Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Flashback


__ADS_3

Flashback on.


Hari itu.


Seorang remaja berseragam putih biru, duduk di kursi belakang. Kini mobil itu tengah melaju menuju ke kediamannya. Di mana dia tumbuh dan dibesarkan.


Dia terus tersenyum lebar menatap surat kelulusannya yang ada di tangan. Sebuah bukti bahwa dia telah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya.


Tak hanya karena itu dia bahagia. Dia juga merasa tak sabar menunjukkan pula nilai yang diraih kepada mama dan papanya. Pun dengan sang kakek yang tinggal bersama mereka.


"Mereka pasti akan bangga melihatnya, aku kan anak pintar," ujar pria kecil itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Kendrick Davino Tan.


Anak semata wayang dari Abraham Tan dan Ishana Moreno.


Menjadi satu-satunya pewaris di keluarga itu, membuat Ken begitu disayangi oleh sang kakek, Abian.


Pria tua itu kerap menunjukkan perhatian lebih pada Ken, karena dia tidak memiliki siapapun lagi, selain anak dan cucunya.


Saudara? Mereka hanya datang saat ada butuhnya, maka Abian tidak pernah begitu peduli dengan mereka.


Sesampainya di mansion besar itu. Ken turun dengan tidak sabaran, bahkan dia langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu sang supir.


Langkah riang remaja itu berhenti, saat dia mendapati sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di mansion orang tuanya. Sebuah mobil yang terasa begitu asing. Karena dia baru pernah melihatnya.


Lamunan Ken buyar begitu sang mama keluar dari dalam mansion membawa sebuah koper besar, menggeretnya tidak sabaran menuju mobil yang sedari tadi dia pandangi.


"Mama!" panggil Ken dengan berteriak.

__ADS_1


Membuat Ishana berhenti seketika, tetapi bukannya menggubris Ken. Wanita itu justru meminta orang yang ada di dalam mobil itu untuk membantunya.


Dan keluarlah seorang pria yang wajahnya terlihat lebih muda dari sang Papa. Yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih gelap Ishana selama ini.


Melihat itu, Ken langsung menghampiri Ishana, dan berdiri tepat di depan wanita itu. "Ma, Mama mau ke mana? Kenapa Mama membawa koper sebesar itu?" tanya Ken dengan raut wajah kebingungan.


Sementara kakek Abian memperhatikan di ambang pintu. Dia sudah mencegah sang menantu yang akan pergi, dan meminta bercerai dengan anaknya, Abraham.


Namun, Ishana tetap kukuh. Dia ingin pergi, dia bosan dengan Abraham yang tidak pernah ada waktu untuknya.


Dia pun menyatakan bahwa dia akan segera menikah dengan pria lain, karena selama ini Ishana dan kekasih barunya sudah menjalin hubungan sejak lama.


Tadi pagi sebelum Abraham berangkat ke kantor, terjadi perang di antara keduanya. Dan hal itu setelah kepergian Ken ke sekolah. Jadi lah remaja itu tidak tahu menahu.


"Ma, jawab Ken. Mama mau ke mana?" tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Karena sang mama yang terus bergeming, tak lekas menjawab pertanyaannya.


"Memangnya Mama mau ke mana? Jawab, Ma! Jawab!" Ken mulai meninggikan intonasi suaranya.


Dan meronta ketika Ishana berusaha memeluknya. Dia tidak mau seperti ini, dia ingin hidup bersama dengan keluarga yang lengkap, bukan salah satunya.


"Ken, kemari, Nak," panggil sang kakek, melambaikan tangan agar Ken mendekat.


Tetapi remaja itu justru menangis dan menatap Ishana dengan amarah yang mulai mendera. Seolah ada yang mengganjal di dadanya, rasanya sangat sakit.


"Apa Mama mau pergi dengan Om itu?" tunjuk Ken pada pria yang sudah duduk di belakang kemudi.


Melihat Ken yang menangis, Ishana pun ikut menangis pula. Sebenarnya dia tidak sanggup untuk meninggalkan Ken, tetapi dia benar-benar sudah muak dengan Abraham.

__ADS_1


Setiap hari ada saja yang mereka ributkan.


"Maafkan Mama, Sayang. Mama harus pergi," ujarnya sesenggukan, air matanya luruh terus membasahi pipi mulusnya.


Ken menggeleng tak percaya. Menolak Ishana yang pamit padanya. "Aku tidak mau, jangan pergi. Kalau Ken nakal Mama boleh pukul Ken, asal Mama jangan pergi. Ken janji, Ma. Ken akan jadi anak baik."


Ishana mulai bangkit dan salah satu tangannya mengusap kepala sang anak dengan sayang, Ken memegangi tangan Ishana dengan kuat, dia terus menggeleng memohon pada sang Mama untuk jangan pergi meninggalkannya.


"Aku sudah lulus SMP, Ma. Aku sudah besar sekarang, aku juga mendapat nilai yang bagus. Ken tidak akan lagi merepotkan, Mama. Mama tetap di sini yah," pinta Ken dengan bibir yang terus bergetar.


Air matanya tak berhenti menderas. Begitu pun dengan kakek Abian yang menyaksikan semuanya.


Dan semua ucapan Ken tidak ada yang mampu untuk merubah keputusan Ishana. Wanita itu menggeleng, dan perlahan melepaskan pegangan tangan Ken.


Membuat remaja itu semakin menangis.


Ishana melangkah dan membuka pintu mobil dengan cepat agar Ken tidak dapat mengejarnya. Dan saat itu pula kijang besi itu melaju, Ken barlari berusaha mengejarnya.


Dan kakek Abian tidak diam begitu saja, dia meminta dua pengawal mengejar Ken. Remaja yang tengah merasakan remuk di ulu hatinya.


"MAMA!!!"


*


*


*

__ADS_1


Huaaaaaaaaa Daddy gueeee nggak sanggup 😭😭😭😭


__ADS_2