
Hari berlalu sangat cepat.
Siang itu Ron mendapat telepon dari ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu memberitahu Ron, bahwa istrinya akan segera melahirkan, mendengar itu Ron langsung bergerak gelisah. Dia mematikan panggilan sang mertua dengan terburu-buru dan segera masuk ke ruangan Ken.
"Tuan," panggil Ron dengan nafas terengah-engah, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang sudah menyapa.
"Ada apa, Ron? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ken dengan kening mengerut.
"Maaf, Tuan. Sepertinya saya harus pulang cepat. Istri saya akan melahirkan, jadi saya harus menemaninya," jelas Ron dengan cepat. Kakinya sudah tidak sabar ingin melangkah, sebab rasanya begitu lama menunggu Ken bicara.
"Kalau begitu pulanglah, bawa mobilku saja. Hati-hati, Ron, tetap utamakan keselamatan. Karena ada bayi kecil yang menunggu kehadiranmu," ucap Ken sambil menepuk bahu kekar Ron.
Pria tampan itu mengulum senyum. Dibalik sifat gila Ken, bosnya itu tetaplah pengertian. Salah satu alasan yang membuat Ron bertahan dan terus mengabdi pada keluarga Tan.
Ron mengangguk patuh, dia akan mengingat semua pesan Ken. Dan akhirnya setelah mendapat izin, Ron segera berlari keluar. Dia mengemudikan mobil itu menuju rumah sakit, di mana Siska berada. Semoga saja keadaan istri dan anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
"Sayang, aku benar-benar takut. Aku takut kamu kenapa-kenapa," gumam Ron seraya menggigit kepalan tangannya. Tak dipungkiri rasa cemas itu memenuhi dadanya.
Sebentar lagi dia dan Siska akan resmi menjadi orang tua. Namun, sungguh dari beberapa informasi yang ia dengar, melahirkan itu sangat menyakitkan. Dia takut Siska tidak akan mampu melakukannya.
Hingga lewat tiga puluh menit, akhirnya Ron sampai di sebuah rumah sakit di mana ia dan Siska biasa melakukan pemeriksaan. Ron kembali berlari menuju ruang persalinan, dan ternyata sudah ada dua keluarganya.
"Ron!" panggil sang ibu, Ron susah berkaca-kaca, dia menyalimi semua orang. Begitu sampai pada ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu langsung menepuk bahu Ron.
"Nak, ayo cepat! Siska sudah masuk pembukaan sembilan. Sebentar lagi dia akan melahirkan," ucapnya membuat sekujur tubuh Ron menegang.
Namun, walaupun demikian, Ron tidak mau membuat Siska menghadapi ini sendirian. Ron mengangguk, dan mereka masuk bersama.
"Kakak, sakit," keluh wanita itu, membuat Ron merasa pilu. Dia seperti ikut merasakan penderitaan Siska. Ron melangkah dengan cepat, dan langsung menggenggam tangan istrinya.
Ron mengecupi seluruh wajah Siska, seolah memberi wanita itu kekuatan. "Sabar, Sayang. Ada aku di sini, kalau kamu merasakan sakit, pukul aku saja, atau lakukan apapun yang bisa mengurangi rasa sakitmu. Aku tidak akan membuatmu merasa sendirian, kita hadapi ini sama-sama yah. Bukankah kita sudah tidak sabar ingin melihat Baby Caka?" Ucap Ron dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Sebenarnya Ron juga sangat takut. Namun, ia selalu berusaha untuk menutupi semuanya, agar Siska percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Siska tersenyum dalam tangisnya. Kontraksi itu semakin terasa nyata. Wanita itu mencengkram kuat tangan Ron. "Aku akan melakukan apapun untuknya. Aku pasti bisa, 'kan, Kak?" Tanya Siska sambil meringis, dia merasakan punggungnya seperti tersengat.
Ron mengangguk, ia kembali mengecupi wajah Siska, kini pria tampan itu sudah ikut menangis. Tidak sanggup melihat istrinya yang tersiksa seperti ini. "Kamu pasti bisa, Sayang. Kamu pasti bisa!" Balas Ron memberi semangat.
Tiba-tiba Siska memekik, dia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Ron. "Kak, ini sangat sakit. Kak perutku sakit!" Jerit wanita itu, ia merasakan sesuatu yang menggeliat mencari jalan keluar, menyisakan rasa sakit yang luar biasa hebatnya.
Ron langsung berteriak memanggil dokter, situasi mulai tak terkendali. Namun, dokter menyarankan agar semua orang tenang, supaya proses persalinan dapat berjalan dengan lancar.
Dokter memberi aba-aba, sementara Siska menarik nafas dalam-dalam dan mengikuti semua instruksi dari dokter tersebut. Dia mencakar Ron, dan berusaha untuk ikut mendorong bayinya agar keluar.
"Kamu pasti bisa, Sayang. Mami Caka pasti kuat," bisik Ron, tetapi Siska tidak bisa mendengar jelas, ia hanya fokus pada rasa yang menghujam di tubuhnya.
Hingga tak berapa lama kemudian, di saat helaan nafas panjang, suara tangis bayi laki-laki memenuhi ruangan. Siska tersenyum, melihat buah cintanya bersama Ron berhasil ia keluarkan.
__ADS_1
Tangis Ron ikut pecah, ia kembali menghujani Siska dengan banyak ciuman dan berterima kasih sebanyak-banyaknya. Terima kasih, karena sudah mau mengandung dan melahirkan putranya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku mencintai kalian."