
Ken merasa jengah sekali melihat senyum Ron. Setiap kali dia menoleh ke belakang, asistennya itu tengah melengkungkan bibirnya. Dan hal itu benar-benar mengerikan di mata Ken.
Cih, bisa-bisanya dia tersenyum selebar itu. Awas saja!
Ken melirik tajam, ekor matanya sudah seperti silet yang hendak menyayat tubuh musuhnya. Padahal Ron tidak melakukan apa-apa, bahkan bersuara saja tidak, apalagi sampai mengganggu tuannya.
Namun, sungguh pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata ini tidak bisa ditebak apa maunya. Dia mendengus kasar, lalu menatap kembali layar menyala di depan sana.
Sambil bekerja, dia memikirkan sebuah cara agar Ron tidak bisa menandingi kekuatannya. Hilih! Kekuatan apa yang kamu maksud wahai pemuja slengki?
Seketika ada senyum kecil yang tersemat di bibir Ken. Saat otaknya telah menemukan gagasan yang sangat pas untuk menghentikan kegilaan Ron. Malas sekali jika dia harus melihat sikap Ron yang seperti itu, pasti matanya akan sakit.
Kita lihat, kamu bisa macam-macam tidak denganku. Ku tebas lehermu nanti kalau sampai membuatku kesal!
Ken hanya bisa bergumam dalam hati, sementara jari-jarinya dengan lihai berselancar di papan keyboard.
Dan tak berapa lama kemudian, Ken berhasil menyelesaikan satu pekerjaannya yang tidak bermutu sama sekali. Namun, hal itu sukses membuat dia cengar-cengir sendiri.
"Ron, buka emailku!" titah Ken dengan tatapan menyebalkan.
Seseorang yang ada di belakang sana langsung mengangkat kepala. Karena merasa namanya dipanggil dan mendapat perintah.
Tanpa bicara Ron langsung membuka email yang baru saja dikirim oleh Ken. Wajahnya mulai menampakkan raut aneh, begitu dia membaca poin demi poin yang tertera di dalam sana.
"Poin 3, dilarang tersenyum pada istri, melanggar denda 5 persen dari gaji, bila patuh bonus akan ditambah 10 persen." Ron membacanya dengan menelan ludah. Merasa tak percaya, Ken bisa membuat peraturan seperti itu.
Bosnya ini benar-benar tidak ada kerjaan!
Kening Ron semakin mengernyit, begitu membaca 15 poin larangan yang diberlakukan sejak hari ini, larangan yang dibuat khusus untuk dirinya. Ken sungguh gila!
Ron menatap Ken yang tengah menggerakkan kursinya, terlihat begitu santai setelah membuat dirinya nyaris kehabisan nafas.
"Hei, Tuan. Mana ada peraturan seperti ini?" protes Ron dengan wajah yang terlihat tak habis pikir.
Namun, mendengar itu, Ken justru tersenyum sumringah, suka sekali kalau Ron sudah frustasi dan mendesaah kesal karena ulahnya. Dia memutar kursi kebesarannya, menatap Ron yang berdiri dengan raut wajah yang sulit untuk digambarkan.
Ah, dia benar-benar ingin tertawa sekarang.
__ADS_1
"Tentu saja ada, kan aku yang membuatnya," jawab Ken tanpa beban, membuat mulut Ron semakin menganga lebar.
"Masa senyum saja tidak boleh? Bahkan sebelum aku dan Siska menikah tidak ada larangan untuk senyum-senyuman," timpal Ron lagi, tidak boleh! Larangan ini tidak boleh jadi!
"Karena kalian sudah menikah, aku membuatnya. Kamu tahu tidak, senyummu itu membuatku sakit mata! Aku jadi tidak konsen bekerja!" cetus Ken dengan membusungkan dada. Memumpuk kepercayaan diri, bahwa apa yang dia lakukan tidaklah salah.
Dan kali ini Ron terlihat tidak mau kalah. "Kalau begitu Tuan tidak usah melihat saya. Agar anda itu tidak sakit mata." Jawab Ron yang membuat Ken seketika mendelik.
Dia bangkit dari kursinya, dan bertolak pinggang. Kedua pria yang tidak sadar dengan usia ini benar-benar terlihat seperti bocah lima tahun yang tengah berebut sebuah mainan.
"Jadi kamu mau dipecat?"
Gubrak!
Ron langsung melebarkan kelopak matanya. Sementara mulutnya yang sudah mangap reflek mengatup mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ken.
"Buk-bukan seperti itu, Tuan," jawab Ron dengan suara merendah. Bisa ikutan gila kalau dia terus meladeni tuannya.
Ken semakin memancing Ron. "Lalu apa? Kamu bilang supaya mataku ini tidak melihatmu, dan satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah memecatmu. Cih, benar-benar kamu yah, Ron. Mentang-mentang sudah menikah, sekarang tidak patuh padaku lagi. Kamu berubah!"
Eh, ini drama apa lagi sih?
Ya Tuhan...
Ron benar-benar ingin tenggelam.
"Tuan_"
"Sudahlah, kamu memang tidak ikhlas kan bekerja denganku?" tanya Ken dengan suara melemah.
Ron semakin gelagapan. Nafasnya hampir saja hilang.
Dan akhirnya, mengalah adalah pilihannya. Sebagai seseorang yang waras, lebih baik dia menyudahi drama ini, drama yang hanya dapat menyiksanya.
"Iya-iya, baiklah. Saya akan mengikuti semua peraturan ini, Tuan. Supaya anda tidak sakit mata," ucap Ron mengalah. Sumpah demi apapun, sebenarnya dia ingin mengumpat. Kenapa Ken jadi seperti ini sih?
Mendengar itu, Ken baru tersenyum lebar. Merasa menang.
__ADS_1
Kena kau!
*
*
*
Malam harinya, Ken sudah berbaring dengan Zoya yang duduk di atas perutnya. Dan semua ini bukan kemauan wanita itu, pria matang yang berada di bawah tubuhnya, yang meminta dia untuk naik.
Dan entah sebab apa, kini Ken merengek meminta dibuatkan tanda kepemilikan di lehernya.
"Ayo, Baby. Buatkan yang banyak," pinta Ken pada isterinya.
Kening Zoya mengeryit. "Buat apa, Hubby, kamu minta aku membuatkan tanda itu banyak-banyak di lehermu?"
Namun, bukannya menjawab, Ken justru menarik lengan Zoya, agar wanita itu jatuh ke dadanya dan lekas melakukan apa yang dia minta.
Patuh, akhirnya Zoya mulai menyesap leher Ken, pria tampan itu mendesaah, saat rasa geli nan basah memenuhi salah satu titik sensitifnya. Dan semua itu sukses membangkitkan gairahnya.
"Baby," panggil Ken dengan mata setengah terpejam.
Yang dipanggil langsung mengangkat kepala, karena merasa sudah banyak dia membuat tanda yang Ken minta. "Sudah, Hubby." Ucap Zoya.
Kemudian memandang wajah Ken yang sudah berselimut kabut hasrat yang menggelora.
"Baby, aku juga mau yang lain," rengeknya.
Haish!
*
*
*
Bayi gede lu nyusahin ya, Neng? 🤣🤣🤣
__ADS_1
Inget, hari ini, hari Senin oy, Senin oy😚😚😚