Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Peringatan Terakhir


__ADS_3

Kini, Kakek Abian dan Nora tengah berbincang di ruang keluarga. Membicarakan apa saja, terutama tentang masa depan Ken dan wanita itu. Namun, tiba-tiba fokus mereka teralihkan, karena mendengar nada dering ponsel milik kakek Abian.


Pria tua itu merogoh benda pipihnya yang dia simpan di saku celana. Senyum kakek Abian mengembang begitu membaca nama si penelepon.


Sang cucu.


Sudah sekian lama Ken tidak pernah menelpon dirinya. Hari ini, entah ada angin apa cucu semata wayangnya itu menghubungi lebih dulu.


"Siapa, Kek?" tanya Nora penasaran, melihat senyum kakek Abian dia bisa tahu, bahwa pria itu bahagia mendapatkan panggilan itu.


"Ken," jawab kakek Abian masih tersenyum sumringah.


Dengan cepat kakek Abian menggeser tombol hijau di layar. Panggilan itu pun terhubung. Dan langsung terdengar suara dingin Ken di seberang sana. "Apa yang Kakek bicarakan?" Cetusnya tanpa basa-basi.


Kening keriput itu bertambah melipat. Tak mengerti dengan pertanyaan Ken. "Maksudmu apa, Ken? Kamu baru menelpon sudah bicara yang tidak jelas." Kakek Abian balik bertanya.


"Aku bilang apa yang tadi Kakek bicarakan? Cepat katakan, atau aku cari tahu sendiri!"


Mendengar itu, kakek Abian mulai paham ke mana arah pembicaraan Ken. Semua ini pasti berhubungan dengan sindiran yang baru saja dia layangkan. Sindiran yang menohok pada satu orang.


Seketika senyum di bibir pria tua itu memudar, pandangannya berganti menajam. Dengan tangan yang mengepal kuat. "Heuh, dia yang mengadu padamu?" Tanya kakek Abian sambil berdecih jijik.


"Kakek tahu bagaimana sifatku, aku tidak suka basa-basi. Jadi sekali lagi ku peringeti, jangan ikut campur dalam urusanku. Dan jangan ganggu orang-orangku!" cetus Ken tak kenal takut.


"Apa kamu tidak sadar? Kamu hanya dimanfaatkan! Dia sama sekali tidak ada gunanya di sini, dia hanya merepotkanmu!" suara Kakek Abian mulai menggebu, ingin segera menyadarkan sang cucu.


Di ujung sana, Ken menelan ludahnya kasar. Dia bisa membayangkan bagaimana situasi yang baru saja terjadi di dalam mansionnya.


"Aku yang memberinya makan, aku yang memberinya tempat tinggal, aku yang bekerja dan banting tulang untuknya, aku yang memberinya pendidikan! Adakah semua itu berurusan dengan Kakek? Apakah semua itu membuat Kakek mengeluarkan keringat dan merasa lelah?"

__ADS_1


"Jika Kakek mengatakan dia merepotkan, harusnya Kakek bicarakan hal itu pada wanita yang Kakek bawa! Bukan pada orangku, dia seenaknya datang dan tinggal di mansion, padahal aku sama sekali tidak memberinya izin. Jadi bisa kah Kakek bawa beban itu pergi! Dia yang membuatku repot!" Ken menekan ujung kalimatnya, menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak suka ada Nora di sana.


"Ken!" Bentak kakek Abian.


"Cukup, ini peringatan terakhirku. Kalau Kakek masih ikut campur, dan mengusik orangku, aku tidak akan segan lagi. Tidak peduli dia dari keluarga mana!"


Setelah itu, panggilan langsung terputus, Ken sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Kakek Abian untuk bicara. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah Zoya.


Bagaimana perasaan pujaan hatinya saat mendapat penghinaan seperti itu. Ken menghela nafas, dia menyugar rambutnya, lalu dengan cepat dia membuat panggilan dengan Zoya.


Tak sampai lama, layar menyala itu sudah menampilkan wajah cantik gadisnya. Di sana Zoya berusaha tersenyum, dan Ken tahu itu, dia bisa melihat mata Zoya yang memerah tanda habis menangis.


Namun, demi tidak ingin ketahuan olehnya, Zoya segera mengusap jejak basah yang mengalir di pipinya, dan menyembunyikan semuanya dibalik senyum tipis itu.


"Baby, kamu sedang apa?" tanya Ken dengan nada yang begitu lembut, dia senantiasa menatap Zoya dengan penuh cinta. Ingin gadis ini tahu, bagaimana dia mencintai Zoya dengan seluruh hidupnya.


"Aku, aku sedang berbaring, Hubby. Hubby sudah pulang bekerja? Belum mandi yah?" Zoya menahan suaranya yang bergetar, begitu pun dengan ludahnya yang terasa tercekak di tenggorokan.


Mendengar itu, Zoya berhasil tersenyum cerah meski terlihat sangat tipis. "Kali ini Hubby terlihat jelek. Ayo mandi, aku temani biar aku tahu Hubby mandi dengan benar."


"Wow, benarkah? Baik, aku mandi sekarang." Ken beranjak menuju kamar mandi sambil melepas kemejanya. "Sepertinya, calon istriku sudah tidak sabar ingin melihat python buas milikku."


"Bicara apa kamu? Pythonmu tidak buas lagi semenjak kamu pergi. Cih, menyebalkan!" cetus Zoya dengan bibir yang mengerucut lucu.


Ken terkekeh dibuatnya, memang selama ini pula dia belum bisa melakukan aktivitas sexs dengan Zoya. Dan dia berharap itu semua tidak membuat Zoya curiga, meskipun gadis itu kerap menggodanya.


"Tunggu saja, Baby. Pulang nanti aku akan menghabisimu!" ucap Ken seolah memberi ancaman pada Zoya.


Kemeja yang membungkus tubuh kekarnya jatuh begitu saja. Dan langsung menampilkan pahatan sempurna miliknya, ah bukan, ini milik Zoya.

__ADS_1


Namun, yang diancam malah tersenyum kegirangan. Zoya menggesek-gesek kakinya di ranjang, sambil berujar. "Habisi aku, habisi aku!"


Sumpah demi apapun, hal itu membuat Ken merasa gemas. Dia sudah tidak sabar ingin pulang, dia merindukan Zoya, sebagaimana gadis itu merindukannya.


Hingga akhirnya, tak berapa lama kemudian, Zoya kembali melihat siaran langsung kekasihnya yang sedang membersihkan badan. Semuanya masih terlihat sama, matang dan menggiurkan.


Dan semua itu, membuat inti Zoya lagi-lagi berkedut tidak karuan.


*


*


*


Daddy : Mau siaran langsung di efbe takut banyak yang nonton, jadi siaran langsungnya Ama neng joya aja deh😌


Ngothor : Emang dasarnya lu pelit, tiba ngintip ujungnya aja nggak boleh!


Daddy : Yeh, makanya cari gandengan, Thor. Jangan terus-terusan trepelingin python!


Ngothor : Iye-iye selangkangaan uler! Gue ajak Ron nanti, mau cari anaconda yang buasnya tiada tara, abis itu tinggal tawarin sama neng joya🤪


Daddy : Ngomong apa lu? Gue slepet nanti pake python.


Ngothor : Kabooorrrrrrr bapaknya python ngamokkkk🏃🏃🏃


Eh balik lagi deh, gue mau rasain di slepet pake python 🙄🙄🙄


Daddy : Bah!!!

__ADS_1



__ADS_2