
Nora terus menangis di dalam mobilnya, dia benar-benar tidak melihat Ken keluar lagi, pastilah di dalam sana pria matang itu tengah memadu kasih dengan teman kencannya.
Lalu untuk apa dia menunggu? Bukankah hatinya akan semakin sakit, bila dia terus berada di sini?
Akhirnya dengan sesak yang memburu dan mengikat dadanya, Nora kembali mengemudikan kendaraan roda empat itu, malam ini dia akan tidur di restorannya lagi. Dia ingin menenangkan diri.
Sementara dari arah lain, Ron sudah bersama Zoya. Dia menjemput gadis itu di toko buku sesuai dengan perintah Ken.
Zoya terlihat cemas, takut rencana Ken gagal. Dan Nora mengetahui semuanya, dia tidak tahu saja, bahwa sang pria kini tengah bersantai menunggunya.
Tak hanya Nora yang menjadi penghalang acara mereka malam ini. Ken juga menghubungi orang-orangnya untuk menjaga ketat hotel tersebut.
Hingga dua pengawal bayangan yang dikirim kakek Abian pun tak bisa mengorek informasi apa-apa. Semuanya seolah tersusun begitu rapi dan rapat, kedua orang itu bahkan dibuat babak belur.
Ken selalu tahu bagaimana cara mengatasinya, dan siapa saja orang-orang yang dikirim oleh kakeknya, dia bukan bocah kecil yang bodoh sekarang.
"Cih, Kakek pikir bisa melawanku? Sudah tua, kelakuannya masih saja seperti itu, tidak ingat umur apa? Bisanya mengganggu kesenangan anak muda," gerutu Ken sambil menyilangkan kedua kakinya.
Sementara Siska yang mendengar itu, hanya bisa mengerutkan keningnya dan diam saja.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Ron telah sampai, pria itu segera menghubungi sang tuan bahwa dia sudah berada di parkiran.
__ADS_1
Senyum merekah dari bibir Ken terpahat sempurna. Dia bangkit dan segera bersiap-siap untuk menyambut Zoya, dan memberikan pesta kejutan untuk gadis cantik itu.
Ada rasa gugup yang tiba-tiba menyerang, untuk kesekian kalinya, jantung Ken berdetak sangat kencang. Seperti anak muda yang baru saja mengenal cinta, pria matang itu sampai tidak bisa mengontrol dirinya.
"Oh my God, kenapa aku jadi gugup seperti ini?" gumam Ken sambil merapihkan jasnya. Dia sama sekali tidak ingin terlihat jelek di mata Zoya. Semuanya harus sempurna, termasuk penampilannya.
pria matang itu berulang kali menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Mengusir gemetar-gemetar yang tiba-tiba menyergap tubuhnya.
Ken kembali berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya. Lalu menoleh ke samping di mana Siska berada. "Sis, kamu sudah bawa kain penutupnya?" tanya Ken.
"Sudah, Tuan. Ada di tasku," balas Siska yang ditugaskan untuk membawa kain penutup, untuk menutup mata Zoya.
Tak lupa juga dia menyewa seorang fotografer untuk mengabadikan momen spesial kekasihnya. Zoya dan Ron datang, gadis itu berjalan di belakang Ron, mengikuti langkah kaki pria itu untuk masuk ke dalam.
Ron sampai melongo tak habis pikir.
Kalau sudah bertemu, dua-duanya sama saja.
"Daddy," panggil Zoya dengan wajah sumringah.
"Sayang, kamu sudah datang?" Ken mengecup pipi gadis itu sekilas. "Bagaimana? Ideku lancar kan?" Sambungnya sambil menepuk dada, merasa bangga.
__ADS_1
Zoya mengangguk sambil terus tersenyum, dan dia ikut menyapa Siska yang berdiri di belakang sang pria.
Kemudian mereka semua naik ke atas, tempat di mana semuanya telah disiapkan dengan sempurna. Ken senantiasa menggandeng tangan Zoya, pun Zoya yang terus memeluk erat lengan Ken. Sementara Ron, Siska dan sang fotografer berdiri di belakang mereka berdua.
Saat di lift, Siska menoleh ke samping, memperhatikan pria yang di sebelahnya dengan seksama, tiba-tiba tangan wanita cantik itu terulur dan memegang kerah kemeja Ron, membuat Ron ikut menoleh ke arahnya.
Seketika tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus, terkunci dalam beberapa detik, sebelum akhirnya Siska memutus pandangan mata mereka.
"Maaf, asisten Ron. Aku lihat kemejamu sedikit berantakan, aku hanya membantumu merapihkannya saja," ucap Siska sambil menarik tangannya yang telah lancang.
Dia langsung menundukkan kepala, merasa malu sendiri dengan tindakannya barusan. Tindakan reflek, yang dia lakukan secara tidak sadar.
Sementara di sampingnya, Ron meneguk ludahnya, dia jadi ikut salah tingkah, entah sebab apa. Padahal hanya kerah kemejanya yang Siska pegang, apalagi kalau yang lainnya.
Ah, pikiran Ron malah jadi kemana-mana.
*
*
*
__ADS_1
Ron inget gue Ron 🙄