Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #20


__ADS_3

Entah sudah selarut apa sekarang. Namun, sumpah! Kedua mata Ken belum bisa terpejam. Di luar sana, suasana masih terlihat pekat, langit membentang berselimut awan hitam.


Dan Ken masih berada pada posisinya. Sama sekali tak berubah dari sejak Zoya terlelap dan masuk ke alam bawah sadarnya. Tak berbeda dengan satu tangan wanita cantik itu yang bersemayam di bawah sana.


Jari jemari lentik itu berhasil membuatnya panas dingin setelah menyisakan rasa kebas dan pedas. Karena setelah mencabuti bulu python, tangan Zoya malah berganti meremaasnya.


Kepala Ken terasa berdenyut dan kencang. Sementara senjatanya terus menerus tegak menantang, tetapi sedari tadi dia hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan pelepasan.


Ken mendesaah kesal. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan ini semua sendirian. Rasanya pria itu ingin menjerit, saking tidak kuatnya.


"Astaga, dua kepalaku nyut-nyutan semua, ini semua gara-gara Ron, berani-beraninya di mendesaah!" rutuk pria matang itu dengan wajah antara kesal dan bermuram durja.


Ken memijat pelipisnya, mencoba menyadarkan diri dari segala pikiran yang mengajaknya untuk tidak waras. Namun, lama semakin lama sentuhan itu malah semakin memijatnya.


Hingga detik selanjutnya, Ken sudah tidak bisa berkompromi lagi, dia harus merubah strategi untuk melancarkan aksinya. Ken bangkit dan mencoba untuk mengeluarkan tangan Zoya dari balik boxer miliknya.


Tak berapa lama kemudian, Zoya menggeliat sambil bergumam kecil, saat dia merasakan sentuhan basah yang menyapa kulitnya. Terasa begitu menggelitik hingga menghasilkan rasa geli bercampur nikmat.


Tubuhnya dibuat meremang-remang, meski dia sedang berada di alam bawah sadar. "Ught!" Lenguhnya, lalu menggeliat untuk memposisikan dirinya ke samping.


Harusnya ada tubuh Ken di sana, tetapi ternyata kosong, karena sang pemilik raga tengah membuat pemanasan untuk serangan fajar ala python berbisa.


Sentuhan itu tak berhenti begitu saja. Malah semakin terasa nyata, saat Ken menyesap buah kesukaannya. Tidak ada kata menyerah untuk pria tampan itu memperjuangkan hak pythonnya.

__ADS_1


Selagi Zoya tidak membuka mata dan memberinya ultimatum berupa ancaman yang membuat nyalinya menciut seketika.


Zoya merasakan kembali sesuatu yang menggelitik, menyapa dadanya kanan kiri secara bergantian. Bukannya merasa risih, dia malah terlihat keenakan, hingga senyum-senyum tanpa sadar.


Melihat perubahan wajah Zoya membuat Ken semakin bersemangat dan merasa senang. Karena pada akhirnya, dia akan kembali merenggut sarang kenikmatannya.


"Aku tahu, Baby. Kamu tidak akan tahan dengan sentuhanku, sekalipun kamu mengancam ini itu. Tetap saja kamu akan kalah, dan jatuh lagi pada buasnya si ular python yang membelitmu," ucap Ken sambil mengusap lembut wajah Zoya.


Dari kening menuju dagu runcing, lalu berlabuh pada beda ranum yang merah merekah, dan terbuka seolah memberi celah.


Begitu mudah Ken membuang semua yang melekat pada tubuh Zoya. Kain tipis yang kerap Zoya pakai, kini teronggok begitu saja di atas lantai. Bersama pakaian Ken, dan juga selimut tebal yang kerap memberi mereka sebuah kehangatan.


Lagi-lagi Zoya hanya menggeliat, saat tubuhnya merasa dingin. Karena pori-pori kulitnya langsung tersentuh dengan udara dingin yang dihasilkan oleh AC di kamarnya.


Detik selanjutnya, Zoya langsung mengangkat pinggulnya. Membusungkan dada, saat benda basah itu menyapa dan menyelinap masuk ke dalam inti tubuhnya.


"Aahhh," desahnya dengan wajah yang terlihat mulai gelisah.


Perlahan-lahan Zoya mengerjapkan kelopak matanya. Hingga kedua netra itu terbuka dengan sempurna, dan dia bisa melihat dengan jelas rambut dan kepala Ken ada di bawah sana.


"Ah, Hubby, kamu sedang apa?" tanya Zoya sedikit berteriak, karena merasa terkejut. Ken menyesap benda kenyal itu penuh kenikmatan, hingga Zoya terpejam menikmati sensasi yang luar biasa menyapa tubuhnya.


Ken mengangkat kepalanya, lalu mengungkung setengah tubuh Zoya. Memposisikan kedua tangannya di antara perut wanita itu. Ken mengulum senyum, melihat wajah Zoya yang terlihat begitu sensual.

__ADS_1


"Baby, kamu terus-terusan memegang pythonku. Kami jadi tidak bisa tidur, dan sekarang kami sedang meminta pertanggung jawabanmu," ujar Ken membuat kening Zoya langsung mengernyit heran.


"Kan ini semua karena ucapanmu sendiri, Hubby, katanya aku boleh mencabut bulu pythonmu," timpal Zoya dengan tubuh yang berusaha untuk bangkit.


Namun, terlambat! Karena Ken langsung menyergap tubuh mungil yang kini mulai berisi itu. Serangan mematikan yang tak sanggup Zoya tolak, karena sebenarnya dia pun merasa senang.


Dia tidak benar-benar marah, dia hanya ingin menggoda Ken saja, dan ternyata dia berhasil. Pria tampan yang tengah meraup bibirnya ini memang menurut pada perkataannya.


Tubuh Zoya terus terhimpit. Sementara pangkal pahanya merasakan benda panjang yang mulai berkelana mencari sarangnya.


Hingga sebuah dorongan dari tangan Ken, berhasil menyatukan keduanya. Zoya sedikit tersentak, dan terus seperti itu selagi Ken memberikan hentakan yang sangat mantap.


"Rasakan serangan fajar dari pythonku, Baby!" ucap Ken di antara lenguh yang mendera, pun dengan peluh yang sama derasnya.


Tak berbeda dengan kamar pengantin baru, di ruangan tersebut bahkan jauh lebih ramai oleh jeritan nikmat antara Ken dan Zoya.


Lagi-lagi pria tampan itu berhasil melumpuhkan lawannya.


*


*


*

__ADS_1


Jumat berkah๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


__ADS_2