
Mendengar suara Siska, Ron segera bangkit dari kursinya, dia membuka pintu dan langsung menarik lengan Siska untuk masuk lalu mengunci benda persegi panjang tersebut.
Siska yang tidak mengerti apa-apa hanya mampu berkedip-kedip, memperhatikan kekasihnya yang tidak bersikap seperti biasa.
Ada apa dengan Ron?
"Asisten Ron, ada apa? Kenapa tanganku ditarik-tarik?" tanya Siska seraya mengikuti langkah Ron menuju sofa, pria itu duduk lalu meminta Siska untuk duduk di pangkuannya.
Sepertinya pria matang ini mulai terkontaminasi oleh bos gilanya. Lihat, berani-beraninya dia mengunci pintu dan membawa Siska masuk ke dalam ruangannya.
Siska tak dapat memprotes, dia hanya mampu menurut saat Ron memintanya ini dan itu. Dia duduk di pangkuan kekasihnya, hingga rok mini selututnya tertarik, memperlihatkan paha mulus miliknya.
Menyadari itu, Siska tersenyum malu-malu, dan reflek menundukkan kepala. Pipinya memerah dan Ron sangat menyukai itu, dia melingkarkan tangan Siska ke lehernya sendiri, sementara tangannya memegang pinggul wanita itu.
"Kenapa malu-malu seperti itu, hem?" tanya Ron dengan suaranya yang terdengar lirih dan memberat.
Siska sedikit menggigit bibir bawahnya, lalu melirik wajah Ron. Posisi mereka sangat intim, dan dia tidak terbiasa seperti ini, dia dan Ron belum sejauh itu dalam berhubungan. Bahkan ini yang pertama kali.
"Asisten Ron, kita jangan seperti ini, nanti kalau Tuan Ken datang bagaimana? Bisa habis kita nanti," ujar Siska mengingatkan, tidak tahu saja dia, kalau Ron seperti ini gara-gara Bos sableng itu.
Ron mengulum senyum tipis, lalu memberanikan diri mencium pipi Siska, membuat wanita itu membulatkan matanya. Merasa tak percaya.
"Dia tidak datang hari ini, dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaan yang lain," timpal Ron sambil membenahi anak rambut Siska yang menjuntai, menutupi wajah cantiknya.
"Pekerjaan apa? Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Siska dengan tatapan polosnya. Dia tidak sadar, dengan menunjukkan wajah seperti ini membuat kelelakian Ron semakin bangkit, dan siap menerkam lawan.
Pria matang itu meneguk ludahnya kasar, manik matanya fokus pada benda ranum yang tadi bergerak-gerak. Lalu turun ke bawah, di mana dua sembulan yang tumpah ruah, daging tanpa tulang yang kelak akan menjadi sumber kehidupannya.
__ADS_1
"Kalau aku ikut, yang ada aku mati dihajar habis-habisan. Lebih baik aku mengerjakan sesuatu yang lain bersamamu," ujar Ron ambigu, dia bahkan tersenyum dengan sorot matanya yang mulai sayu.
Namun, sungguh seperti gadis polos yang belum mengerti apa-apa. Siska justru menatap manik mata Ron. "Benar apa yang kamu katakan asisten Ron, kita harus mengerjakan pekerjaan yang lain. Ada beberapa berkas yang belum diperiksa, aku ke sini tadi karena ingin menyerahkannya padamu, aku ... Hmpt!"
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, bibir Siska sudah dirampas oleh Ron. Dan dia hanya bisa membulatkan matanya dengan sempurna. Untuk pertama kalinya, Ron mencium bibirnya dengan lumaatan ganas.
Bahkan sampai dia membeku, dan tidak bisa berkutik. Tubuhnya seolah kaku, karena mendapat sengatan yang mematikan dari pria matang yang sedang memangkunya ini.
Lumataan Ron tak main-main, dia bahkan menahan tengkuk Siska agar ciumannya semakin dalam. Ini pengalaman pertamanya mencium seorang wanita, dan dia ingin bebas mempraktekkan apa yang dia pelajari dari bos gilanya.
Hah ternyata memang sangat memabukkan. Hingga dengan nalurinya, tangan Ron merayap, bergerilya sampai bermuara di dada sang kekasih yang terlihat sangat sintal.
"Ughttt!" Siska menggeliat, merasakan geli bercampur nikmat, geloranya membara bersama Ron. Hingga dia merapatkan tubuhnya.
Ah, tidak! Kenapa seperti ini? Apakah berpacaran dengan pria dewasa harus cium-ciuman? Dan harus pegang sana-sini. Dia ingin mendorong dada Ron, tapi sayangnya dia tidak memiliki kekuatan untuk itu.
Dan kelakuannya justru terbalik, dia malah semakin memeluk erat leher Ron, dan membuka mulut, memberikan akses pada pria yang sedari tadi menggigit-gigit kecil bibirnya. Hingga Ron membelit lidah Siska lalu disesapnya.
Oksigen yang memenuhi rongga mereka seolah habis. Dan Ron langsung melepaskan pagutannya. Membuat nafas kedua orang itu memburu, dengan dada yang naik turun.
Dalam jarak sedekat ini, Siska bisa merasakan apa yang mengganjal di bawah sana, menghujam intinya hingga menyisakan rasa tak nyaman. Belum lagi, celanaa dalaamnya yang terasa basah. Kenapa rasanya aneh sekali?
"Asisten Ron, ada yang mengganjal di bawah tubuhku. Resleting celanamu menggangguku, aku jadi tidak nyaman duduknya," ujar Siska dengan jujur, bahkan bibirnya masih memerah akibat gigitan Ron.
Mendengar itu, Ron justru terkekeh. Wanita yang terpaut sepuluh tahun darinya ini terlihat sangat menggemaskan, kenapa bisa Siska bersikap polos seperti itu, menganggap bahwa senjatanya hanya gumpalan resleting.
"Ini bukan resleting, Sayang," ujar Ron sambil membawa tangan Siska menyentuh sesuatu yang di bawah sana. Wanita itu mulai merasa aneh, saat tangannya menyentuh benda yang cukup keras dari balik celana kekasihnya.
__ADS_1
"Terus apa?" tanya Siska dengan mimik wajah yang membuat Ron berulang kali jatuh cinta.
Ron mengulum senyum, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Siska. "Ini cacing besar Alaska."
*
*
*
Ngothor : Punya lu bukan anaconda berarti ya Ron?
Ron : Bukanlah, Thor. Gue pengen yang beda, jangan nguler mulu.
Ngothor : Oke, bagus. Bosen yah python terus?(Nyindir)
Daddy : Kagak usah nyindir-nyindir, bilang aja lu kepingin.
Ngothor : Bodo amat, gue mau baiknya sama asisten Ron sekarang!
Daddy : Jahat lu, Thor!
Ngothor : Kasih python dong 😌
Daddy : Ke pojokan yuk!
Ngothor : Ngapain, Dad? Lu akhirnya mau kasih python ke gue? Ah syenangnya.
__ADS_1
Daddy : Idih pede banget, gue justru mau ruqyah lu, biar otaknya bener! Kagak sableng apalagi gendeng!
Ngothor : 😑😑😑