa-apa, ini sudah tanggung jawabnya.
"Sekali lagi maafkan saya, Tuan_"
"Aku tidak butuh maafmu. Cepat katakan!" potong pria yang semakin dilanda cemas itu. Dia semakin bergerak tidak sabaran, takut terjadi sesuatu dengan gadisnya.
"Tadi pagi, Nona Zoya sakit_"
Ken semakin dibuat frustasi mendengar wanita pujaannya tengah sakit. Otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir waras, dia benar-benar tak bisa mengendalikan perasaan cemasnya.
Di ujung sana ludah Ron terasa tercekat. Bagaimana dia bisa menjelaskan bila yang bertanya saja seperti ini. Baru membuka mulut, Ken kembali bicara, baru mau menjawab, Ken kembali memakinya.
Dada Ken naik turun, seiring emosinya yang tak bisa diluapkan. Dia memejamkan mata sejenak. Mengusir pikiran-pikiran buruk yang bersarang di otaknya.
"Aku pulang sekarang!" putus Ken, dia benar-benar tidak bisa tinggal diam. Dia tidak bisa terus seperti ini jika seseorang yang ada di sana tidak baik-baik saja.
"Tuan, apa yang anda bicarakan? Tetap di sana sampai anda pulih. Nona Zoya sudah tidak apa-apa. Saya sengaja tidak memberitahu anda, karena saya tahu apa akibatnya. Lihat, baru seperti ini saja anda sudah berkeinginan untuk pulang...."
__ADS_1
"Bagaimana jika tadi pagi saya memberitahu anda keadaan Nona yang sebenarnya? Benarkah anda akan berhasil operasi? Saya pikir tidak! Jadi tetaplah di sana, biar di sini menjadi urusan saya. Semua ini untuk anda dan Nona Zoya kedepannya, jadi jangan khawatirkan apapun!"
"Tapi aku khawatir pada Zoya, Ron." Suara Ken mulai melemah dan sedikit merengek, mendengar ucapan Ron memang ada benarnya. Tetapi tak dipungkiri, dia tetap khawatir dengan gadis itu.
"Kalau begitu anda bisa menghubunginya. Sebentar lagi dia pasti selesai makan malam. Di sana ada Tuan muda Monaco, Nyonya Nora yang membawanya. Jangan sampai salah paham, atau semuanya akan memperburuk kondisimu," jelas Ron panjang lebar.
Berharap otak waras Ken terbuka sedikit untuk mencerna ucapannya.
Ken menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepala. Seolah seseorang yang ada di seberang sana tahu apa yang sedang dilakukannya. Lalu tanpa apapun lagi, dia mematikan panggilannya. Karena dia ingin menghubungi Zoya.
Membuat Ron mengernyitkan dahi seketika, merasa tak habis pikir.
"Cih, tidak ada terimakasih, terimakasih nya!"
*
*
*
Badegong satu ini emang ngeselin Ron πππ
Ron bilek : Masih gue liatin Thorπ
__ADS_1