Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Sore Hari


__ADS_3

Sore harinya Ron dan Siska berencana untuk kembali ke rumah orang tua wanita itu. Dan setelah ini mereka sepakat akan langsung menghuni rumah baru yang diberikan oleh Ken.


Agar rumah tangga mereka memiliki privasi dan tidak ada campur tangan dari para orang tua.


Siska menurut pada ucapan Ron, dan tidak banyak membantah. Anggukan kepala yang terlihat sangat menggemaskan itu membuat Ron selalu tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir Siska.


"Ih, Kakak. Cium-cium terus, bibir aku jontor nanti," ucap Siska sambil menahan dada Ron, kini mereka tengah membersihkan badan, di bawah kucuran shower yang menderas.


Namun, bukannya menyerah. Ron justru menangkap tubuh Siska. Menahan agar wanita itu tidak bergerak ke mana-mana. Pria tampan itu terkekeh, saat melihat bibir istrinya mengerucut lucu.


"Tapikan enak, Sayang. Kamu saja terus mendesaah tadi karena permainan Cacingku," ucap Ron menggoda.


Berhasil, pipi Siska langsung bersemu merah. Dia memalingkan wajah agar kedua matanya tidak bersitatap dengan netra milik suaminya.


"Itukan karena aku tidak sadar," jawabnya yang membuat Ron semakin terkekeh gemas.


"Itu artinya kamu suka, Sayang. Kamu sudah terkontaminasi oleh sentuhanku." Ron merapatkan tubuh mereka ke dinding. Seperti dua ekor cicak yang sedang menempel satu sama lain.


Dapat Siska rasakan Ron menggesekkan sesuatu di bawah sana, benda yang kembali mengeras menyentuh pangkal pahanya.


Bugh!


"Kenapa bangun terus sih cacingnya, aku kan capek, Kak," protes Siska, saat dia melihat ke bawah, cacing Alaska milik Ron sudah kembali tegak menantang dunia.


Mendengar itu, Ron terkekeh kecil dan mengecup bibir Siska sekilas. "Kamu mau tahu supaya dia bisa tidur nyenyak?" Tanya Ron sambil menatap Siska dengan tatapan yang entahlah, Siska tak bisa mengartikannya.


Kedua alis wanita itu terangkat, dia jadi penasaran sekarang. "Memangnya bisa? Bagaimana caranya?" Tanya Siska dengan binar polos yang semakin membuat Ron jatuh cinta.


Tanpa bicara kedua tangan Ron terangkat, dia meletakkannya di bahu Siska, dan setelahnya wanita itu merasakan tekanan pada kedua bahunya.

__ADS_1


Mengisyaratkan agar dia berjongkok, dan membuat wajahnya berhadapan langsung dengan cacing Alaska.


Kedua mata Siska membulat sempurna, dia mendongak untuk bertanya pada Ron, apa maksudnya? Untuk apa Ron menyuruhnya memposisikan diri seperti ini.


"Kak, apa maksudnya ini?" tanya Siska dengan suaranya yang sedikit terbata, merasa ragu.


Ron menyeringai tipis, lalu mencengkram rahang Siska agar wanita itu mau membuka mulutnya. "Ayo tidurkan dia." Ucap Ron dengan wajah sumringah.


Belum sempat menjawab, mulut Siska sudah penuh oleh cacing Alaska yang dijejalkan oleh Ron. Rasa aneh mulai memenuhi ruang mulutnya, sementara Ron menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi yang luar biasa.


"Oh my God, Sayang. Kamu benar-benar membuatku tidak bisa berpaling," puji Ron sambil membelai wajah cantik istrinya.


Dan detik selanjutnya, Ron mulai menggerakkan pinggulnya. Membuat Siska semakin membulatkan kedua matanya, tetapi dia tidak bisa apa-apa selain pasrah pada permainan suaminya.


Yang penting Ron tidak menghujam inti tubuhnya yang ada di bawah sana. Karena dia sudah merasa kewalahan oleh tingkah cacing besar Alaska.


Nafas Ron terengah-engah, dia berhenti sejenak dan memandang wajah cantik istrinya. "Mainkan lidahmu, Sayang." Titah Ron, karena sedari tadi Siska hanya diam seperti patung.


"Sayang berhenti!"


Siska yang mulai tak sadar tidak mendengar ucapan Ron. Ternyata tidaklah seburuk apa yang dia pikirkan. Hingga dia terus bermain dengan si cacing Alaska.


"Ah, Sayang. Aku sudah ingin meledak," ucap Ron lagi, dia benar-benar sudah tak tahan. Siska merasakan sesuatu yang aneh, dan Ron segera mengeluarkan senjatanya.


Ledakan dahsyat terjadi, seperti mengeluarkan beban yang menghimpit dadanya, Ron langsung merasakan kelegaan yang luar biasa.


*


*

__ADS_1


*


Pada pukul 5 lebih beberapa menit, Ron dan Siska sampai di rumah. Mereka langsung disambut oleh kedua orang tua Siska, sebagai menantu yang baik Ron mencium punggung tangan keduanya, dan diikuti oleh sang istri.


Ibu Siska tersenyum bahagia melihat wajah sumringah anak dan menantunya.


"Siska, sebaiknya kalian langsung istirahat saja, nanti kalau makan malam sudah siap biar Mama yang panggil," ucap wanita paruh baya itu.


Ron dan Siska menurut, pria tampan itu langsung melenggang ke arah kamar, sementara Siska hendak mengambil minum terlebih dahulu.


Di dapur, sang ibu menghampirinya. Dia senyum-senyum tidak jelas, membuat Siska mengerutkan kening.


"Gimana, Sis? Sukses?" tanya ibu Siska sambil menahan tawa gelinya.


"Sukses apanya, Ma?" tanya Siska yang memang tidak mengerti dengan ucapan sang ibu, dia menenggak air putih di dalam gelas dengan cepat saking hausnya.


"Itu lho, Sis. Bikin cucu buat Mama sama Papa. Gimana rasanya?" tanyanya lagi, membuat pipi Siska langsung bersemu merah, dia menggigit bibir bawah dan terlihat malu-malu untuk menjawab.


"Ayo dong, Sis, jawab. Mama kan penasaran," desak wanita paruh baya itu.


Siska mengangkat kepala sebentar lalu menunduk lagi. "Rasanya asin, Ma."


Eh... Bagaimana?


*


*


*

__ADS_1


Nggak tobeli neng encis? 🤣🤣🤣


__ADS_2