
Dua keluarga itu makan dengan tenang. Tidak ada yang bersuara selama hidangan utama itu tandas dari piring masing-masing. Makan malam yang terasa begitu membosankan, hingga lagi-lagi pria tampan itu memiliki otak usil untuk menggoda gadisnya.
Ken mencubit kaki Zoya menggunakan jari-jari kakinya, lalu naik untuk menggesek hingga gadis itu sedikit menggeliat geli, entah kenapa dia mudah sekali untuk tersengat, meski hanya sentuhan seperti itu yang Ken berikan.
Belum lagi intinya yang tak berpenghalang. Merasakan AC yang masuk ke sela-sela dressnya, membuatnya merasa dingin dan sejuk.
Benda di bawah sana kembali berkedut selagi Ken terus menggesekkan kakinya, mulut bawahnya menganga seolah ingin ikut makan. Tetapi hanya ular python Ken makanannya.
Zoya tidak bisa duduk dengan tenang. Dia terkadang menegakkan badannya, terkadang pula menggeliat ke kanan dan ke kiri, dan Ken hanya tersenyum di sela-sela kunyahannya.
Makan malam kali ini sedikit berwarna karena ada Zoya di sampingnya.
Sementara di ujung sana, ada Reymond yang terus memperhatikan Zoya. Sejak gadis itu masuk ke dalam restoran ini, Reymond sama sekali tak melepas pandangan mata itu, seolah terus menelisik.
Dan Imelda bisa melihat itu, dia menatap Reymond dari samping, suaminya itu tengah memperhatikan Zoya, dan hal itu membuat dia merasa geram.
Imelda mencubit paha Reymond, membuat pria paruh baya itu sedikit tersentak, lalu menatap ke arah sang istri yang sudah memberikan sorot mata menajam. Seperti sebuah peringatan.
Reymond menghentikan aksinya, dan kembali makan dengan tenang.
Hingga akhirnya mereka semua telah menyelesaikan makan malam. Kini saatnya sesi mengobrol sambil menikmati hidangan penutup yang telah tersedia di atas meja.
"Mama, Papa, Kakek. Aku belum ngenalin Zoya yah sama kalian?" ucap Nora membuka obrolan, sedari tadi anggota keluarganya pun tidak ada yang bertanya mengenai Zoya.
Mereka hanya tahu kalau gadis itu adalah teman satu kampus Raga. Sesuatu yang sangat tidak penting sekali untuk mereka ketahui.
__ADS_1
"Memangnya siapa dia?" tanya Reymond, yang terlihat penasaran tetapi tidak berani bertanya lebih dulu, karena ada sang istri yang terlihat tak suka pada Zoya.
Imelda kembali melotot mendengar pertanyaan suaminya.
Nora mengulum senyum. "Calon pacar Raga."
Uhuk!
Seseorang langsung tersedak mendengar pernyataan itu. Dan orang itu adalah Ken, dia yang tengah menikmati desert begitu terkejut dan berakhir tersedak karena mendengar ucapan Nora yang begitu mengusik gendang telinganya.
Nora dan Zoya kompak mengulurkan air putih ke arah Ken. Dan lagi-lagi Nora harus merasakan kecewa, karena air putih yang ada di tangan Zoya yang Ken ambil.
"Apa maksudmu?" tanya Ken cepat, setelah dia menghabiskan air putih di tangannya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Nora melebarkan kelopak matanya, sementara Raga menghela nafasnya berkali-kali, kenapa Nora harus bicara seperti itu, padahal ada Ken di sini?
"Ken, bicaralah yang sopan!" tegur kakek Abian, melihat Ken yang menatap Nora tak ramah.
Namun, Ken yang terlanjur kesal, tak menghiraukan teguran sang kakek. Dia sangat tidak terima Zoya disebut calon pacar pria lain. Hanya dia pacar gadis itu.
"Maaf, Kak. Aku hanya bercanda. Aku tidak ada maksud apa-apa," balas Nora meralat ucapannya yang begitu sembarangan.
Wanita itu juga lupa tentang rahasia yang harus dia jaga, permintaan Zoya supaya tidak memberitahu Ken tentang semuanya.
Ya Tuhan.... Kenapa mulutku lancang sekali? Bisa kacau semuanya, hubungan Raga dan Zoya pasti terancam.
__ADS_1
"Iya, kenapa kamu harus marah pada Nora, Ken? Dia itu hanya bicara asal-asalan, lagi pula mana mungkin Raga menyukai gadis seperti itu," timpal Imelda yang memang tidak menyukai Zoya.
"Ma!" Raga buka suara.
Dan hal itu membuat amarah Ken semakin memuncak, wanita di depannya ini seolah tengah menginjak-injak harga diri Zoya.
Ken mendengus kesal. "Lain kali jangan bicara sembarangan, jika kamu tidak tahu apa-apa! Dan untukmu, Nyonya, jaga mulut anda!"
"Ken!" bentak kakek Abian.
"Ayo pulang!" Ken lagi-lagi tidak menghiraukan kakek Abian yang menatapnya dengan sorot mata nyalang.
Dia justru mengajak gadisnya untuk pulang, gadis yang sedari tadi hanya mampu untuk menundukkan kepalanya. Hati Ken terlanjur panas berada di sini, salah sedikit dia akan langsung emosi.
Sementara kakek Theo hanya bisa memejamkan matanya, dia menghirup udara dalam-dalam. Lalu menarik tangan kakek Abian yang sudah berdiri untuk duduk kembali.
"Biarkan," ucapnya singkat.
Dan Nora hanya bisa menatap kecewa pada punggung Ken yang menjauh, bersama Zoya di belakangnya. Makan malam ini benar-benar berantakan, tidak sesuai dengan semua angan-angan yang sudah terbayang.
*
*
*
__ADS_1
Hadeuh hadeuh ribut mulu kalo sama Nora 🤧🙄