Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Zoya Sakit


__ADS_3

Keesokan harinya, Ken datang ke rumah sakit di mana tempatnya dulu melakukan sebuah operasi kecil, operasi yang membuatnya tak bisa membuahi para wanita yang dikencaninya.


Ya, pria itu sudah melakukan prosedur vasektomi sejak 2 tahun lalu. Dan kini, setelah kehidupannya telah berbalik 180 derajat. Ken akan membuka kembali jalur itu, dia sudah memikirkan ini semua sebelum melamar Zoya.


Menikah, dan memiliki seorang anak? Ah, sungguh itu semua adalah daftar baru yang pernah terhapus dalam catatannya. Ken mengulum senyum, mengingat wajah Zoya di setiap langkahnya menyusuri lorong rumah sakit.


Dia memilih banyak waktu di sini, karena dia tidak mungkin bisa tidak bercinta bila didekat Zoya. Dia tahu betul bagaimana gairahnya kalau sudah bersama dengan gadis itu.


Hingga akhirnya Ken mengambil ancang-ancang, mengambil waktu sebegitu banyaknya untuk masa pemulihan. Setelah itu, dia akan pulang dan meminta restu sang kakek untuk menikahi Zoya.


"Ah, Baby. Aku sudah tidak sabar ingin pulang," gumam Ken sambil menggigit bibirnya, gemas dengan bayangan wajah Zoya yang selalu mengitari otaknya.


Sementara di belahan bumi yang lain, Zoya tengah meringkuk di bawah selimut. Hari ini dia berniat untuk tidak masuk kuliah, karena kepalanya yang terasa berat sebelah.


Bahkan dia melewatkan sarapan pagi, karena tak sanggup untuk turun ke bawah.


Nora yang sudah menganggap Zoya sebagai adik, pun akhirnya merasa sedikit khawatir. Wanita itu kembali naik ke atas, dan melenggang ke arah kamar Zoya.


"Zoy," panggilnya sambil terus memberi ketukan pada benda persegi panjang itu.


Mendengar itu, Zoya menyembulkan kepalanya. Keningnya senantiasa mengernyit dengan nafas yang terasa panas. Ah, kenapa dia malah seperti ini saat Ken tidak ada.


Baru ditinggal satu hari, fisiknya malah melemah.


"Zoy, kamu ada di dalem kan?" Nora masih berteriak di luar sana, berusaha memastikan kalau Zoya memang baik-baik saja.


Sementara di dalam sana, Zoya sedikit tertatih untuk sampai di depan pintu. Sekuat tenaga dia menggerakkan kakinya untuk melangkah, disaat denyutan di kepalanya semakin melanda.

__ADS_1


Hingga akhirnya pintu kamar itu sukses terbuka dan menampilkan wajah pucat Zoya. Binar mata gadis itu hampir redup, sementara nafasnya terdengar memburu.


"Zoy, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Nora sambil memeriksa suhu tubuh Zoya. Dia sedikit tersentak, saat merasakan panas menjalar ke telapak tangannya.


"Ya Tuhan... Zoy, badan kamu panas banget."


Nora segera memapah tubuh Zoya untuk kembali berbaring, dan gadis itu sama sekali tidak menjawab. Kepalanya benar-benar terasa berat, dan dia tidak bisa melakukan apapun selain menurut pada Nora.


Wanita itu kembali turun untuk meminta Bi Lila membuat bubur, dan tak lupa dia juga menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Zoya.


Seorang pengawal yang sudah ditugaskan untuk mengawasi Zoya di mansion, segera menghubungi asisten Ron begitu mendengar gadis itu sakit.


Mendengar itu, Ron membelalakkan matanya, bagaimana bisa baru ditinggal sehari saja sudah seperti ini, kalau sampai Ken mendapat informasi Zoya sedang sakit, tuannya itu pasti akan seperti orang gila.


"Bagaimana keadaan Nona Zoya?" tanya Ron ikut merasa cemas.


Karena tadi dia melihat seorang pria dengan seragam dokter masuk ke dalam mansion ini, dia adalah dokter yang dihubungi oleh Nora, sekaligus teman akrab wanita itu.


"Baiklah, terus awasi Nona Zoya. Kalau ada kabar yang lain, segera hubungi aku."


Setelah mengatakan itu panggilan terputus. Ron melihat jam di pergelangan tangannya, saat ini tuannya pasti tengah berada di rumah sakit untuk menyiapkan jadwal operasinya.


Dia tidak mungkin mengganggu Ken, apalagi sampai membuat pria itu kepikiran tentang kondisi Zoya.


Akhirnya Ron mengurungkan niatnya untuk menghubungi pria itu. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


*

__ADS_1


*


*


Waktu bergulir, siang mulai menjelang. Keadaan Zoya kini sudah mulai membaik karena dia sudah makan dan meminum obat yang diresepkan oleh dokter yang memeriksanya.


Dia mengerjapkan kelopak matanya, lalu tangannya terulur untuk meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia menyalakan benda pipih itu, ada beberapa pesan dari Ken yang belum sempat dia baca.


Saat dia ingin membukanya, terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya. Dia melipat keningnya, dan meletakkan kembali ponsel itu sembarangan.


"Nona, ini saya," ucap Bi Lila sopan.


Mendengar itu, entah kenapa Zoya langsung menghela nafas panjang. "Masuk saja, Bi. Zoya tidak mengunci pintunya."


Gagang pintu itu mulai berputar, dan begitu sukses terbuka, Zoya melihat Bi Lila berdiri di depan sana, tetapi dengan jelas Zoya melihat bahwa wanita paruh baya itu tidak datang sendirian, dia membawa seseorang.


Papanya Raga? Untuk apa dia kemari?


*


*


*


Yang tadi nebak mau memperpanjang dan memperbesar python sini acu cubit, gemessss😩😩😩😩😩


Yang jawabannya bener kalian boleh nikmati pucuk python, tapi ngothor duluan🤣🤣🤣🐍🐍🐍

__ADS_1



__ADS_2