Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Satu Syarat


__ADS_3

Hari ini Ken benar-benar berangkat ke luar kota bersama sang asisten, Ron. Pria matang dengan sejuta pesona itu harus melakukan perjalanan bisnis selama dua hari, dan bisa bertambah jika memang perlu peninjauan lebih.


Rasa tak rela meninggalkan Zoya mulai mendera, padahal mobil mereka baru saja melandas ke jalan raya.


Tujuan kali ini adalah kota Bandung. Kota sejuk, dengan keindahan alam yang begitu menawan bagi setiap mata yang memandangnya.


Sedari tadi Ron terus memperhatikan tuannya dari balik kaca spion tengah. Namun, bukan wajah Ken yang terlihat sangat sumringah yang mencuri perhatian pria berpangkat asisten pribadi itu.


Beberapa tanda kemerahan yang ada di leher Ken, sedari tadi mengitari otak Ron. Dia bukan pria bodoh yang tidak tahu tanda apa itu, tapi apa iya tidak ditutupi, malah terkesan ingin semua orang tahu.


"Tuan," panggil Ron hati-hati, dia bersikap seperti itu karena akhir-akhir ini Ken berubah bak bunglon, kadang marah-marah tidak jelas.


Kadang senyum-senyum sendiri sambil memegangi ponselnya. Ah, banyak sekali pokoknya perubahan Ken setelah berhubungan dengan anak angkatnya, Zoya.


Entah hubungan seperti apa nantinya, dia tidak mau ikut pusing. Walaupun dia sering terkena imbasnya.


"Ada apa, Ron?" balas Ken dengan nada bicara yang terdengar lembut.


Tidak seperti kemarin. Rasa-rasanya Ron seperti ingin dicekik hingga mati, hanya dengan melihat sorot mata Ken.


"Itu di leher anda_"


"Ah ini? Gadisku yang membuatnya, bagus kan?" potong Ken cepat sambil tersenyum sumringah, membayangkan semalam saat Zoya menyesap dan menggigit lehernya.


Bagus matamu! Harusnya kamu itu malu, itu kan aib, tahu!


"Apa tidak sebaiknya ditutup, Tuan? Anda kan harus bertemu klien," tutur Ron memberi saran.


Demi kebaikan dan harga diri Ken, tetapi sepertinya yang diperhatikan malah tidak peduli, buktinya Ken malah mengedikan bahu, seolah tidak mau tahu.


"Kenapa harus ditutupi, ini bagus kok. Lagi pula aku ingin menghargai Zoya, kalau tidak, nanti dia marah," balas Ken bangga. Bahkan rasanya dia ingin membuka baju, agar semua orang tahu sebanyak apa Zoya membuat tanda itu di tubuhnya.


"Ah, seperti itu yah? Yah baiklah, Tuan. Terserah anda saja."


Ron mengalah.


"Tentu saja terserahku ini kan tubuhku, leherku juga bukan lehermu, kenapa kamu jadi cerewet sekali."


Ya Tuhan, rasanya aku ingin sekali menampar wajahnya. Kalau bukan Bosku, mungkin sudah aku heuhhhhh!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di Bandung, mereka langsung melandas ke penginapan. Tempat yang akan mereka singgahi selama berada di kota kembang ini.


Selagi Ron kesusahan membawa barang-barang Ken dan juga miliknya, si Tuan gila justru asyik bertelepon ria dengan wanitanya.


Benar-benar tidak memiliki belas kasih!


"Sayang, kamu sedang apa? Sudah makan belum? Aku baru sampai di hotel," ucap Ken memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai.


Sesuatu yang dia janjikan pada Zoya sebelum berangkat. Dan hari ini pula, Zoya tidak masuk kuliah, karena gadis itu ingin memulihkan tenaganya, sehari saja.


"Aku sedang makan buah, Dad. Tadi Bi Lila yang mengupaskannya. Daddy baru sampai?" jawab Zoya di seberang sana, sambil memasukkan buah ke dalam mulutnya, dan Ken bisa melihat itu, karena mereka melakukan panggilan video.


"Iya, Sayang aku baru sampai. Tapi aku sudah merindukanmu, kamu merindukanku tidak?"


"Hih, baru juga beberapa jam berpisah, sudah pintar sekali menggombalnya."


"Aku tidak menggombal, Sayang. Aku benar-benar sudah rindu."


"Iya-iya, aku percaya."


"Baby, kamu makan buah hanya sendiri? Daddy juga mau buah."


"Tidak mau buah yang itu, maunya buahmu."


Mendengar itu, Zoya langsung memberi tatapan tajam pada Ken, dan pria itu hanya terkekeh. "Boleh yah?"


"Tidak mau!"


"Sebentar saja," Ken mulai merengek.


Pria itu masuk ke dalam kamarnya, dan langsung membanting tubuh kekar itu di atas ranjang. Sementara Ron masih kulu-kilir di dalam sana.


Zoya bisa melihat itu. Tiba-tiba dia punya pikiran usil. "Daddy benar-benar mau buah juga?"


"Aaaaa akhirnya, Baby, kamu mau memperlihatkannya?" balas Ken kembali sumringah.


"Mau, asal dengan satu syarat."

__ADS_1


"Syarat apa, Sayang?"


Senyum Zoya semakin mengembang. "Cium asisten Ron dulu, baru Zoya kasih buah." gadis itu terkekeh kecil, membayangkan Ken yang mencium asisten Ron.


Wajah sumringah Ken memudar seketika. "Sayang, apa tidak ada syarat yang lain?"


"Tidak ada, hanya itu yang Zoya mau? Ingat, Daddy harus mengarahkan kameranya, biar Zoya lihat."


"Masa seperti itu sih, Baby?"


"Kalau tidak mau ya sudah. Aku matikan panggilan ini."


"Cih, iya-iya baiklah. Semuanya demi buah," Ken akhirnya setuju. "Ron!" panggil pria itu, sebelum sang asisten melengang ke kamarnya.


"Iya, Tuan."


Ron buru-buru menghampiri Ken, berdiri tepat di hadapan sang tuan yang kini ikut berdiri pula. Dia menundukkan kepalanya tanda hormat pada pria itu.


Bersama Zoya benar-benar merubah sikap Ken, bagaimana bisa dia ingin memenuhi syarat gadis itu hanya karena ingin melihat dua bulatan kesukaannya.


"Ron, angkat kepalamu dan jangan berpikir macam-macam setelah ini!"


Mendengar perintah itu, Ron langsung mengangkat kepalanya tanpa curiga, dan cup!


Sebuah kecupan melandas begitu saja di pipinya, membuat dia membatu sementara yang di ujung sana tergelak kencang, menyaksikan keberanian pacarnya.


"Aaaa.... Sayang sudah, aku sudah menciumnya. Cih, bibirku jadi gatal rasanya," adu Ken pada Zoya. Dan Zoya justru semakin tertawa keras, menertawai kekonyolan Ken.


Sementara Ron masih bergeming, lalu memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Ken.


Apa-apaan dia ini? Apa dia sudah tidak waras? Menodai kesucian pipiku yang belum pernah dicium oleh seorang wanita?


Dia benar-benar sudah gila!


*


*


*

__ADS_1


Aturan neng Zoya kasih syaratnya cium othor, jangan cium asisten Ron😏😏😏



__ADS_2