
Akhirnya malam itu Ken dan Zoya tidur di kamar si kembar. Bayi-bayi kecil itu berjejer di atas ranjang, dan pastinya Baby A berada didekat Zoya, sementara El yang paling ujung menggeliat dalam pelukan Ken.
Para baby sitter menempati kamar sebelah, mereka tidak butuh 2 atau 3 kamar, karena satu kamar saja sudah cukup untuk mereka berlima.
Dari tempatnya, Ken mengulurkan tangan, menggapai puncak kepala Zoya dan mengusapnya pelan. Wanita itu mengangkat kepala, hingga pandangan mereka bertemu.
Ken mengulum senyum tipis. "Tidurlah, Sayang. Dan untuk kalian para Baby, jangan ganggu Mommy, Mommy mau tidur. Terutama kamu, An! Jangan buat Mommy susah. Cukup Daddy saja yang susah dapat jatah."
"Daddy," rengek Zoya, mendengar kalimat terakhir Ken. Pria tampan itu terkekeh, tangan kekar Ken turun dan bermuara di pipi Zoya.
"Just kidding, Baby. Malam ini aku akan mengalah," ujar Ken, mengusap bibir Zoya sambil menatap wanita yang sangat dicintainya itu dengan penuh damba.
Pipi Zoya seketika memerah. Dia mengangguk lalu menangkap punggung tangan Ken, sementara pria itu langsung melayangkan kaki kanannya, hingga bertengger di kedua Zoya.
"Kita pelukan kaki saja malam ini," ucap Ken, membuat Zoya terkekeh kecil, suaminya ini memang selalu bisa meredam rasa kesalnya, bahkan kalau Zoya sadar, Ken itu sebenarnya selalu mengalah.
Kalau mengingat itu semua, terkadang Zoya merasa bersalah. Ia merasa tidak bisa menjadi ibu sekaligus istri yang baik. Namun, Ken selalu meyakinkan istrinya itu, bahwa tidak akan pernah ada wanita lain, yang mengisi hati Ken selain Zoya seorang.
You are number one, and the last.
Ken yang merasa pegal karena tangannya terulur memanjang, akhirnya menarik diri, dia dan Zoya hanya saling pandang. Ken tidak akan tidur, sebelum istrinya terlelap lebih dulu. Sebuah senyum kecil menjadi penutup malam ini, Zoya mulai masuk ke alam bawah sadar.
__ADS_1
Ken bangkit dari ranjang dengan pelan-pelan, dia melangkah ke arah Zoya, menarik selimut dan mengecup kening istrinya dengan kecupan dalam. "Selamat tidur, Sayang. Maaf, karena aku masih banyak kekurangan. Tapi aku harap, semua kekuranganku tidak membuat kamu pergi, berjanjilah untuk tetap di sini. Karena tanpamu adalah ketakutan terbesarku, aku takut tidak bisa hidup dengan normal, saat kamu meninggalkanku. Zoy, percayalah tidak akan pernah ada seorang pun yang sanggup menggantikan posisimu di hatiku."
Ken mengecup kembali puncak kepala Zoya, kini terasa jauh lebih lama. "I love you, Baby. I love you so much."
***
Sementara di tempat lain, tepatnya di kamar Ron dan Siska. Pria itu sedang mengelus punggung istrinya, akhir-akhir ini Siska mengeluh tidak bisa tidur, karena usia kandungannya yang semakin besar.
"Bagaimana, Sayang? Apa ini nyaman?" tanya Ron, di balik punggung yang semakin terasa lebar itu. Siska mengangguk, suka sekali kalau sudah diusap-usap seperti ini.
"Enak, Kak. Dedeknya suka," jawab ibu hamil itu sambil terus merasakan kenyamanan yang dibuat oleh tangan kekar suaminya.
"Enggak dong, Papi. Dedek nurut lho ini." Siska menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Mendengar itu, keduanya terkekeh, merasa lucu.
Rasa tak sabar semakin menghampiri keduanya. Ron melesakkan wajahnya di ceruk leher Siska, sementara tangannya tak berhenti bergerak, semakin naik hingga bermuara dia puncak gunung Himalaya.
"Kita buat jalan lahir yuk, Sayang," celetuk Ron, membuat Siska langsung mengangkat kedua alisnya.
"Jalan lahir? Pakai apa, Kak?"
"Lho, kemarin memangnya kamu tidak dengar dokter menyarankan apa?"
__ADS_1
Siska semakin mengeryit. "Saran apa? Yang mana?"
"Sayang, dokter kemarin bilang, berhubungan di saat kandunganmu sudah besar itu bagus, biar dedeknya mudah keluar," jelas Ron, Siska mencoba mengingat-ingat. Kemarin dokter kandungannya memang menyarankan seperti itu.
"Aku juga dengar dari Zoya katanya kalau sudah melahirkan, suami minum ASI juga, memang iya yah, Kak?" tanya Siska, kini dia sudah membalikan badan, menghadap suaminya.
Ron tersenyum kecil, dia mengangguk cepat membenarkan pertanyaan Siska. "Tentu saja, kan aku juga butuh asupan tenaga. Kalau tidak nanti aku tidak semangat bekerja."
Siska mengangguk-angguk tanda mengerti, sementara Ron terkekeh kecil. Kenapa mudah sekali membodoh-bodohi wanita satu ini. Dia jadi gemas sendiri.
"Sekarang saatnya membuat jalan raya untuk si kecil, kita kerja rodii malam ini."
*
*
*
Komen likenya jangan kendor๐๐๐
__ADS_1