Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Prahara Ikan Tongkol


__ADS_3

Karena El yang terus-menerus merengek meminta ikan tongkol, akhirnya Ken menyuruh asisten rumah tangga untuk kembali menggoreng ikan tersebut. Sebab yang ada di piringnya adalah ikan dengan bumbu pedas.


"Tetty, itannya anah?" tanya El, melihat piringnya yang sedari tadi kosong. Tak lekas diisi oleh sang ayah.


"Sabar, Sayang. Bibi goreng dulu, punya Daddy kan pedas," jawab Ken pelan-pelan, sementara anak-anaknya yang lain terlihat sangat lahap memakan makanan mereka.


"Uwah?" El kembali bertanya dengan bibir monyong. Persis seperti orang yang tengah kepedasan.


"Iya, El kan belum besar. Nanti kalau sudah besar baru boleh makan yang pedas-pedas."


Gadis kecil itu pun patuh, dia menunggu ikannya matang sambil menggoyang-goyangkan kepala. Membuat Ken tersenyum tipis. Suka sekali jika melihat tumbuh kembang anak-anaknya.


Hingga tak berapa lama kemudian, Bi Lila kembali menghidangkan ikan goreng khusus untuk El. Hanya dibumbui seadanya agar gadis kecil itu tidak lagi marah-marah.


"Ayo sekarang El makan," ujar Ken setelah menata makanan di piring sang anak. Tak lupa dia juga menambahkan sayur, agar tubuh El menyerap nutrisi lebih banyak.


Patuh, El langsung mengambil sendok dan memakan makanannya dengan lahap. Dia seperti baru menemukan makanan yang sangat enak, dan pas di lidahnya. Membuat Ken lagi-lagi tersenyum. Dengan reflek dia mengusak puncak kepala putri bungsunya.


"Pelan-pelan makannya."


"Atut diita tama tatah!" jawab El dengan mulut penuh. Membuat keempat kakaknya menoleh.


"Ituh apa? Tok ita ndak diacih?" tanya Bee penasaran. Melihat isi piring sang adik yang tampak berbeda.


"Itu ikan tongkol namanya, Sayang." Kali ini kakek Abian yang menjawab. Pria paruh baya yang senantiasa menemani para cicitnya.

__ADS_1


Keempat bocah tampan itu kompak mengangguk-angguk. Namun, hal tersebut membuat El waspada, hingga ia langsung memeluk piring berisi ikan yang ada di hadapannya.


"Inyi itan tontol puna El. Ndak oyeh!" ketusnya dengan bibir yang mengerucut lucu.


Mendengar itu, kening Aneeq berkerut, lalu melirik ke arah perutnya yang sudah membuncit. "Ita udah ndak lapel kok."


"Iyah. Itan tontol juda ndak eyak," timpal De sambil turun dari kursinya. Lalu diikuti oleh semua saudara kembarnya, kecuali El—putri kesayangan sang ayah.


"Hei, kalian mau ke mana? Makannya sudah dihabiskan belum?" tanya Ken yang ada di ujung meja.


Kakek Abian sudah membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ken. Akan tetapi Choco lebih dulu buka suara. "Utah, Daddy. Cekalang ita au main agih."


Pria kecil itu berlari ke arah playground dan disusul oleh anak-anak yang lain. Membuat Ken menghela nafas panjang. Yang ada di pikiran anak-anaknya hanya main, main dan main, tanpa kenal lelah.


"Ya ampun, Kek. Harusnya habis ini mereka tidur. Bukan main lagi, main lagi. Nanti Zoya pulang bagaimana?" keluh Ken, sambil mengelus kepala El, agar gadis itu kembali makan.


"Nanti Kakek bilang sama Nanny mereka."


"Hah, tidak akan mempan. Kalau tidak ada Zoya anak-anak itu pasti sulit ditaklukkan. Mereka juga belum mandi lagi," kata Ken lagi dengan menggebu-gebu.


"Tetty ndak ucah mayah-mayah. Kan El ndak natal aya Kakak," ucap El, menenangkan hati ayahnya. Mendengar itu, mau tidak mau Ken pun tersenyum. Dia menghela nafas kemudian mengecup kening El.


"Iya, Daddy tidak akan marah-marah. Sekarang El habiskan makanannya."


Lantas setelah itu, Ken langsung meminta Rathi dan Nova untuk membuat susu. Harus ada sedikit pemaksaan agar anak-anaknya mau menurut.

__ADS_1


Ken datang ke playground dengan membawa lima botol susu di tangannya. "Anak-anak, sudah dulu yuk mainnya. Sekarang waktunya tidur siang."


"Api ita acih au main, Dad," jawab Aneeq. Pria kecil yang pandai sekali memprovokasi saudara kembarnya.


"Tidak ada! Sekarang kita istirahat dulu. Kalian mau nanti Mommy pulang terus marah-marah?"


Kompak, kelima bocah itu geleng-geleng kepala.


"Ya sudah, makannya sekarang tidur siang dulu."


"Cini acah bobonya," pinta Bee yang mulai menunjukkan sisi manja. Karena tidak ingin berdebat, Ken langsung mengiyakan saja.


Mereka langsung menghamparkan kasur lantai beserta bantal. Baru kemudian kelima bocah itu tidur sambil memegang botol susu masing-masing.



Ken ikut berbaring, untuk mengawasi anak-anaknya. Namun, keadaan malah berbalik. Sebab tak berapa lama kemudian, terdengar dengkuran halus dari mulut ayah lima anak itu, Ken benar-benar tertidur. Sementara anak-anaknya cekikikan.


"Acih tutu," ucap Aneeq sambil tertawa setelah memberikan botol susu pada mulut Ken yang terbuka.


***


Tuh yang tanya bentuk itan tontol 🤣🤣🤣


__ADS_1


__ADS_2