Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Dilanjut


__ADS_3

"Cih, dasar bos kurang ajar!" maki Ron.


Dia menghempaskan catatan kecil itu dengan kasar ke lantai. Wajah pria tampan itu seketika berubah masam, karena merasa kesal dengan Ken yang mengganggu acara konser cacing Alaskanya.


Seperti tidak ada kerjaan saja! Tidak ada angin tidak ada hujan, malah mengirim sabun ke orang yang sedang malam pertama.


Sementara di tempatnya, Siska membekap mulut, menahan tawanya agar tidak pecah. Namun, usaha wanita itu sepertinya sia-sia, karena detik selanjutnya Siska tergelak kencang, melihat wajah suaminya yang begitu frustasi.


"Kak, sudahlah. Kamu seperti tidak tahu saja bosmu itu bagaimana. Kita harus bersyukur karena tuan Ken mengirim sabun sebanyak ini, mungkin secara tidak langsung tuan Ken menyindir kita supaya mandi terlebih dahulu sebelum melakukan itu-itu," ucap Siska menenangkan suaminya.


Dia yang masih belum mengerti kenapa Ken mengirim sabun sebanyak ini, hanya bisa mengajak Ron untuk berpikir positif.


Menyuruh mandi apanya? Dia itu mendoakanku supaya malam pertama kita gagal, dan aku main sendiri dengan sabun yang dia kirim. Cih, rasanya aku ingin melempar kotak ini ke wajahnya.


"Sayang, sudah dong. Kan bisa kita lanjutkan," ucap Siska lagi, lalu menarik tangan Ron hingga mereka kembali jatuh ke atas ranjang.


Siska mengulum senyum, lalu mengusap lembut wajah Ron yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Detik selanjutnya Siska yang lebih dulu mencium bibir pria tampan itu, hingga kekesalan Ron menguap seketika.


Bibir mereka beradu, menciptakan decapan dan desahaan yang terdengar menderu. Memecah sunyinya kamar yang dihuni si pengantin baru.


Ron semakin bernafsuu tatkala tubuhnya sudah kembali mengungkung tubuh Siska. Bahkan tangannya kini sudah membuka sebagian gaun yang dikenakan oleh istrinya.


Tanpa membuang banyak waktu, Ron sudah berhasil memoloskan tubuh Siska dan juga dirinya. Dan pada saat itu juga, Siska langsung menarik selimut yang ada di dekatnya, tapi secepat kilat Ron menarik dan membuangnya hingga jatuh ke lantai.


Siska menutup mata, dengan memeluk tubuhnya sendiri, saat tatapannya bertemu dengan kedua netra milik Ron. Serangan panik mulai memenuhi dadanya, apalagi otaknya kini mulai terkontaminasi dengan benda panjang yang menempel pada tubuh suaminya.


"Kenapa ditutup? Kamu malu?" Ron membelai lembut wajah Siska, menyisakan rasa geli bercampur dengan nikmat.


Nafas Siska tercekat, sementara semua yang dia lakukan sepertinya percuma. Karena Ron sudah berhasil mengunci kedua tangannya di atas kepala.

__ADS_1


Mau tidak mau Siska membuka mata, dan dia langsung disuguhi raga kekar suaminya yang terlihat begitu sempurna. Namun, sumpah! Dia masih terlihat ngeri dengan ukuran cacing Alaska.


"Senang tidak bertemu dengannya?" tanya Ron dengan tersenyum menggoda, suara itu berhasil membuat Siska mendongak menatap wajah tampan Ron.


Pertanyaan frontal itu berhasil membuat semburat merah di wajahnya bermunculan tanpa bisa dicegah. Hingga tanpa sadar Siska menggigit bibir bawahnya.


"Tidak usah malu, Sayang. Aku saja tidak malu," ujar Ron lagi, malam ini sepertinya dia yang akan lebih terlihat aktif ketimbang istrinya.


Siska menelan salivanya. "Kita kan baru pertama kali melakukannya, Kak. Tentu saja aku malu." Jawab Siska apa adanya.


Dia kembali menunduk, tetapi secepat itu pula Ron menggigit dagu Siska dengan manja, hingga wanita cantik itu kembali mengangkat wajahnya.


"Lihat aku, aku sudah menjadi suamimu. Dan setelah ini, kamu akan terbiasa dengan semuanya."


Sejurus dengan itu, Ron kembali menyatukan kembali bibir mereka, ciuman ganas ala pemilik cacing Alaska berhasil membuat Siska bungkam akhirnya.


Dan itu menjadi kesalahan terbesar Ron malam ini! Karena suara deringnya mengganggu aktivitas mereka yang sedang berlangsung panas.


"Ck! Apalagi sih?" decak Ron, terpaksa menghentikan kembali aksinya, sementara di bawah tubuh pria itu nafas Siska terengah-engah.


Jangan bilang yang menelponnya adalah Ken. Benar-benar tidak ada kerjaan, mengganggu orang yang sedang mencari kenikmatan.


Ron menyambar ponselnya, dan benar saja yang menelepon adalah si bos gila.


"Astaga!" Ron mendesah kecil, dan tanpa pikir panjang, Ron menerima panggilan Ken. Sementara cacing Alaskanya dibiarkan gondal-gandul kedinginan.


"Halo, Tuan?" sapa Ron lebih dulu, kesabarannya benar-benar tengah diuji sekarang.


"Halo, Pak polisi?"

__ADS_1


Ron menjauhkan ponsel dari telinga, dan mengernyitkan dahinya. "Halo, Tuan, ini saya. Ron!" Ujarnya lagi dengan suara tegas, takut Ken salah dengar.


"Halo, Pak polisi, aku ingin membuat sebuah laporan kalau istriku ini KDRT," ucap seseorang yang di seberang sana, tanpa rasa bersalah apalagi berdosa, karena sudah mengganggu sepasang pengantin yang sedang malam pertama.


Mendengar itu, Ron semakin mengernyitkan dahi, apa-apaan ini?


Polisi apa?


Di ujung sana, Zoya membulatkan matanya, dia masih mencoba meraih ponsel Ken. Dan Ken tidak membiarkan itu semua. "Hubby, jangan bercanda! Kamu benar-benar mau memenjarakanku? Hanya karena aku mencabut bulu pythonmu?" Ucap Zoya dengan suaranya yang sangat pelan, tetapi penuh penekanan.


Ken mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan menghindari Zoya yang tak mau menyerah begitu saja. "Tapi itu sakit, Baby. Sama saja kamu melakukan KDRT, aku harap hukumannya kamu tidak boleh menolak permintaan suami selamanya. Dalam keadaan apapun!"


Idih! Hukuman macam apa itu? Zoya menarik sudut bibirnya sinis. Aneh-aneh saja otak suaminya ini, mana ada yang seperti itu.


Aksi rebut-rebutan itu terus berlanjut. Hingga akhirnya tubuh kedua orang itu jatuh ke ranjang, dengan Zoya yang berada di atas tubuh Ken. Pria tampan dengan sejuta kemesuman itu langsung mengunci pergerakan istrinya.


"Kamu tidak bisa kabur lagi, Baby. Kelinci kecil yang manis, sudah masuk ke dalam kandang singa!" cetus Ken dengan seringai penuh.


Zoya tak menyerah, dia berusaha melepaskan dirinya, tetapi kedua orang itu dibuat terkejut dengan teriakan seorang wanita dari balik ponsel milik Ken.


"ARGHHH... SAKIT, KAK!"


*


*


*


Ayo Ron balas si bos sableng lu🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2