
Zoya mencebik kesal karena benda berbentuk segitiga itu benar-benar robek, dan tidak bisa digunakan. Bagaimana bisa dia duduk di tempat umum, sementara intinya tidak memakai penutup?
"Cih, Daddy benar-benar menyebalkan!" rengek gadis itu dengan wajah yang cemberut, bahkan alisnya menaut seram.
Namun, di mata Ken, Zoya tetaplah kelinci kecil yang menggemaskan. "Maaf, Sayang. Mau pakai punya Daddy? Ada tuh di koper, tapi Daddy ambil dulu di bagasi." Tawar pria itu.
"Ishhh, aneh-aneh aja. Kebesaranlah Daddy."
Pria tampan itu terkekeh kecil. "Ya terus harus bagaimana, Baby?" Ken meraih pinggang ramping itu lagi, lalu menciumi leher Zoya, gadis itu melengos dan mendorong dada Ken agar menjauh dari tubuhnya.
Bahkan tak segan memukul, saking kesalnya.
"Tahu ah, aku mau turun! Nanti yang ada mereka curiga kalo kita terlalu lama," cetus Zoya. Membuat Ken menghela nafas, kalau saja tidak ada sang kakek dan keluarga Nora.
Dia tidak akan mungkin menyia-nyiakan waktu bersama Zoya. Hanya bermain satu kali, terasa tak cukup untuknya. Yang dia inginkan sekarang mencapai puncak nirwana sepuasnya.
Akhirnya setelah Zoya merapikan penampilannya, gadis itu turun dari mobil Ken, dia melangkah dengan sedikit merapatkan kakinya, merasa kurang nyaman.
Sementara Ken dari dalam sana hanya terkekeh geli, memperhatikan gadisnya yang berjalan seperti anak bebek.
__ADS_1
Zoya kembali ke meja makan, pura-pura keluar dari kamar mandi dengan langkah yang tergesa, rambutnya yang semula kering kini terlihat lepek, membuat beberapa orang di sana langsung menatap aneh ke arah Zoya.
Terlebih Raga.
"Zoy, kamu baik-baik aja? Kok lama di toiletnya, kamu juga keringetan gitu?" tanya Raga dengan raut wajah cemas, takut terjadi sesuatu pada gadis yang dicintainya itu.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Zoya sedikit gugup, tetapi segera dia tepis dengan uluman senyum. "Aku hanya sakit perut, Ga. Mungkin karena terlalu banyak makan makanan pedas." Jawabnya bohong.
"Ya ampun, mau aku beliin obat?" tanyanya lagi perhatian.
"Makan dulu aja, Ga. Nanti baru kamu antar Zoya pulang sekalian ke apotik," timpal Nora, menengahi kedua remaja itu, dia tahu bagaimana Raga menyukai Zoya.
Sementara di samping gadis itu kosong, karena pastilah itu kursi untuk Ken yang sengaja disisakan oleh Nora.
"Nora, kenapa Ken lama sekali? Coba hubungi dia," ujar Imelda, sedari tadi mereka menunggu, tetapi tak terlihat juga batang hidung Ken. Mereka hampir jamuran, menunggu sampai satu jam.
"Sabar, Ma. Mungkin dia terjebak macet. Aku telepon Kak Ken dulu," balas Nora, meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi Ken. Namun, dia yang selalu celingukan akhirnya bisa melihat pria tampan itu berjalan melewati pintu masuk.
Seketika senyum Nora mengembang, bak sang putri yang menunggu pangerannya datang. "Itu, Kak Ken." Tunjuk Nora girang.
__ADS_1
Semua orang melayangkan tatapan mereka ke arah pintu, di mana seorang pria dengan balutan jas berwarna abu-abu terang tengah melangkah dengan gagah.
Senyum Nora semakin mengembang begitu Ken sampai di depan matanya. Pria itu segera menarik kursi kosong yang tersedia, dan mendudukkan dirinya di sana.
"Maaf menunggu lama, perjalananku cukup macet, ada pula hal lain yang harus aku kerjakan lebih dulu," ucap Ken ambigu, ekor matanya sedikit melirik Zoya, lalu dia tersenyum pada semua orang yang hadir di sana. Termasuk kedua calon mertuanya.
"Tidak apa-apa, Kak. Kami semua mengerti," balas Nora, memberanikan diri mengusap lengan Ken di depan keluarganya.
Ken ingin menepisnya, tetapi karena dia masih memiliki sedikit sopan santun, demi menjaga nama baik kakeknya, Ken hanya bergeming.
Sementara di bawah sana, kakinya keluar dari sepatu yang dia kenakan, dan mencapit kaki Zoya. Gadis itu hanya menelan ludahnya, Ken benar-benar pria yang tidak bisa dikendalikan dengan mudah.
*
*
*
__ADS_1
Kapan nggak nackalnya 🙄🙄🙄